City Mengejar Arsenal, Siapa Bakal Kena Mental?
DOMINIK Szoboszlai menjadi kartu as baru bagi Liverpool untuk memecah kebuntuan. Tendangan bebas jarak jauh bak roket dari pemain Hungaria itu mengoyak gawang Gianluigi Donnarumma di menit 74. Manchester City ketinggalan 0-1.
Bayangan kekalahan menghampiri Erling Haaland dkk yang pergi ke Stadion Anfield untuk menghidupkan persaingan berebut trofi Liga Premier Inggris 2025/2026 dengan Arsenal.
Jika keok atas The Reds, klub racikan Pep Guardiola itu mesti menerima kenyataan tertinggal sembilan poin dari Arsenal.
Di atas kertas, hal itu bakal bikin The Citizens berat untuk mengejar pasukan Mikel Arteta.
Gol Szoboszlai itu mengingatkan pada gol serupa yang dilesakkannya ketika bertemu Arsenal di pekan-pekan awal musim ini.
Ketika itu, The Anfield Genk merangkai lima kemenangan beruntun--seolah memberi kode bahwa sang juara bertahan sedang kuat dan dalam level atas untuk menggaet lagi trofi teratas sepak bola di tanah Inggris.
Jika tendangan Szoboszlai ke gawang kiper Arsenal, David Raya, berakhir dengan kemenangan, tak begitu dengan golnya ke gawang Donnarumma. Dalam posisi ketinggalan, City menyamakan skor sepuluh menit kemudian lewat sang kapten, Bernardo Silva.
Rupanya ini bukan akhir dari cerita. Di menit ketiga perpanjangan waktu, Haaland menciptakan gol via tendangan penalti sehingga City mengemas tiga poin dari kandang macan, stadion Anfield.
Ini kemenangan bersejarah, tak biasanya tim biru langit itu menang dua kali atas Liverpool--saat kandang dan tandang.
Dan kemenangan itu menyuntikkan moral kepada Haaland dkk. Duel ini membalas hasil minor atas Tottenham Hotspur pekan sebelumnya yang berakhir seri di kandang klub London itu.
Lebih dari itu kemenangan atas The Reds memelihara persaingan dengan Arsenal yang kokoh di puncak klasemen. Saat ini dua klub itu terpaut enam poin.
Dengan kompetisi masih menyisakan 13 laga, Arsenal dan City menjadi dua klub teratas yang berpeluang meraih trofi English Premier League (EPL) musim ini.
Dua klub ini paling siap karena ditopang kedalaman skuad yang berada di atas 18 klub lain. Aston Villa, Manchester United, Chelsea dan Liverpool agaknya harus rela melihat musim ini menjadi milik Arsenal atau City.
Poin Liverpool contohnya telah berjarak 17 dari Arsenal dan 11 dari City. Sangat mustahil bagi pasukan Arne Slott itu untuk mengejar. Apalagi bermimpi juara.
Lebih masuk akal jika The Reds mengejar tiket Liga Champions saja. Saat ini Liverpool berjarak lima poin dari MU yang berada di urutan empat dengan 44 poin. Peringkat empat EPL adalah jatah tiket terakhir bagi klub Inggris untuk masuk Liga Champions musim depan.
Pesaingnya ada Aston Villa, Chelsea, Brentford hingga klub sekota: Everton. Mengarungi 13 laga tersisa masih panjang. Itu setara 39 poin.
Namun, seiring persaingan keras di EPL, jarang sekali ada klub yang merangkai 13 kemenangan beruntun seperti Chelsea racikan Antonio Conte musim 2016/2017.
Rekor itu berbuah trofi EPL buat Eden Hazard dkk--satu pencapaian yang hingga kini belum dapat diulangi Chelsea.
Di musim ini, dengan menghimpun 43 poin hingga pekan ke-25, Chelsea sadar diri untuk bermimpi juara EPL. Tidak mungkin Cole Polmer dkk menang terus di 13 laga tersisa.
