Dari Kasus Anak Bunuh Diri di NTT, Awam Prakoso dalam Tangisnya Pertanyakan Langkah Pemerintah Atasi Kemiskinan
Pendongeng, Awam Prakoso menangis saat membacakan kisah memilukan seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengakhiri hidupnya karena kemiskinan. Tragedi ini membuat Awam mempertanyakan peran negara yang dinilai gagal melindungi anak-anak dari dampak kemiskinan struktural.
Dalam video yang dia unggah, Awam menyuarakan kegelisahan mendalam terhadap fakta bahwa persoalan dasar seperti pendidikan dan kemiskinan masih menjadi beban berat. Padahal Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya sumber daya.
"Jadi siapapun yang berwenang, negara kita kan negara yang sangat kaya ya. Kalau memang betul ini persoalan sekolah, persoalan kemiskinan yang harus diatasi, apakah memang ini sesuatu yang sangat sulit ya dilakukan dengan negara yang sangat kaya raya ini?” kata Awam, dikutip Rabu (4/2).
Awam juga mengajak publik untuk tidak membiarkan tragedi ini berlalu begitu saja. Menurutnya, ada luka sosial yang terlalu sunyi jika terus diabaikan oleh para pemegang kebijakan.
“Sama-sama up berita ini, karena ada luka yang terlalu sunyi jika dibiarkan. Ada kesedihan mendalam di balik kisah ini. Kisah kemiskinan yang gagal dientaskan,” tulis Awam.
Ia pun menyampaikan pesan keras namun penuh empati kepada para pejabat dan pengambil keputusan agar bekerja dengan niat tulus demi keselamatan banyak nyawa.
“Wahai bapak-ibu yang duduk di sana, tugas ini sesungguhnya tidak berat jika dikerjakan dengan niat baik dari hati yang suci. Karena satu kebijakan yang berpihak, bisa menyelamatkan banyak kehidupan,” lanjutnya.
Unggahan Awam menuai reaksi luas dari warganet. Banyak yang menyampaikan duka mendalam sekaligus mendukung seruan agar pemerintah lebih serius menangani kemiskinan dan kesenjangan akses pendidikan, terutama di daerah tertinggal seperti NTT.
Kronologi Siswa SD Bunuh Diri di Ngada, Nusa Tenggara Timur
Duka mendalam menyelimuti warga Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang siswa kelas IV sekolah dasar berinisial YBS, 10, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di sebuah pohon cengkeh.
Peristiwa pilu ini bermula dari permintaan sederhana. Sehari sebelum kejadian, YBS sempat meminta ibunya untuk dibelikan buku tulis dan pensil. Namun keterbatasan ekonomi membuat sang ibu tak mampu memenuhi permintaan tersebut.
Camat Jerebuu, Bernardus H. Tage, menuturkan bahwa YBS dikenal sebagai anak pendiam, sopan, dan rajin belajar. Meski hidup dalam kekurangan, ia tidak pernah menunjukkan tanda-tanda menyimpan beban berat.
“Menurut keterangan tetangga, dia anak yang baik dan rajin sekolah. Tidak ada tanda-tanda yang mencolok bahwa dia menyimpan beban berat,” ujar Bernardus, dikutip dari Radar Pati, Rabu (4/2).
Ayah YBS diketahui telah meninggal dunia sebelum ia lahir. Selama ini, YBS tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun, sementara sang ibu tinggal di kampung lain bersama lima anak lainnya.
Pada Kamis pagi, warga sempat melihat YBS duduk di depan rumah neneknya, padahal pagi itu ia seharusnya berangkat ke sekolah. Beberapa jam kemudian, tubuh YBS ditemukan oleh warga yang sedang menggembalakan kerbau di sekitar lokasi.
Sang ibu, MGT, (47), mengungkapkan bahwa YBS menginap di rumahnya pada malam sebelumnya. Pagi hari sekitar pukul 06.00 WITA, YBS diantar menggunakan ojek menuju rumah neneknya.
“Saya sempat berpesan supaya rajin sekolah dan mengerti kondisi keluarga yang sedang sulit,” ujar sang ibu dengan suara bergetar.
Tragedi ini semakin memilukan setelah aparat Polres Ngada menemukan secarik kertas berisi surat wasiat tulisan tangan YBS menggunakan bahasa daerah setempat. Surat tersebut ditujukan kepada ibunya, berisi pesan agar sang ibu tidak menangis dan merelakan kepergiannya. Di bagian akhir surat, terdapat gambar sederhana menyerupai emoji wajah menangis.
Tag: #dari #kasus #anak #bunuh #diri #nttawam #prakoso #dalam #tangisnya #pertanyakan #langkah #pemerintah #atasi #kemiskinan