Kasus Dugaan Pelecehan Mohan Hazian, Mengapa Korban Baru Berani Speak Up Setelah Berbulan-bulan?
Ilustrasi pelecehan seksual.()
19:35
11 Februari 2026

Kasus Dugaan Pelecehan Mohan Hazian, Mengapa Korban Baru Berani Speak Up Setelah Berbulan-bulan?

- Kasus dugaan pelecehan seksual yang menyeret nama Mohan Hazian, pemilik jenama Thanksinsomnia, menjadi sorotan publik.

Peristiwa yang disebut terjadi pada 2025 lalu itu, baru diungkap korban ke ruang publik beberapa bulan kemudian dan memicu diskusi luas soal trauma, keberanian korban, serta budaya victim blaming yang masih kuat di masyarakat.

Dalam keterangan yang beredar, korban merupakan talent pemotretan produk. Setelah sesi photoshoot selesai, korban diajak makan bersama.

Baca juga: Marak Kasus Pelecehan Seksual, Psikolog Ungkap 5 Cara Mencegahnya

Namun, situasi tersebut berubah ketika korban justru dibawa berdua saja dan mengalami dugaan pelecehan seksual. Pengalaman itu meninggalkan trauma mendalam hingga korban baru berani bersuara setelah waktu berlalu.

Melalui akun Instagram pribadinya, Mohan Hazian telah menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi.

Psikolog menilai, keterlambatan korban untuk speak up adalah reaksi yang wajar. Ada banyak faktor psikologis yang membuat korban membutuhkan waktu panjang sebelum akhirnya mampu menceritakan pengalaman traumatis yang dialami.

1. Respons trauma membuat korban membeku

Psikolog Klinis Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia sekaligus Dosen Program Studi Psikologi Universitas Pembangunan Jaya, Ellyana Dwi Farisandy, M.Psi., Psikolog menjelaskan, salah satu alasan utama korban terlambat bersuara adalah respons trauma.

“Pertama adalah terkait dengan respons trauma. Kita punya salah satu respons trauma adalah freeze, sebuah respons dimana kita membeku, enggak bisa ngapa-ngapain,” jelas Ellyana saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (11/2/2026).

Ia menuturkan, kondisi freeze merupakan upaya alami otak untuk membantu korban bertahan hidup. Dalam situasi yang dirasakan sangat mengancam, tubuh dan pikiran bisa seolah berhenti bekerja sebagai mekanisme perlindungan.

Selain itu, Ellyana menyebut adanya mekanisme pertahanan diri lain, yakni repression atau penekanan ingatan traumatis.

Baca juga: 4 Langkah yang Harus Dilakukan jika Mengalami Pelecehan Seksual

“Kemudian ada defense mechanism repression. Ketika ada pengalaman yang sangat menyakitkan, kita berusaha menekan pengalaman itu dalam-dalam dan tidak ingin orang lain tahu tentang hal itu,” ujarnya.

Tak jarang, korban juga mengalami denial atau penyangkalan atas kejadian yang menimpanya.

“Bahkan kita juga bisa denial, kita menyangkal bahwa hal itu terjadi pada kita,” tambah Ellyana.

2. Rasa malu, tidak berdaya, dan penyesalan mendalam

Menurut Ellyana, trauma pelecehan seksual kerap diiringi perasaan malu dan tidak berdaya. Korban sering kali menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi.

“Adanya perasaan malu, perasaan tidak berdaya. Lalu muncul pertanyaan, kenapa pada saat itu aku tidak melawan? Kenapa pada saat itu aku tidak berteriak?” kata Ellyana.

Ia menyebut, korban kerap terjebak dalam berbagai perandaian yang disesalkan.

“Banyak perandaian yang disesalkan, ada juga kekhawatiran kalau bercerita ke orang lain, ini menjadi aib yang diketahui orang banyak,” lanjutnya.

Padahal, pelecehan seksual terjadi karena niat dan perilaku pelaku, bukan karena pakaian korban, waktu korban berada di luar rumah, atau hal lain yang kerap dijadikan alasan pembenaran.

Luka psikologis akibat pelecehan justru bisa terasa semakin menyakitkan ketika korban harus mengulang kembali ceritanya.

“Sebenarnya ada beberapa korban yang ingin speak up, tapi karena lukanya terlalu menyakitkan dan dalam, rasanya tidak kuat untuk menceritakan ulang kejadian tersebut,” ujar Ellyana.

Ia menegaskan, ketika korban memilih menunda bercerita hingga benar-benar siap, hal tersebut perlu dipahami dan dihormati.

Keberanian korban untuk akhirnya bersuara, meski telah lama berlalu, layak diapresiasi karena proses itu tidak mudah.

Baca juga: Stop Menyalahkan Korban Pelecehan Seksual, Pahami Dampaknya!

3. Ketimpangan kekuasaan dan minimnya ruang aman

Psikolog Klinis lainnya, Jessica Rosdiana Tobing, M.Psi., Psikolog menambahkan, banyak korban pelecehan seksual merasa terjebak dalam kebingungan dan ketakutan setelah kejadian berlangsung.

“Beberapa diantaranya merasa malu, bersalah, dan bingung harus berbuat apa atau melapor kemana. Terlebih, tidak semua orang punya tempat cerita yang aman,” kata Jessica.

Ia menyoroti, pelecehan seksual kerap terjadi dalam relasi yang tidak setara. Beberapa pelaku merasa punya kendali dan kekuasaan untuk melakukan aksi tidak terpujinya.

“Lalu, korban bisa juga merasa takut karena adanya ancaman. Pelecehan seksual itu tidak bisa dipisahkan dari ketimpangan kekuasaan,” jelasnya.

Dalam sejumlah kasus, korban bahkan menerima ancaman jika berani melapor. Situasi ini semakin memperkuat ketakutan korban untuk bersuara, baik kepada lingkungan terdekat maupun pihak berwenang.

4. Budaya victim blaming membungkam korban

Jessica juga menekankan bahwa budaya victim blaming masih menjadi hambatan besar bagi korban pelecehan seksual.

“Kalau melapor, korban juga sering dihadapi dengan budaya victim blaming atau malah korban yang disalahkan. Ada asumsi korban telah melakukan sesuatu yang memicu pelaku melakukan aksinya,” ujarnya.

Dalam praktiknya, fokus sering kali bergeser dari pelaku ke korban, mulai dari cara berpakaian hingga waktu korban berada di luar rumah.

Hal inilah yang membuat banyak korban memilih diam, karena takut tidak dipercaya atau justru disalahkan.

“Hal ini yang juga membuat korban takut untuk melapor bahkan ke pihak otoritas, karena takutnya tidak dipercaya. Beberapa korban lainnya, mereka juga butuh waktu untuk merasa aman,” ungkap Jessica.

Kasus dugaan pelecehan Mohan Hazian menjadi pengingat bahwa keterlambatan korban untuk speak up bukanlah tanda kebohongan, melainkan cerminan dari luka trauma yang kompleks.

Dukungan, empati, serta keberpihakan pada korban menjadi kunci agar ruang aman benar-benar terwujud bagi mereka yang berani bersuara.

Baca juga: Mengapa Korban Pelecehan Seksual Cenderung Diam? Pahami 3 Respons Alami Tubuh dalam Situasi Bahaya

Tag:  #kasus #dugaan #pelecehan #mohan #hazian #mengapa #korban #baru #berani #speak #setelah #berbulan #bulan

KOMENTAR