Iya, meskipun Chelsea asuhan Liam Rosenior menunjukkan tren menanjak--menang empat laga beruntun. Seperti Liverpool, Chelsea musim ini lebih baik fokus menyegel posisi empat besar untuk menjamin tetap tampil di Liga Champions musim depan.
Dengan 13 laga tersisa, City dalam mode "on" untuk menempel Arsenal. Mungkin Pep Guardiola bakal memompa semangat pasukannya dengan kalimat "Gaspoll, jangan kasih rem".
Semangat City terdongkrak dua kali. Pertama, ketika mengamankan tiket final Carabao Cup di leg kedua lewat kemenangan 3-1 atas Newcastle United di stadion Etihad. Lawan di final adalah Arsenal yang sedang "diburu" mereka di EPL.
Kedua, kemenangan heroik di stadion Anfield bakal memperkokoh permainan City di laga-laga selanjutnya.
Guardiola mungkin bisa berkata kepada pasukannya, "Kalau di Anfield kita bisa menunjukkan siapa City, di stadion mana pun di Inggris, kita bisa melakukannya."
Yang bikin saya merinding, Guardiola adalah jenis manajer/pelatih yang menghendaki klub yang dinakhodainya juara.
Lihat saban laga City, Guardiola tak pernah santai. Ia selalu menuntut, mendesak dan memaksa para pemainnya menang dan menang.
Sebagai pelatih nomor satu, Guardiola kurang trofi apa lagi sih? Dari wajahnya yang serius ia mengumumkan pada dunia tanpa bicara, "Saya mau trofi hingga ia tak mungkin lagi diberikan kepada klub saya."
Inilah Guardiola yang "kemaruk" dalam aspek yang positif. Dan di musim ini, City masih bersaing di empat kompetisi. Selain EPL dan Carabao Cup, City belum gugur di kompetisi Piala FA dan Liga Champions Eropa (UCL).
Para pemain Arsenal merayakan gol ke gawang Crystal Palace pada laga perempat final Piala Liga Inggris atau Carabao Cup di Stadion Emirates, London, pada Selasa (23/12/2025) atau Rabu dini hari WIB.Rivalnya, Arsenal, tak kurang kemilau. Klub yang diarsiteki bekas asisten Guardiola, Mikel Arteta, telah menyegel final Carabao Cup, berada di peringkat pertama EPL dan UCL serta belum keok di Piala FA.
Arsenal dalam kepercayaan diri tinggi untuk--kalau bisa--menggaet empat trofi yang diimpikan manajemen dan suporter fanatis mereka.
Kepastiannya, Arsenal mesti menyingkirkan City di EPL dan Carabao Cup untuk meraih kebesaran, kejayaan dan memperkokoh finansial klub.
Perebutan trofi pertama akan berlangsung di stadion Wembley, London, 22 Maret mendatang. Ini momen pembuktian di ajang Carabao Cup--kompetisi kelas ketiga di Inggris, tapi menentukan persaingan di kompetisi lebih tinggi, yaitu EPL.
Final kedua akan berlangsung di Etihad, 18 April 2026. Ini sangat menentukan perburuan trofi EPL.
Sebelum itu, Arsenal harus melakoni tujuh laga terlebih dulu kontra Brentford, Wolverhampton Wanderes, Tottenham Hotspur, Chelsea, Brighton & Hove Albion, Everton dan Bournemouth.
Sebelum dua laga final kontra Arsenal, Manchester City akan diuji oleh Fulham, Newcastle United, Leeds United, Nottingham Forest, West Ham United dan Chelsea. Sementara laga versus Crystal Palace harus ditunda karena terlalu mepet dengan final Caraboa Cup.
Sebaiknya kita tak membanding-bandingkan klub yang akan dihadapi Arsenal dan City. Mereka berbeda, dari kualitas, gaya permainan dan motivasinya--terlebih klub-klub yang berada di zona degradasi.
Guardiola tahu itu. Arteta pun begitu meski tidak senyaring sang guru dalam mengekspresikannya pada pers.
"Masih ada 13 pertandingan, banyak hal bisa terjadi," ucap Guardiola. Ia emoh meremehkan lawan-lawannya dan bersiap dengan kuda-kuda.
