Demam Kripto Bergeser, dari Bitcoin ke Token Aneh Berisiko Tinggi
- Setelah setahun terakhir ramai-ramai menimbun bitcoin, kini banyak perusahaan publik di Amerika Serikat (AS) mulai mengalihkan pandangan ke token-token kripto yang kurang populer dan berisiko tinggi.
Pergeseran ini terjadi di tengah jenuhnya pasar bitcoin, pelemahan harga, dan upaya baru para emiten mencari keuntungan atau imbal hasil cepat di tengah euforia aset digital.
Mengutip Reuters, Selasa (11/11/2025), lonjakan minat terhadap aset kripto semula dipicu oleh sikap ramah terhadap kripto dari Presiden AS, Donald Trump, serta kesuksesan spektakuler Michael Saylor melalui perusahaan Strategy, yang menjadikan bitcoin sebagai harta karun korporasi.
Namun tren itu kini berkembang lebih liar. Menurut laporan firma hukum DLA Piper, hingga September lalu sudah ada 200 perusahaan digital asset treasury (DAT) dengan kapitalisasi gabungan mencapai 150 miliar dollar AS, melonjak lebih dari tiga kali lipat dalam setahun.
Masalahnya, semakin banyak perusahaan yang terjun bukan karena strategi investasi matang, melainkan ingin menumpang sensasi kripto. Ketika harga bitcoin melemah, mereka justru beralih ke token-token yang jauh lebih spekulatif.
Dalam beberapa pekan terakhir, Greenlane mengumumkan akan menimbun token BERA, OceanPal memborong NEAR, dan Tharimmune membeli Canton Coin.
“Perusahaan-perusahaan DAT mulai berekspansi ke aset digital yang makin eksotis dan tidak likuid. Di situlah risikonya melonjak,” kata Cristiano Ventricelli, Vice President dan Senior Analyst untuk aset digital di Moody’s Ratings.
“Ketika pasar jatuh, tekanan terhadap nilai saham perusahaan-perusahaan ini akan berlipat ganda,” paparnya.
Sejak April, banyak perusahaan DAT mendanai pembelian token melalui private placements atau PIPEs, yakni penjualan saham langsung ke investor privat dengan harga diskon. Strategi ini memang cepat menghasilkan dana, tetapi menimbulkan efek samping berupa dilusi saham dan volatilitas harga saat masa penguncian berakhir.
Berdasarkan analisis Reuters, lebih dari 40 perusahaan DAT mengumpulkan dana total 15 miliar dollar AS melalui PIPEs sepanjang April–November, namun hanya segelintir yang benar-benar berfokus pada bitcoin.
Ketika pasar terseret isu perang dagang AS-China pada 10 Oktober lalu, dampaknya terasa langsung. Saham BitMine, penimbun ether, anjlok 11 persen, sementara Forward Industries, investor di Solana, merosot 15 persen. Bahkan Strategy, pionir di sektor ini, ikut terkoreksi hampir 5 persen.
“Euforia memang sudah mereda, tapi bisa saja muncul lagi jika pasar kembali panas,” ujar Peter Chung, Kepala Riset di Presto Research.
Fenomena ini memperlihatkan betapa rapuhnya sektor yang mengandalkan popularitas kripto semata. Data The Block mencatat sedikitnya 15 perusahaan treasury bitcoin kini diperdagangkan di bawah nilai aset kripto yang mereka miliki, setelah sebelumnya sempat diperdagangkan dengan premi tinggi.
Menurut estimasi 10x Research, investor ritel telah kehilangan sekitar 17 miliar dollar AS akibat anjloknya saham-saham DAT tersebut.
Beberapa emiten seperti ETHZilla dan Forward Industries kini berusaha menahan kejatuhan dengan melakukan buyback saham. Namun, banyak analis meyakini langkah itu hanya sementara.
“Sebagian besar perusahaan treasury kripto pada akhirnya akan diperdagangkan dengan diskon terhadap nilai aset digital mereka,” ujar Michael O’Rourke, Chief Market Strategist di JonesTrading.
Standard Chartered memperingatkan bahwa perusahaan DAT kini menguasai sekitar 4 persen dari seluruh bitcoin di dunia, 3,1 persen ether, dan 0,8 persen solana, cukup besar untuk mempengaruhi harga pasar kripto global. Karena itu, setiap guncangan di saham-saham DAT dapat menular langsung ke pasar digital.
Kyle Samani, Ketua Forward Industries, mengaku perusahaannya masih percaya diri. Ia menyebut buyback sebagai cara mengembalikan nilai bagi pemegang saham ketika harga saham jauh di bawah nilai intrinsiknya.
Namun, tidak semua perusahaan DAT bisa mengandalkan nasib baik. “Kalau perusahaan hanya duduk diam dan berharap tokennya naik, cepat atau lambat mereka akan hancur,” tegas Marius Barnett, Ketua SUI Group, yang kini bahkan meluncurkan stablecoin sendiri untuk menjaga nilai perusahaannya.
Tag: #demam #kripto #bergeser #dari #bitcoin #token #aneh #berisiko #tinggi