Maruli: Dari Semua Penanganan Bencana, Pasti Ada Tentaranya
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak di Satuan Angkutan Air (Satangair) Pusat Perbekalan Angkatan Darat (Pusbekangad), Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (6/1/2026). (KOMPAS.com/BAHARUDIN AL FARISI)
09:32
7 Januari 2026

Maruli: Dari Semua Penanganan Bencana, Pasti Ada Tentaranya

- Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menyatakan bahwa prajuritnya selalu ada di setiap penanganan pemulihan bencana alam.

Hal itu disampaikan Maruli saat menjawab apakah TNI Angkatan Darat siap jika dilibatkan dalam Satuan Tugas (Satgas) Kuala, unit khusus dalam upaya mengatasi pendangkalan sungai dan muara di wilayah terdampak banjir Sumatera.

“Kalau kami sih, dari semua proyek yang (penanganan) bencana alam, itu pasti ada tentaranya,” ujar Maruli di Satangair Pusbekangad, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (6/1/2026).

Keterlibatan TNI Angkatan Darat meliputi pembangunan hunian sementara (huntara), pembangunan jembatan, serta pembersihan sekolah, pasar, dan jalan, yang dipenuhi lumpur.

“Semua ada tentara Angkatan Darat,” tegas dia.

Terlepas dari itu, Maruli tidak mengetahui banyak soal Satgas Kuala ini.

Maruli hanya mengetahui proses pembentukan Satgas Kuala berdasarkan usulan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin kepada Presiden Prabowo Subianto saat rapat terbatas (ratas) di Kabupaten Aceh Tamiang, Kamis (1/1/2026).

“Jadi memang itu saya tidak terlalu mengerti persis juga, tapi yang jelas itu sudah ada pendangkalan di muara yang akan diperdalam sehingga bisa jalur perahu,” jelas dia.

Satgas Kuala dipimpin Wakil Panglima TNI

Diberitakan sebelumnya, Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita ditunjuk sebagai Komandan Satuan Tugas (Satgas) Kuala, unit khusus dalam upaya pendangkalan sungai dan muara di wilayah terdampak akibat bencana Sumatera.

“Satgas Kuala melibatkan sekitar 200 personel, dipimpin oleh Wakil Panglima TNI sebagai Komandan Satgas,” kata Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (5/1/2026).

Rapat tersebut menetapkan pembagian tugas Satgas Kuala ke dalam dua gugus tugas utama, yakni Gugus Tugas Pendalaman Kuala Tamiang dan Gugus Tugas Normalisasi Kuala.

Dengan kesepakatan tersebut, pergeseran kapal dan peralatan akan dilaksanakan secara bertahap hingga minggu kedua Januari 2026, dengan muara Sungai Tamiang sebagai titik kumpul utama.

Selanjutnya, awal pelaksanaan tugas Satgas Kuala direncanakan dimulai awal Februari 2026, seiring dengan program rehabilitasi dan rekonstruksi yang tengah berjalan.

“Dukungan logistik disiapkan oleh Kementerian Pertahanan, termasuk pemanfaatan fasilitas pendukung yang diperlukan seperti speed boat dan hovercraft,” kata Sjafrie.

“Gugus Tugas Normalisasi juga akan dilengkapi dengan peralatan penjernih air, guna membantu penyediaan air bersih bagi masyarakat di sepanjang bantaran sungai dan kawasan muara,” imbuh dia.

Aspek pendukung lainnya berupa pengurusan administrasi lingkungan yang dikoordinasikan Mabes TNI serta penyelenggaraan layanan kesehatan mandiri bagi personel Satgas Kuala selama bertugas di lapangan.

“Kendali operasi Satgas Kuala akan dilaksanakan dari Kapal Markas Kementerian Pertahanan yang dikawal oleh KRI, dengan koordinasi erat bersama pemerintah daerah kabupaten serta instansi terkait lainnya,” kata Sjafrie.

Tag:  #maruli #dari #semua #penanganan #bencana #pasti #tentaranya

KOMENTAR