Brutal Lagi! Kronologis Tendangan Kungfu ke Muka UAD FC vs KAFI Jogja FC Liga 4 Yogyakarta
Liga 4 UAD FC vs KAFI Jogja FC
10:24
7 Januari 2026

Brutal Lagi! Kronologis Tendangan Kungfu ke Muka UAD FC vs KAFI Jogja FC Liga 4 Yogyakarta

Baca 10 detik
  • Pemain KAFI Jogja FC melakukan tendangan brutal ke wajah pemain UAD FC.

  • Wasit hanya memberikan kartu kuning meski pelanggaran masuk kategori sangat berbahaya.

  • Komdis PSSI Jatim sebelumnya telah menghukum pemain pelaku kekerasan dengan sanksi seumur hidup.

Kompetisi kasta terendah Liga 4 sepak bola Indonesia kembali dinodai oleh tindakan kekerasan yang sangat membahayakan nyawa.

Insiden memprihatinkan ini berlangsung saat laga UAD FC melawan KAFI Jogja FC pada Selasa (6/1/2026) kemarin.

Pertandingan yang dilaksanakan di Lapangan Sitimulyo tersebut menjadi saksi aksi tidak sportif dari oknum pemain tertentu.

Publik sepak bola tanah air dikejutkan dengan rekaman video yang memperlihatkan tindakan brutal di tengah pertandingan.

Kejadian ini menambah daftar panjang catatan hitam kedisiplinan pemain dalam gelaran Liga 4 musim 2025/2026.

Memasuki menit ke-73 saat KAFI Jogja FC memimpin skor 1-0, atmosfer pertandingan mendadak berubah menjadi mencekam.

Seorang pemain KAFI dengan nomor punggung dua melakukan gerakan berbahaya dengan mengarahkan kaki ke area kepala lawan.

Tendangan ala bela diri tersebut telak mengenai wajah penggawa UAD FC bernomor punggung 24 yang sedang berlari.

Korban langsung terjatuh di atas rumput sambil memegangi bagian pipinya yang terkena hantaman keras sepatu lawan.

Momen mengerikan tersebut terekam jelas dan langsung menyebar luas melalui berbagai platform media sosial nasional.

Meski terjadi pelanggaran berat yang sangat nyata, sang pengadil lapangan justru mengambil keputusan yang sangat kontroversial.

Wasit utama hanya merogoh saku untuk mengeluarkan kartu kuning sebagai bentuk peringatan bagi pemain KAFI tersebut.

Tindakan ini dianggap tidak sebanding dengan tingkat bahaya dari pelanggaran yang dilakukan oleh oknum pemain tersebut.

Keanehan berlanjut saat wasit mendekati pemain UAD yang tergeletak namun tidak segera memanggil bantuan tim medis resmi.

Sang wasit justru terlihat meminta pemain yang sedang kesakitan tersebut untuk segera berdiri dan melanjutkan jalannya laga.

Tanpa pemeriksaan medis yang mendalam, pemain nomor 24 dari UAD FC akhirnya terpaksa bangkit dari lapangan.

Pertandingan kemudian segera dilanjutkan kembali seolah tidak terjadi insiden serius yang mengancam keselamatan fisik atlet tersebut.

Kondisi ini memicu kritik pedas dari netizen yang menilai standar keselamatan pemain di Liga 4 sangat rendah.

Video aksi brutal ini menjadi pembicaraan hangat sepanjang hari Selasa karena dianggap mencederai nilai-nilai sportivitas olahraga.

Banyak pihak menuntut adanya evaluasi total terhadap kepemimpinan wasit serta keamanan para pemain di lapangan hijau.

Fenomena kekerasan di Yogyakarta ini bukanlah kejadian tunggal yang terjadi pada pekan pertama bulan Januari 2026.

Sebelumnya pada Senin (5/1/2026), kericuhan serupa juga pecah di wilayah Jawa Timur dalam ajang yang sama.

Laga antara Putra Jaya Pasuruan melawan Perseta Tulungagung berakhir dengan jatuhnya korban luka serius akibat tindakan anarkis.

Pemain Perseta, Firman Nugraha, menjadi korban keganasan pemain lawan hingga harus dilarikan ke rumah sakit karena kondisi kritis.

Laporan medis menunjukkan Firman mengalami gangguan pernapasan, kejang hebat, hingga kerusakan permanen pada struktur tulang rusuknya.

Pelaku kekerasan di Jawa Timur, Muhammad Hilmi Gimnastiar, telah mendapatkan ganjaran yang sangat berat atas perbuatan brutalnya.

Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Timur bertindak cepat dengan melakukan investigasi menyeluruh terhadap kasus penganiaayan di lapangan tersebut.

Keputusan tegas diambil untuk memberikan efek jera agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan sepak bola.

Komite Disiplin (Komdis) Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Timur resmi menjatuhkan sanksi larangan beraktivitas seumur hidup kepada pemain Putra Jaya Pasuruan Muhammad Hilmi Gimnastiar atas tindakan kekerasan terhadap pemain Perseta 1970 Tulungagung di ajang Liga 4 Jatim tersebut.

Hukuman maksimal ini diharapkan menjadi peringatan keras bagi seluruh pemain di seluruh tingkatan kompetisi liga Indonesia.

Kini publik menantikan langkah serupa dari Asprov PSSI Yogyakarta terkait insiden tendangan ke wajah di Lapangan Sitimulyo.

Keamanan atlet harus menjadi prioritas utama di atas sekadar hasil akhir sebuah pertandingan sepak bola profesional maupun amatir.

Tanpa ketegasan sanksi, citra sepak bola Indonesia akan terus terpuruk akibat perilaku barbar yang tidak kunjung hilang.

Dukungan dari berbagai pihak diperlukan untuk menciptakan ekosistem olahraga yang sehat, aman, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Semoga rentetan kejadian di awal tahun ini menjadi titik balik perbaikan kualitas wasit dan perilaku pemain nasional.

Editor: Pebriansyah Ariefana

Tag:  #brutal #lagi #kronologis #tendangan #kungfu #muka #kafi #jogja #liga #yogyakarta

KOMENTAR