Langgar Kidul: Kisah di Balik Tembok Cikal Bakal Muhammadiyah
Langgar Kidul atau Langgar Kiai Haji Ahmad Dahlan di kawasan Kampung Kauman, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). [Suara.com/Hiskia]
17:24
27 Februari 2026

Langgar Kidul: Kisah di Balik Tembok Cikal Bakal Muhammadiyah

Baca 10 detik
  • Langgar Kidul adalah cikal bakal lahirnya gerakan pembaruan Islam Muhammadiyah.
  • Koreksi arah kiblat Kiai Ahmad Dahlan memicu kontroversi hingga perobohan langgar.
  • Kini, langgar menjadi destinasi edukasi sejarah perjuangan dan pemikiran Kiai Dahlan.

Di sebuah sudut Kampung Kauman, Yogyakarta, tak jauh dari Masjid Gedhe, berdiri sebuah bangunan dua lantai yang bersahaja tapi sarat akan makna. Warga mengenalnya sebagai Langgar Kidul atau Langgar Kiai Haji Ahmad Dahlan. Bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah; ia adalah sekolah, laboratorium gagasan, dan rahim tempat lahirnya Muhammadiyah. Sejarahnya berlapis, bahkan sebagian masih menyisakan ruang abu-abu yang menarik untuk ditelusuri.

Menurut Ahmad Paramasatya, salah satu pengelola langgar, bangunan ini sejatinya tidak didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan, melainkan dirintis oleh sang ayah.

"Langgar Kidul atau Langgar Kiai Haji Ahmad Dahlan ini sebenarnya yang asli itu merupakan sebuah langgar yang diinisiasi atau dibangun bukan yang pertama kali bukan oleh Kiai Dahlan justru, tapi oleh ayahnya," kata Ahmad saat ditemui di langgar, Jumat (27/2/2026).

Ayah Kiai Dahlan, Kiai Haji Abu Bakar, adalah seorang Abdi Dalem Pamethakan Keraton Yogyakarta, seorang pejabat keulamaan bergelar Ketip Amin. Langgar itu dibangun sederhana dari kayu dan bambu, berkonsep semi terbuka seperti pendopo, dan kemudian diwariskan kepada putranya, Muhammad Darwis—nama kecil Ahmad Dahlan.

Salah satu informasi yang masih samar adalah tahun pasti pendirian langgar. Namun, satu hal yang diyakini, saat Ahmad Dahlan lahir pada 1868, langgar tersebut sudah berdiri dan aktif digunakan untuk pengajian.

"Tapi yang pasti ketika Muhammadiyah berdiri, Kiai Dahlan lahir, naik haji, menikah, langgarnya sudah ada," ucap Ahmad.

Langgar Kidul atau Langgar Kiai Haji Ahmad Dahlan di kawasan Kampung Kauman, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). [Suara.com/Hiskia] PerbesarLanggar Kidul atau Langgar Kiai Haji Ahmad Dahlan di kawasan Kampung Kauman, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). [Suara.com/Hiskia]

Kontroversi Arah Kiblat yang Berujung Perobohan

Pergolakan besar terjadi di langgar ini pada akhir 1890-an. Dengan pikiran kritisnya, Kiai Ahmad Dahlan mulai mempertanyakan arah kiblat salat masyarakat Jawa yang lurus ke barat. Setelah melakukan riset sederhana dengan kompas dan peta dunia, ia menyadari bahwa arah kiblat masjid-masjid di Jawa melenceng jauh dari Ka'bah.

"Dan ternyata kalau dari Yogyakarta ditarik garis lurus ke barat itu justru melencengnya tidak ke Mekkah... Beliau punya urgensi untuk dikoreksi," ucap Ahmad.

Kiai Ahmad Dahlan pun mengambil langkah berani. Ia membuat saf salat di langgarnya dimiringkan sekitar 22-24 derajat ke arah utara. Langkah ini dianggap sebagai pembangkangan terhadap tradisi dan memicu ketegangan dengan Penghulu Keraton saat itu.

Setelah tiga kali peringatan tak digubris, puncak ketegangan pun terjadi. Langgar sederhana itu dihancurkan pada suatu malam di bulan Ramadan oleh orang-orang suruhan kiai penghulu. Peristiwa tragis ini kelak direkonstruksi dalam film 'Sang Pencerah'.

