Bos Samsung: AI Akan Jadi Kebutuhan, Bukan Cuma ''Gimmick''
Samsung yakin bahwa teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) akan menjadi kebutuhan. (Samsung)
16:33
7 Januari 2026

Bos Samsung: AI Akan Jadi Kebutuhan, Bukan Cuma ''Gimmick''

Ringkasan berita:

  • AI jadi kebutuhan, bukan gimmick: Samsung memosisikan AI sebagai mitra yang bekerja alami di latar belakang, terutama di rumah, dari kulkas hingga TV.
  • Manfaat praktis untuk rumah tangga: AI membantu perencanaan belanja, mengurangi pemborosan makanan, serta mengoptimalkan kualitas gambar TV (termasuk microRGB) sesuai konten dan preferensi.
  • Keamanan jadi fondasi: Samsung mengandalkan Knox (Knox Metrics, Dashboard, dan Vault) untuk melindungi privasi.

- Samsung menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak lagi diposisikan sebagai sekadar fitur tambahan atau sekadar gimmick.

Ke depan, AI akan menjadi kebutuhan yang hadir dalam keseharian pengguna, terutama di rumah.

Hal ini disampaikan oleh ChonHong Ng, VP, Head of Regional Marketing, Samsung Electronics Southeast Asia and Oceania, dalam wawancara terkait arah pengembangan AI Samsung di kawasan Asia Tenggara.

Wawancara yang dihadiri jurnalis KOMPAS.com Yudha Pratomo ini dilakukan di sela-sela pameran Consumer Electronics Show di Las Vegas, Nevada, AS.

Menurut ChonHong Ng, Samsung saat ini memasuki fase baru dalam perjalanan AI mereka.

Jika sebelumnya AI hadir sebagai fitur, kini perannya bergeser menjadi mitra tepercaya yang bekerja secara alami di latar belakang kehidupan sehari-hari pengguna. AI dirancang untuk membantu tanpa terasa rumit atau mengganggu.

Salah satu contoh paling nyata ada pada peralatan rumah tangga, seperti lemari es.

"Dengan dukungan AI, lemari es dapat mengenali kebiasaan pengguna dan kondisi isinya," kata ChonHong.

ChinHong Ng, VP Head of Regional Marketinf Samsung Electronics Southeast Asia and Oceania dalam wawancara bersama media di sela acara CES 2026 di Las Vegas.KOMPAS.com/Yudha Pratomo ChinHong Ng, VP Head of Regional Marketinf Samsung Electronics Southeast Asia and Oceania dalam wawancara bersama media di sela acara CES 2026 di Las Vegas.

Ketika stok bahan makanan seperti susu atau telur mulai menipis, misalnya, sistem dapat mengirimkan pengingat ke ponsel.

Pengguna juga bisa berinteraksi langsung dengan lemari es melalui suara, termasuk untuk membantu merencanakan menu dan daftar belanja.

Pendekatan ini dinilai relevan bagi konsumen di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Meski tidak semua orang memanfaatkan lemari es secara maksimal, fitur perencanaan belanja berbasis AI dianggap dapat membantu mereka yang rutin berbelanja kebutuhan harian.

Selain memudahkan, AI juga berperan mengurangi pemborosan makanan dengan memberikan rekomendasi pembelian yang lebih tepat.

AI juga diterapkan pada perangkat hiburan, khususnya televisi.

Samsung menjelaskan bahwa AI dapat mengoptimalkan pengaturan gambar berdasarkan konten yang ditonton dan preferensi pengguna.

Untuk pasar Indonesia, fitur ini dinilai cocok bagi penggemar olahraga, seperti sepak bola, karena kualitas gambar dapat disesuaikan agar lebih nyaman dan imersif.

Selain itu, Samsung memperkenalkan teknologi microRGB yang memanfaatkan AI untuk mengatur kontras, kecerahan, dan detail visual secara lebih presisi.

Hasilnya, tampilan gambar diklaim lebih tajam dan hidup dibandingkan teknologi sebelumnya.

Di balik pengembangan AI yang semakin luas, Samsung juga menaruh perhatian besar pada aspek keamanan.

ChonHong Ng menegaskan bahwa privasi tidak mungkin terwujud tanpa sistem keamanan yang kuat.

Karena itu, Samsung menghadirkan platform keamanan Knox di seluruh lini perangkat, mulai dari ponsel, TV, hingga peralatan rumah tangga.

Samsung juga mengembangkan Knox Metrics, sistem yang memantau kondisi keamanan seluruh perangkat yang saling terhubung.

Jika terdeteksi potensi masalah atau celah keamanan, pengguna akan menerima peringatan. Selain itu, ada Knox Dashboard yang memungkinkan pengguna melihat status keamanan perangkat secara menyeluruh.

Untuk perlindungan data sensitif, Samsung mengandalkan Knox Vault, sistem keamanan berbasis perangkat yang menyimpan data langsung di dalam chip. Dengan pendekatan ini, data pribadi tidak disimpan di cloud dan hanya bisa diakses oleh pemilik perangkat.

Terkait personalisasi, Samsung menyebut penggunaan AI dilakukan dengan prinsip perlindungan berlapis.

Data yang sangat sensitif dilindungi secara ketat, sementara data perilaku dianonimkan dan diolah untuk menghasilkan rekomendasi tanpa mengungkap identitas pengguna.

Di pasar berkembang seperti Indonesia, Samsung melihat AI telah menjadi nilai penting dalam keputusan pembelian.

Meski masih berada pada tahap awal, AI dinilai sebagai keunggulan kompetitif yang kuat.

"Saya rasa konsumen, AI masih berada pada tahap pengembangan awal. Ini adalah keunggulan kompetitif yang bagus dan kuat. Tetapi tetap saja, pada akhirnya, produk kita harus memenuhi hal-hal mendasar, bukan? Jadi, misalnya, peralatan rumah tangga," kata ChonHong.

Ke depan, Samsung meyakini AI akan menjadi fitur wajib, seperti halnya inovasi yang pernah mereka perkenalkan sebelumnya.

Dengan semakin banyak perangkat yang terhubung, konsumen akan merasakan manfaat rumah pintar berbasis AI yang lebih personal, nyaman, dan mudah digunakan.

Menurut ChonHong Ng, pembeda utama Samsung terletak pada pendekatan menyeluruh.

AI tidak hadir sebagai fitur terpisah, tetapi terintegrasi di seluruh ekosistem perangkat yang saling terhubung dan aman.

Tag:  #samsung #akan #jadi #kebutuhan #bukan #cuma #gimmick

KOMENTAR