BYD Hadapi Tekanan, Penjualan Merosot dan Saham Turun
– Penjualan mobil listrik BYD, salah satu raksasa otomotif asal China, merosot ke level terendah sejak Februari 2024. Data Januari 2026 menunjukkan perlambatan yang berdampak pada harga saham BYD, yang tercatat turun selama beberapa pekan terakhir
Kemerosotan penjualan ini menjadi sinyal tantangan yang semakin besar bagi pasar otomotif terbesar di dunia. Selain menurunnya permintaan domestik di China, kelebihan produksi mobil juga mulai menyebar ke pasar global.
Sejak 1 Januari 2026, pemerintah China menghapus insentif pajak pembelian kendaraan listrik dan kembali memberlakukan pajak sebesar 5 persen. Kebijakan ini membuat konsumen menunda keputusan membeli kendaraan listrik.
Baca juga: Bridgestone Luncurkan Ban Mobil Listrik Tahun Ini
Dikutip dari CNBC, Minggu (8/2/2026), Partner Bain & Company, Helen Liu, mengatakan pasar mobil listrik China tahun ini menghadapi tekanan dari kebijakan baru dan persaingan yang semakin sengit.
Ia menyebut konsumen cenderung menunda pembelian, sedangkan produsen lebih berhati-hati meluncurkan produk baru.
BYD mencatat penjualan 83.249 unit mobil listrik baterai pada Januari 2026, dari total 205.518 unit kendaraan yang termasuk plug-in hybrid.
Angka ini menjadi yang terendah dalam dua tahun terakhir, setelah penjualan Februari 2024 yang mencapai 121.748 unit.
Baca juga: BYD Indonesia Sebut Tren Penjualan Mobil Listrik Masih Stabil
Selain kebijakan pajak, BYD harus bersaing ketat dengan produsen lokal lain. Aito, yang menggunakan sistem operasi Huawei, mencatat pengiriman mobil naik lebih dari 80 persen menjadi 40.000 unit pada Januari.
Leapmotor dan Nio juga melaporkan peningkatan pengiriman menjadi masing-masing 32.059 dan 27.182 unit. Xiaomi mengirim 39.000 unit, meski turun dari bulan sebelumnya.
“BYD sudah lama menjadi pemimpin pasar, namun kini menghadapi pesaing agresif yang merebut pangsa pasar,” ujar Tu Le, pendiri Sino Auto Insights.
Geely, dengan lini mobil listrik Galaxy dan Zeekr, kini menempati posisi kedua di pasar China dengan penjualan lebih dari 270.000 unit pada Januari. Geely menargetkan penjualan kendaraan energi baru naik 32 persen menjadi 2,22 juta unit tahun ini.
Meski penjualan domestik melemah, BYD menargetkan ekspor meningkat 25 persen menjadi 1,3 juta unit pada 2026. Namun, ekspor Januari turun menjadi 100.482 unit dari 133.172 unit pada Desember 2025.
Le memprediksi, “Dengan inovasi di infrastruktur pengisian daya, penyimpanan energi, dan teknologi pengemudian cerdas, BYD akan tetap menjadi pemain dominan.”
Baca juga: Jumlah Mobil Listrik Tembus 103.000, PLN Perkuat Infrastruktur EV di IIMS 2026
Secara keseluruhan, penjualan kendaraan energi baru di China hanya tumbuh 2,6 persen year-on-year pada Desember 2025.
Hal ini menandai perlambatan pertumbuhan selama tiga bulan berturut-turut, yang menjadi peringatan bagi industri otomotif di tengah lesunya sektor properti.
Cameron Johnson dari Tidalwave Solutions mengatakan, jika perlambatan berlanjut, pemerintah kemungkinan akan mengembalikan subsidi untuk menstabilkan pasar.
Sektor otomotif menyerap sekitar 30 juta tenaga kerja di China, atau lebih dari 10 persen pekerja perkotaan. Namun, menurut Fitch Ratings, kontribusi sektor ini terhadap investasi hanya 3,7 persen, jauh di bawah sektor properti yang mencapai 23 persen.
Pemerintah China dijadwalkan mengumumkan kebijakan ekonomi dan target 2026 dalam sidang tahunan parlemen pada Maret mendatang. Kebijakan baru diharapkan memberikan arah bagi industri otomotif dan menstabilkan dinamika pasar yang berubah.