Ulah Turis BAB di Halaman Rumah Warga, Kota di Jepang Batalkan Festival Bunga Sakura
Ilustrasi Taman Bunga Sakura di Fushoushan Farm di Lishan, Taiwan.(SHUTTERSTOCK/WENILIOU)
07:35
8 Februari 2026

Ulah Turis BAB di Halaman Rumah Warga, Kota di Jepang Batalkan Festival Bunga Sakura

Sebuah kota di Jepang yang berada di dekat Mount Fuji memutuskan membatalkan festival bunga sakura tahunan setelah lonjakan wisatawan dinilai sudah tak lagi bisa ditangani warga lokal.

Pemerintah Kota Fujiyoshida menyatakan bahwa membludaknya turis selama musim sakura memicu kemacetan kronis, masalah sampah, hingga perilaku yang dianggap melanggar privasi warga.

Sejumlah penduduk bahkan mengaku turis masuk ke pekarangan rumah tanpa izin, membuka pintu rumah untuk menggunakan toilet, bahkan buang air di kebun pribadi, melansir BBC, Jumat (6/1/2026).

Baca juga: Biaya Trip ke Jepang 2026 Musim Sakura Turun hingga 20 Persen

Kawasan ini memang menjadi tujuan favorit setiap musim semi karena pemandangan bunga sakura yang bermekaran dengan latar Gunung Fuji. Namun menurut Wali Kota Fujiyoshida, Shigeru Horiuchi, kondisi tersebut justru mulai mengancam ketenangan hidup warga.

“Untuk melindungi martabat dan lingkungan hidup warga kami, kami memutuskan menghentikan festival yang sudah berjalan selama 10 tahun,” ujar Horiuchi saat mengumumkan pembatalan festival.

Festival sakura di Arakurayama Sengen Park mulai digelar pada 2016 dengan tujuan meningkatkan daya tarik wisata dan menciptakan suasana yang lebih hidup. Taman ini dikenal menawarkan panorama kota dari atas pagoda serta sejumlah spot foto populer yang kerap viral di media sosial.

Namun, pemerintah kota menilai jumlah wisatawan meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir hingga melampaui kapasitas kota.

Baca juga: China Larang Warganya Liburan ke Jepang, Batalkan 49 Rute Penerbangan

Fenomena overtourism ini disebut berdampak serius terhadap kehidupan warga, terutama saat puncak musim sakura ketika jumlah pengunjung bisa mencapai sekitar 10.000 orang per hari.

Lonjakan tersebut dipicu oleh beberapa faktor, termasuk melemahnya nilai yen dan popularitas media sosial. Otoritas setempat juga melaporkan perilaku wisatawan yang membuka pintu rumah warga tanpa izin, menerobos area pribadi, membuang sampah sembarangan, hingga buang air di halaman rumah penduduk dan memicu keributan saat ditegur.

Meski festival resmi dibatalkan, pemerintah Fujiyoshida tetap bersiap menghadapi peningkatan jumlah wisatawan pada April dan Mei.

Pembatalan ini menambah daftar langkah Jepang dalam menghadapi dampak pariwisata berlebih.

Sebelumnya, pada 2024, otoritas di Fujikawaguchiko sempat memasang penghalang besar di salah satu spot foto ikonik Gunung Fuji untuk menekan perilaku wisatawan yang dinilai meresahkan warga.

Tag:  #ulah #turis #halaman #rumah #warga #kota #jepang #batalkan #festival #bunga #sakura

KOMENTAR