Pengakuan Hendra Basir, Pelatih Kepala Panjat Tebing yang Dinonaktifkan: Saya Akui Pernah Tempeleng dan Cium Kening Atlet
Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) resmi menonaktifkan sementara Pelatih Kepala Hendra Basir. Itu menyusul adanya dugaan pelecehan seksual dan kekerasan fisik di lingkungan Pelatnas FPTI.
Keputusan tersebut dituangkan dalam Surat Keputusan Nomor 0209/SKP/PP.NAS/II/2026 tentang Penonaktifan Sementara Kepala Pelatih Pelatnas FPTI. Lalu, bagaimana respons Hendra Basir ?
Berikut wawancara Jawa Pos dengan Hendra melalui sambungan telepon kemarin:
Apa benar kabar yang beredar bahwa Anda diduga melalukan kekerasan fisik dan pelecehan seksual kepada delapan atlet?
Saya selalu bilang, silakan ditanyakan ke delapan orang ini. Sebab, sampai sekarang (kemarin, Red) saya belum ada klarifikasi dari federasi terkait isu ini. Tiba-tiba, saya sudah dapat surat penonaktifan.
Kalau yang saya pahami, kekerasan adalah melakukan pemukulan dan lain sebagainya. Sedangkan, pola melatih saya adalah keras dan tegas. Kalau atlet ngaco dalam manjat dan performanya tidak sesuai dengan saat latihan, bisa saya tempeleng. Kalau memang menempeleng adalah salah satu tindakan kekerasan, saya mohon maaf. Tapi, saya juga bingung kenapa baru sekarang ramainya.
Lalu, soal tudingan pelecehan seksual?
Nah, yang kedua, terkait konteks pelecehan seksual, ini bikin saya drop. Yang ada di pikiran orang adalah tindakan melakukan persetubuhan atau meraba. Yang selama ini saya lakukan adalah, ketika atlet drop karena performa tidak bagus, saya akan memanggilnya.
Kemudian, saya tegur, saya marahi, dan saya tempeleng. Tapi, ada juga fase cooling down-nya. Baik atlet putra maupun putri saya peluk. Kalau atlet putri, kan memang selama ini selalu nangis karena performa jeblok. Dalam proses itu, memang saya peluk, saya cium kening dan ubun-ubunnya.
Hal yang biasa saya lakukan ke anak saya. Tapi, saya tidak ada pikiran untuk ke arah aneh-aneh seperti yang dituduhkan. Jadi, saya tidak habis pikir. Kenapa tidak ada proses tabayun dulu sampai akhirnya kejadian ini ramai.
Bisa diceritakan bagaimana proses SK federasi penonaktifan Anda turun?
Saya langsung dikirim via WhatsApp oleh Sekjen Federasi Panjat Tebing Indonesia. Waktu itu saya lagi ke Jakarta. Sebenarnya, si anak yang diduga saya lecehkan tersebut sudah menyampaikan klarifikasi.
Dia bilang bahwa dia sebenarnya biasa saja dengan saya. Tapi, karena dia ditakut-takuti senior, makanya dia takut sama saya. Saya yakin ini dimoblisasi. Dan, yang perlu diketahui, delapan orang atlet itu terdiri atas lima putra dan tiga putri. Orang-orang tahunya delapan atlet itu perempuan semuanya.
Kesimpulan apa yang ingin Anda sampaikan ke publik?
Hikmah bulan puasa. Mungkin level cobaan saya lagi ditingkatkan. Pada intinya, kalau kekerasan nempeleng adalah pelanggaran hukum, saya terima. Selama 15 tahun saya melatih memang karakteristik saya seperti itu.
Tegas. Tapi, nggak ujug-ujug orang kalem saya tempeleng. Ini konteksnya latihan dan tanding. Kalau itu dianggap tindakan melanggar hukum, saya siap menerima.
Kedua, kalau tindakan memeluk dan mencium kening dianggap pelecehan seksual dan dinyatakan bersalah, saya siap menerima.
Artinya Anda menerima dengan pasrah keputusan federasi?
Bukan pasrah. Tapi, menerima dengan kepala tegak. Saya sudah bawa nama baik Indonesia meraih emas Olimpiade. Kalau metode pelatihan saya tidak sesuai dengan keinginan atlet, itu lain hal.
Tag: #pengakuan #hendra #basir #pelatih #kepala #panjat #tebing #yang #dinonaktifkan #saya #akui #pernah #tempeleng #cium #kening #atlet