Tahun Ini, Stok Memori untuk HP dan Gadget Tersisa 30 Persen?
- Kita mungkin sudah sering mendengar kabar bahwa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) itu "rakus".
Namun, seberapa rakus teknologi ini dalam memakan jatah komponen elektronik dunia? Jawabannya ternyata jauh lebih mengerikan dari yang kita bayangkan.
Sebuah laporan terbaru dari Wall Street Journal (WSJ) akhirnya membuka mata industri teknologi.
Laporan tersebut menyodorkan angka spesifik yang belum banyak diketahui publik, pada tahun 2026 ini, 70 persen dari total pasokan chip memori DRAM di seluruh dunia diprediksi bakal habis diserap hanya oleh pusat data (data center).
Angka ini melonjak drastis jika dibandingkan dengan era sebelum ledakan AI. Sebelumnya, data center biasanya "hanya" mengambil kurang dari 35 persen dari total produksi memori dunia.
Kini, situasinya berbalik total. Dengan 70 persen jatah memori "dirampok" oleh server-server raksasa, itu artinya pasar elektronik konsumen, mulai dari smartphone, laptop, PC, hingga konsol game, harus berebut sisa "kue" yang tinggal 30 persen saja.
Wafer biang keladinya
Mengapa server AI begitu rakus? Masalahnya bukan cuma pada jumlah chip yang mereka beli, tapi jenisnya.
Laporan WSJ, yang dikutip KompasTekno, Rabu (21/1/2026), menjelaskan fenomena teknis yang disebut sebagai "Wafer Penalty" atau hukuman wafer. Server AI masa kini tidak memakai RAM biasa, melainkan High Bandwidth Memory (HBM) yang super cepat.
Masalahnya, pembuatan HBM ini sangat boros sumber daya. Untuk memproduksi kapasitas memori HBM yang sama, pabrik membutuhkan bahan baku wafer silikon tiga kali lipat lebih banyak dibanding saat membuat RAM DDR5 standar untuk komputer kita.
Konsekuensinya fatal. Setiap kali pabrikan mengalihkan jalur produksi mereka untuk memenuhi pesanan HBM yang cuannya lebih besar, secara otomatis kapasitas produksi untuk memori gadget konsumen terpangkas drastis.
Mobil dan kulkas jadi korban
Dampak dari "kudeta" 70 persen ini tidak hanya dirasakan oleh pembeli laptop. WSJ memperingatkan bahwa sektor yang paling rentan justru adalah industri otomotif dan peralatan rumah tangga pintar (smart appliances).
Mobil modern dan kulkas pintar biasanya menggunakan chip memori generasi lama.
Sayangnya, karena margin keuntungan komponen lawas ini tipis, produsen memori diprediksi bakal "menganaktirikan" atau bahkan menyetop produksi chip murah tersebut demi fokus ke HBM.
Kita mungkin akan kembali melihat fenomena antrean panjang beli mobil (indent) atau harga barang elektronik rumah tangga yang melambung. Kondisi ini mirip saat kelangkaan chip di era pandemi lalu.
Lantas, kenapa pabriknya tidak ditambah saja? Ternyata tidak semudah itu.
Laporan tersebut mengungkap bahwa raksasa memori, seperti Micron, Samsung, dan SK Hynix masih trauma. Mereka baru saja babak belur akibat kelebihan stok (oversupply) pasca-pandemi yang membuat harga jatuh.
Alih-alih membangun pabrik baru yang butuh miliaran dollar, para bos teknologi ini kini lebih memilih strategi hati-hati.
Mereka cenderung membiarkan pasokan tetap ketat (undersupply) untuk menjaga harga tetap tinggi, daripada mengambil risiko investasi besar yang bisa jadi bumerang jika tren AI tiba-tiba meredup.