Elon Musk Bilang China Siap Jadi Raja AI Dunia, Pakar Mengamini
Ringkasan berita:
- Elon Musk menilai China berpeluang unggul dalam AI karena memiliki daya komputasi dan pasokan listrik yang lebih besar dibanding negara lain. Menurut Musk, kemampuan China meningkatkan kapasitas pembangkit listrik akan sangat mendukung operasional pusat data AI yang membutuhkan energi besar.
- Faktor infrastruktur dan energi menjadi kunci keunggulan China, seiring keterbatasan pasokan listrik di AS yang dinilai menghambat pengembangan proyek AI. Pandangan Musk ini diamini peneliti China, Zhou Mi, yang menilai infrastruktur listrik China mendukung ekspansi kapasitas komputasi jangka panjang.
- Pandangan serupa disampaikan CEO Nvidia, Jensen Huang, yang menyebut China bisa memenangkan perlombaan AI karena kebijakan pemerintahnya lebih mendukung, termasuk subsidi energi dan insentif listrik bagi pusat data. Sebaliknya, pembatasan ekspor chip dan regulasi berlapis di AS dinilai justru memperlambat inovasi AI.
- Miliarder sekaligus pemilik X/Twitter, Elon Musk, mengatakan bahwa China akan unggul dari lain dalam bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Pernyataan itu disampaikan Musk dalam sebuah podcast bersama wirausahawan Amerika Serikat, Peter Diamandis, yang ditayangkan saluran YouTube "Peter H. Diamandis baru-baru ini.
"China akan memiliki daya komputasi lebih besar dibanding negara lain dan mungkin akan memiliki lebih banyak chip," kata Musk dalam sesi podcast itu.
Pernyataan itu muncul melihat tren saat ini, ditambah keunggulan China dalam kompetisi AI.
Menurut Musk, keunggulan Negeri Tirai Bambu terletak pada kemampuan dalam meningkatkan skala pembangkit listrik.
Musk bahkan memprediksi bahwa China bisa menghasilkan output listrik tiga kali lipat dibanding AS pada tahun 2026. Hal tersebut bisa menunjang data center AI yang perlu banyak energi.
Peneliti senior di Academy of International Trade and Economic Cooperation China, Zhou Mi, mengamini pernyataan Elon Musk.
Menurut Zhou Mi, analisis pribadinya senada dengan komentar Musk, khususnya bila didasarkan pada hambatan yang dia alami saat mengembangkan proyek AI di AS.
"Kendala pasokan listrik di banyak bagian AS, dikombinasikan dengan konsentrasi perusahaan teknologi besar dan kebutuhan listrik yang sangat berar dari data center AI, kemungkinan telah membatasi perluasan beberapa proyek," kata Zhou.
Dia juga menyebutkan bahwa infrastruktur dan pasokan listrik China kerap disebut sebagai elemen yang dapat mendukung perluasan kapasitas komputasi jangka panjang, dihimpun KompasTekno dari The Daily Express.
CEO Nvidia punya pandangan sama
Sebelum Elon Musk, CEO Nvidia Jensen Huang lebih dulu melontarkan bahwa China bisa melampaui AS dalam perlombaan AI. Hal ini disampaikan Huang dalam sebuah wawancara pada November 2025 lalu.
"China akan memenangkan perlombaan AI," kata Huang dalam wawancara dengan Financial Times di sela-sela acara Future of AI Summit pada awal November 2025.
Huang menyebut bahwa sikap "sarkastis dan sinis" di negara Barat justru menghambat inovasi.
"Kita butuh lebih banyak optimisme," ujar Huang.
Nvidia mencetak sejarah baru dengan menjadi perusahaan pertama yang menembus valuasi pasar sebesar 5 triliun dollar AS atau setara Rp 82.720 triliun (kurs Rp 16.544 per dollar AS).
Pernyataan Huang datang di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Beijing terkait pembatasan ekspor chip AI canggih.
Pemerintahan Presiden Donald Trump tetap melarang Nvidia menjual chip kelas atasnya ke China, termasuk seri terbaru Blackwell. Chip AI tersebut sedianya digunakan untuk melatih model AI besar (large language model/ LLM).
Huang juga menyoroti kontrasnya kebijakan AS dan langkah China.
Bos Nvidia itu mengatakan, pemerintah China kini melonggarkan aturan dan meningkatkan subsidi energi untuk pusat data (data center) yang dijalankan oleh perusahaan-perusahaan besar seperti ByteDance, Alibaba, dan Tencent.
Menurut laporan Financial Times, beberapa pemerintah daerah di China bahkan memberikan potongan harga listrik untuk mendorong adopsi chip lokal buatan Huawei dan Cambricon. Chip tersebut dikenal kurang efisien soal energi listrik, dibandingkan produk Nvidia.
Namun, supaya tetap diadopsi, pemerintah memilih memberikan insentif berupa diskon harga listrik.
"Di China, tenaga listrik hampir gratis," ujar Huang.
Sebaliknya, di AS, Huang menilai munculnya berbagai regulasi baru di tingkat negara bagian justru memperlambat inovasi.
"Kami (AS) bisa punya 50 peraturan AI yang berbeda. Itu tidak efisien," kata bos di perusahaan bernilai 4,752 triliun dollar AS atau setara Rp 79.244 triliun itu.
Tag: #elon #musk #bilang #china #siap #jadi #raja #dunia #pakar #mengamini