Janji dan Harapan Gibran untuk Para Santri Setelah Ditjen Pesantren Dibentuk
Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming usai melaksanakan salat Tarawih berjemaah pada malam kedua bulan suci Ramadan 1447 H di Masjid Al-Falaah Manggarai, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (19/02/2026) malam.(Sekretariat Wakil Presiden )
09:54
23 Februari 2026

Janji dan Harapan Gibran untuk Para Santri Setelah Ditjen Pesantren Dibentuk

Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menyampaikan janji serta harapannya untuk para santri setelah disetujuinya pembentukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag).

Menurut Gibran, 11 juta santri yang tersebar di 42.000 pondok pesantren (ponpes) menjadi kekuatan sosial-ekonomi masa depan bangsa yang terus berakar di tengah masyarakat.

"Saat ini ada lebih dari 42.000 pondok pesantren dengan lebih dari 11 juta santri di dalamnya. Ini bukan sekadar angka, ini adalah kekuatan sosial-ekonomi masa depan yang berakar di tengah masyarakat serta tumbuh dari tradisi dan semangat perjuangan," ujar Gibran dikutip dari tayangan YouTube GibranTV, Sabtu (21/2/2026).

Gibran menyebut pesantren adalah lembaga pendidikan yang menjadi warisan peradaban, tempat di mana ilmu dan akhlak bersatu.

Baca juga: Gibran: Pemerintah Ingin Pesantren jadi Pelopor Blockchain, Robotik hingga AI

"Dari pesantren telah lahir tokoh-tokoh bangsa, pejuang kemerdekaan, ulama-ulama besar, para pemimpin umat, dan entrepreneur sejati penggerak ekonomi masyarakat," ucapnya.

Bukan hanya mengajarkan ilmu agama, Gibran juga menyebut pesantren juga membangun kemandirian ekonomi santrinya.

Pelopor Blockchain, Robotik hingga AI

Para santri dapat menghasilkan produk yang bisa tembus pasar internasional.

Salah satunya di sektor digital printing.

"Pernah terbayang produk digital printing berkualitas yang dipakai salah satu perusahaan di Belanda ternyata dibuat di mana? Bukan di Jakarta, bukan pula dari agensi periklanan ternama, tapi dari unit usaha Jitu Printing dari Pondok Pesantren Edi Mancoro di Semarang," kata Gibran.

Baca juga: Dari Semarang ke Belanda, Gibran Sebut Bukti Produk Pesantren Bisa Tembus Pasar Global

Dengan adanya pencapaian itu, pemerintah ingin pesantren mampu melahirkan para santri yang menguasai teknologi di tengah gempuran era serba digital.

"Kita ingin pesantren juga mampu melahirkan para santri yang menguasai teknologi. Baik di bidang pertanian modern, peternakan modern, robotik, blockchain, dan AI," tutur dia.

Gibran menuturkan, para santri harus mampu menjadi pencipta peluang dan menjadi pelopor inovasi yang menciptakan solusi.

"Serta menjadi bagian dari perubahan tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai akhlak yang selama ini melekat pada diri para santri," ucapnya.

Perlu perbaikan

Namun, Gibran mengakui masih banyak kekurangan di pondok pesantren yang perlu diperbaiki agar para santri dapat bersaing secara global.

Baca juga: Gibran: 11 Juta Santri Ponpes Kekuatan Sosial-Ekonomi Masa Depan

Gibran menuturkan, pemerintah berjanji akan membantu mendukung kemandirian ekonomi pesantren, mulai dari tata kelolanya sampai aksesibilitas teknologi dan permodalan.

"Memang masih banyak hal yang harus kita perbaiki bersama. Mulai dari tata kelola pondok pesantren, aksesibilitas terhadap teknologi dan pelatihan, aksesibilitas permodalan untuk mendukung kemandirian ekonomi pesantren," katanya.

Atas dasar ini, Presiden RI Prabowo Subianto membentuk Direktorat Jenderal Pesantren karena ingin pengembangan pondok pesantren dan menjadikan pesantren sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional.

"Untuk meningkatkan tata kelola layanan pendidikan di pesantren, menginventarisir permasalahan dan mencarikan alternatif solusi terhadap kendala yang dihadapi pesantren, serta mendorong transformasi pesantren menjadi pendorong inovasi dan ekonomi lokal," jelasnya.

Butuh biaya Rp 12,6 triliun

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa anggaran awal yang dibutuhkan untuk pembentukan Ditjen Pesantren mencapai Rp 12,6 triliun.

Baca juga: Gibran Ungkap Alasan Prabowo Bentuk Dirjen Pesantren di Kemenag

Angka tersebut didapatkan dari hasil perhitungan sementara Kemenag untuk pembentukan satuan kerja jajaran eselon 1 tersebut.

"Berkenaan dengan pembentukan Eselon 1 baru ini saat ini kami melakukan penghitungan kebutuhan anggaran dan untuk sementara diperkirakan diperlukan anggaran Rp 12,6 triliun untuk hal tersebut," ujar Nasaruddin dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI, Rabu (28/1/2026).

Menag menekankan, Ditjen Pesantren yang baru dibentuk ini akan memiliki tiga tugas dan fungsi strategis, yakni mencakup pendidikan, keagamaan, dan pemberdayaan ekonomi.

Dengan lingkup tugas yang luas tersebut, lanjut Nasaruddin, Ditjen Pesantren memerlukan pendanaan memadai agar bisa menjalankan mandatnya secara optimal.

"Termasuk dalam pembinaan kelembagaan peningkatan mutu pendidikan Pesantren serta penguatan peran pesantren dalam kemandirian ekonomi umat," jelas Nasaruddin.

Tag:  #janji #harapan #gibran #untuk #para #santri #setelah #ditjen #pesantren #dibentuk

KOMENTAR