"Kalau kita manut pada catatan murid Kiai Dahlan itu beliau menulis sekitar 1890an akhir (langgar dirobohkan)," ucap Ahmad.

Bangkit Kembali dengan Semangat Pembaruan

Peristiwa perobohan ini justru menjadi titik balik. Kiai Ahmad Dahlan dikirim kembali ke Mekkah, di mana ia mendalami pemikiran pembaru Islam seperti Muhammad Abduh. Sekembalinya ke tanah air, ia membangun kembali langgarnya dengan semangat yang lebih besar.

Langgar Kidul atau Langgar Kiai Haji Ahmad Dahlan di kawasan Kampung Kauman, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). [Suara.com/Hiskia] PerbesarLanggar Kidul atau Langgar Kiai Haji Ahmad Dahlan di kawasan Kampung Kauman, Yogyakarta, Jumat (27/2/2026). [Suara.com/Hiskia]

Namun, sejarah kembali menyisakan misteri: sejak kapan langgar ini menjadi dua lantai seperti sekarang?

"Itu yang sampai sekarang sejarawan Muhammadiyah yang pernah saya ajak diskusi itu belum menemukan jawaban yang pastinya," ungkap Ahmad.

Dokumentasi dari tahun 1933 menunjukkan bangunan langgar sudah dua lantai, sehingga perubahan itu disinyalir terjadi pada dekade 1920-an. Di lantai atas, tepat di depan mihrab, terdapat goresan di lantai yang diyakini sebagai patokan koreksi kiblat. Namun, apakah goresan itu dibuat langsung oleh Kiai Dahlan atau ditambahkan kemudian, masih menjadi perdebatan.

"Tapi kalau dalam keluarga besarnya itu memang bilangnya itu adalah goresan Kiai Dahlan," imbuhnya.

Laboratorium Pendidikan yang Membebaskan

Lebih dari sekadar tempat ibadah, langgar ini menjelma menjadi laboratorium gagasan pendidikan Kiai Dahlan. Jauh sebelum Muhammadiyah berdiri resmi pada 18 November 1912, ia telah merintis sekolah yang mengajarkan ilmu agama dan ilmu umum di teras rumah dan langgar ini.

Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah (MIDI) menjadi embrionya, yang kemudian berkembang pesat menjadi cikal bakal sekolah-sekolah Muhammadiyah yang kini tersebar di seluruh nusantara, termasuk SD Muhammadiyah Suronatan dan Madrasah Muallimin serta Muallimat.

"Jadi pada masa awalnya Muhammadiyah berkembang di Jogja itu memang di kompleks ini selalu digunakan sebagai tempat perintisan sekolah-sekolahnya," tutur Ahmad.

Dari Gudang Terbengkalai Menjadi Kompas Sejarah

Kompleks ini aktif sebagai sekolah hingga dekade 1980-an. Namun, setelah itu, bangunan bersejarah ini sempat memasuki episode kelam.

"Tahun '90an itu selesai dan di situlah mulai episode yang bangunan ini sempat terbengkalai karena digunakan untuk gudang," kenang Ahmad.

"Dari saya TK sampai saya SD itu saya menangi ini jadi gudang enggak pernah dibuka."

Titik terang datang pada 2010. Menjelang Muktamar satu abad Muhammadiyah, kompleks ini direnovasi total dan kembali dihidupkan sebagai ruang ibadah sekaligus destinasi edukasi sejarah. Pengunjung dari berbagai kalangan kini datang silih berganti, ingin menyerap semangat pembaruan dari tempat ini.

Kini, Langgar Kidul Kiai Ahmad Dahlan telah bersolek, menjadi pengingat abadi bahwa warisan sang pencerah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan semangat pendidikan yang membebaskan dan keberanian berpikir kritis. Di tengah modernitas Yogyakarta, langgar ini tetap berdiri sebagai kompas moral dan intelektual.

Editor: Erick Tanjung

Tag:  #langgar #kidul #kisah #balik #tembok #cikal #bakal #muhammadiyah

KOMENTAR