City kokoh karena dimanjakan oleh dana hampir tidak terbatas--dalam pengertian selalu tersedia saat dibutuhkan.
Untuk menambal tiga pemain di lini belakang yang cidera, City membeli Marc Guehi dari Palace di transfer musim dingin, Januari 2026.
Guardiola juga mendatangkan Antoine Semenyo asal Bournemouth. Keduanya pemain kelas satu dan telah beradaptasi dengan ganasnya sepak bola di Inggris.
Guehi segera jadi tumpuan di lini belakangi. Sejauh ini menjadi benteng tangguh buat City. Duetnya dengan Abdukodir Khusanov amat menjanjikan.
Sedangkan Semenyo memberi opsi lebih variatif di lini serang City. Dia bisa main di sayap kiri dan sayap kanan, gerakan eksplosif, dan dua kakinya sama-sama berbahaya.
Sejak berseragam City, pemain berpaspor Ghana senilai senilai 72 juta euro (Rp 1,43 triliun) itu telah mengoleksi empat gol untuk klub dari kota Manchester itu.
Guardiola tidak kurang apa-apa. Pada saat sama Arsenal juga tidak kurang apa pun. Kedalaman skuadnya--terutama kembalinya pemain cidera seperti Gabriel Jesus serta Kai Havertz--menjadi amunisi cadangan bagi Meriam London.
Musim ini telah jadi situasi "now or never". Sudah tiga kali Arsenal dipaksa runner up di ajang EPL dalam tiga musim terakhir. Arteta telah belajar banyak atas kesalahan-kesalahan selama tiga musim itu.
Tiga belas laga sisa di EPL bakal lebih banyak menjadi perang mental. Secara teknis, taktik dan kualitas pemain, Arteta memiliki segalanya untuk menang.
Pertahanan Arsenal masih yang terkokoh. Lini serangnya produktif, sudah melesakkan 49 gol termasuk lewat skema tendangan penjara yang jadi andalannya.
Saat ini, Arsenal hanya butuh fokus pada diri sendiri. Itu dimaklumi oleh Arteta. Dan itulah ujian terberatnya.
Konsisten dan stabil sangat susah di kompetisi seketat EPL. Lawan-lawan siap menerkam kapan saja. Sekali terantuk, masalah bisa berdatangan.
Arsenal telah mengalami itu dalam tiga musim terakhir. Kena mental! Ini yang harus dibuang jauh-jauh.
Kabar baiknya, Arsenal segera pulih setelah keok 2-3 kontra MU. David Raya merangkai dua kemenangan selepas itu. Saat itu City telah mengintipnya, tapi Arsenal terus melaju.
Mental macam ini yang harus dirawat. Bahkan, Mikel Arteta tak perlu menganggap hasil City yang menumbangkan Liverpool di Anfield. Itu hanya satu laga dan selesai di stadion yang dulu angker itu. Tak perlu menekan Arsenal.
Mengejar kadang lebih nyaman. Dikejar menguras mental. Manchester City memiliki pengalaman mengejar dan akhirnya jawara. Namun, Arteta sebaiknya melihat itu sebagai masa lalu. Ia belum tentu terjadi lagi. Perang terbesar Arsenal adalah melawan diri sendiri.
Musim jauh dari selesai, bahkan setelah dua final Arsenal versus City di bulan Maret dan April. Setelah itu masih ada lima laga tersisa yang harus dilakoni di Liga Premier Inggris.
Mungkin dua final itu amat menentukan, mungkin tidak. Kalau pun kalah di dua laga itu, Arteta harus melihat papan klasemen.
Jika ia mendapati Arsenal masih di atas City setelah laga di Etihad nanti, peliharalah mimpi untuk juara EPL. Sudah puluhan tahun sejak 2003/2004, Arsenal tidak lagi jadi kampiun Liga Premier Inggris.
Saat ini bola di tangan Mikel Arteta serta David Raya dkk. Musim ini adalah petualangan yang pas untuk jawara. Sekarang atau tidak sama sekali.