9 Fakta dan Kronologi Perang Knetz vs SEAblings Memanas di Medsos
Perang digital antara Knetz dan SEAblings menjadi salah satu topik paling panas di platform X (dulu Twitter) pada awal 2026. Konflik ini mempertemukan netizen Korea Selatan, yang dikenal sebagai Knetz, dengan netizen Asia Tenggara yang kemudian menyebut diri mereka sebagai SEAblings.
Awalnya hanya persoalan aturan konser, namun perdebatan tersebut berkembang menjadi konflik lintas negara yang menyeret isu budaya, stereotip ekonomi, hingga tuduhan rasisme. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana media sosial dapat memperbesar konflik kecil menjadi isu lintas negara.
Dalam hitungan hari, jutaan pengguna terlibat dalam percakapan yang awalnya hanya berakar pada etika konser. Dari sebuah kamera konser, perdebatan menjelma menjadi refleksi tentang harga diri kawasan dan dinamika fandom internasional di era media sosial.
Setidaknya bila diringkas, ada sembilan fakta dan kronologi perang Knetz vs SEAblings. Berikut ringkasan 9 fakta dan kronologi perang Knezt vs SEAblings.
1. Bermula dari Konser DAY6 di Kuala Lumpur
Konflik ini dipicu oleh konser band Korea Selatan DAY6 yang digelar di Axiata Arena, Kuala Lumpur, Malaysia, pada 31 Januari 2026.
Dalam konser tersebut, sejumlah fansite asal Korea Selatan tertangkap membawa kamera profesional dengan lensa tele. Padahal, promotor telah melarang penggunaan DSLR dan lensa besar demi kenyamanan penonton serta aturan hak cipta.
Aksi itu direkam oleh penonton lokal dan langsung viral di media sosial. Dari sinilah percikan pertama konflik muncul.
2. Protes Netizen Malaysia dan Asia Tenggara
Setelah foto dan video pelanggaran tersebar, netizen Malaysia melayangkan kritik terhadap fansite yang dianggap tidak menghormati aturan lokal.
Beberapa unggahan menyebut bahwa tindakan tersebut mengganggu penonton lain. Awalnya, perdebatan masih berkisar pada etika konser dan aturan promotor.
Namun, situasi mulai memanas ketika salah satu fansite yang diprotes merespons dengan nada emosional sebelum akhirnya meminta maaf secara terbuka.
3. Tuduhan Doxing Memicu Gelombang Baru
Ketegangan meningkat ketika wajah oknum fansite yang melanggar aturan diunggah oleh sebagian penonton sebagai bentuk protes.
Langkah ini kemudian dituding sebagai doxing oleh sejumlah Knetz. Dari sinilah gelombang komentar balasan mulai bermunculan, memperluas konflik dari isu aturan konser menjadi persoalan antar komunitas netizen.
4. Munculnya Komentar Bernada Rasis
Alih-alih mereda setelah permintaan maaf, konflik justru semakin melebar. Sejumlah akun yang diasosiasikan sebagai Knetz melontarkan komentar yang dianggap menyerang identitas masyarakat Asia Tenggara.
Beberapa komentar menyentuh stereotip ekonomi, warna kulit, hingga mempertanyakan mengapa penggemar Asia Tenggara mendukung artis Korea. Narasi tersebut memicu kemarahan luas karena dinilai tidak lagi membahas insiden awal, melainkan menyerang martabat kawasan.
Di titik ini, konflik berubah dari debat fandom menjadi isu harga diri regional.
5. Serangan Meluas ke Budaya dan Talenta Lokal
Situasi makin panas ketika aset budaya dan figur publik Asia Tenggara ikut menjadi sasaran ejekan.
Video klip girl group Indonesia No na yang berlatar persawahan misalnya, menjadi bahan komentar bernada stereotip. Aktor Indonesia Baskara Mahendra juga disebut menerima tanggapan negatif yang dikaitkan dengan identitas nasional.
Perdebatan yang awalnya spesifik tentang konser kini berubah menjadi diskusi tentang budaya, ekonomi, dan identitas Asia Tenggara secara keseluruhan.
6. SEAblings Lahir sebagai Simbol Solidaritas
Di tengah konflik, netizen Asia Tenggara mulai menunjukkan solidaritas lintas negara. Mereka menggunakan istilah SEAblings, gabungan dari “SEA” (Southeast Asia) dan “siblings” (saudara), sebagai simbol persatuan digital.
Istilah ini merujuk pada netizen dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan negara ASEAN lainnya yang bersatu dalam kolom balasan.
Hashtag #SEAblings pun trending di X. Tagar tersebut menjadi semacam “seruan kumpul” bagi netizen Asia Tenggara untuk saling mendukung dan melawan narasi yang dianggap merendahkan kawasan.
7. Strategi Serangan Balik: Angkat Prestasi
Alih-alih hanya membalas dengan amarah, sebagian netizen Asia Tenggara memilih strategi berbeda. Mereka mengangkat prestasi dan pengakuan internasional terhadap talenta regional.
Salah satu yang kembali diangkat adalah kolaborasi rapper Korea LOCO dengan penyanyi Indonesia Feby Putri dalam lagu “No Where”. Warganet menyoroti bagaimana sebelumnya akun-akun Korea memuji kualitas vokal Feby Putri.
Pernyataan LOCO yang mengaku terkesan dengan suara Feby Putri pun kembali viral. Strategi ini dianggap sebagai cara elegan untuk menunjukkan bahwa Asia Tenggara memiliki talenta yang diakui secara global.
8. Humor +62 dan Meme Jadi Senjata Digital
Salah satu ciri khas konflik ini adalah penggunaan humor dan meme oleh netizen Indonesia.
Alih-alih fokus untuk “menang debat”, banyak warganet memilih membuat meme satir yang mengundang tawa sekaligus sindiran. Pendekatan ini membuat konflik semakin viral karena konten humor lebih mudah tersebar di timeline.
Fenomena meme ini juga mempercepat eskalasi karena algoritma X cenderung mengangkat konten dengan engagement tinggi.
9. Dari Insiden Kecil ke Isu Identitas Regional
Keunikan Perang Knetz vs SEAblings adalah skalanya. Insiden yang awalnya hanya menyangkut pelanggaran aturan konser berubah menjadi perdebatan global tentang identitas budaya, solidaritas regional, dan perilaku rasis di ruang digital.
Meski demikian, penting dicatat bahwa tidak semua netizen Korea mendukung komentar bernada rasis. Sebagian pengguna Korea Selatan justru meminta agar konflik ini tidak digeneralisasi dan tidak mewakili seluruh masyarakat.
Demikian itu fakta dan kronologi perang knetz vs SEAblings. Perang SEAblings vs Knetz menjadi sebuah penanda bahwa dunia digital bukan sekadar ruang hiburan. Dunia digital juga merupakan sebuah arena pembentukan identitas, solidaritas, sekaligus konflik.
Kontributor : Mutaya Saroh
Tag: #fakta #kronologi #perang #knetz #seablings #memanas #medsos