Menakar Peluang Indonesia Jadi Pusat MRO Jet Bisnis di ASEAN
Fasilitas MEO milik Execujet Haite.(Execujet Haite)
16:03
8 Februari 2026

Menakar Peluang Indonesia Jadi Pusat MRO Jet Bisnis di ASEAN

– Pertumbuhan pesat industri penerbangan bisnis (business aviation) di Asia Tenggara membuka peluang baru bagi Indonesia, bukan hanya sebagai pasar jet bisnis, tetapi juga sebagai pusat perawatan pesawat atau maintenance, repair, and overhaul (MRO).

General Manager ExecuJet Haite, Paul Degrosseilliers, menilai kawasan Asia Tenggara kini menjadi mesin pertumbuhan baru jet bisnis global, didorong pertumbuhan ekonomi, demografi yang kuat, serta meningkatnya investasi lintas negara.

“Banyak ortang-orang kaya di Asia,” ujar Paul dalam wawancara.

Menurut dia, pertumbuhan kelas individu kaya (high net worth individuals) dan ekspansi perusahaan multinasional menciptakan kebutuhan mobilitas yang lebih fleksibel dan efisien. Jet bisnis pun tumbuh seiring arus investasi tersebut.

Indonesia pasar yang sudah cukup besar

Dalam konteks Indonesia, Paul menyebut saat ini terdapat sekitar 60 jet bisnis berbasis di dalam negeri. Angka tersebut dinilai bisa lebih besar jika memperhitungkan pesawat milik perusahaan atau individu Indonesia yang berbasis di Singapura.

Baca juga: Dassault: Jet Bisnis Bukan Simbol Kemewahan, tapi Alat Produktivitas Perusahaan

Ia bahkan menyebut sejumlah perusahaan besar China kini lebih sering mengoperasikan jet bisnisnya di Indonesia karena pertumbuhan bisnis di Tanah Air jauh lebih tinggi dibanding pasar domestik mereka yang sudah matang.

Fenomena ini mencerminkan pergeseran pusat pertumbuhan ekonomi kawasan, sekaligus memperbesar kebutuhan layanan pendukung seperti perawatan pesawat.

“Pasarnya ada,” kata Paul, merujuk pada potensi Indonesia untuk menopang fasilitas MRO skala besar.

Tantangan bagi Indonesia

Namun saat ini, sebagian besar perawatan jet bisnis di Asia Tenggara masih terpusat di Singapura. Selama lebih dari tiga dekade, negara tersebut membangun reputasi sebagai hub MRO regional, didukung investasi besar dari produsen pesawat (OEM) serta infrastruktur dan teknisi bersertifikasi internasional.

Kedekatan geografis menjadi tantangan utama bagi Indonesia. Operator jet bisnis sering memilih Singapura karena ekosistemnya sudah matang dan terintegrasi.

Namun, di sisi lain, kondisi ini menunjukkan adanya potensi ekonomi yang belum sepenuhnya digarap di dalam negeri.

Jika aktivitas jet bisnis di Indonesia terus meningkat, baik karena investasi asing maupun pertumbuhan perusahaan domestik, maka kebutuhan perawatan rutin, inspeksi berkala, hingga heavy maintenance akan ikut bertambah.

Baca juga: Pasar Bizjet Membaik, Dassault Falcon Pamer 900LX ke Indonesia

Paul mengakui sejumlah perusahaan global telah mencoba masuk ke pasar Indonesia, meski belum berkembang signifikan. Tantangannya terletak pada model bisnis, skala investasi awal, serta persaingan langsung dengan fasilitas yang sudah mapan di Singapura.

Meski demikian, ia optimistis peluang tetap terbuka.

“Saya yakin ini bisa terwujud,” ujarnya, merujuk pada kemungkinan berkembangnya fasilitas MRO yang lebih besar di Indonesia dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Dengan basis sekitar 60–75 jet yang memiliki keterkaitan dengan Indonesia, pasar domestik dinilai sudah cukup untuk mendukung satu atau dua fasilitas MRO khusus jet bisnis berskala menengah.

Sebaliknya, tanpa penguatan kapasitas domestik, potensi ekonomi dari pertumbuhan jet bisnis akan terus mengalir ke negara tetangga.

Tag:  #menakar #peluang #indonesia #jadi #pusat #bisnis #asean

KOMENTAR