5 Cara Sederhana Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Batita
Ilustrasi ibu dan anak(freepik.com)
14:40
11 Februari 2026

5 Cara Sederhana Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Batita

- Di usia satu hingga tiga tahun, anak mulai belajar mengekspresikan kebutuhan, perasaan, dan keinginannya, baik melalui kata, suara, maupun bahasa tubuh. 

Meski begitu, tak sedikit orangtua yang merasa khawatir ketika anak terlihat lebih pendiam dibandingkan teman sebayanya.

Menurut terapis wicara sekaligus penulis Path for Words: Five-Minute Language Learning Activities for Children Ages One to Three Years, Marie Martinez, orangtua tidak perlu panik. 

Ada banyak cara sederhana yang bisa dilakukan sehari-hari untuk membantu batita mengembangkan kemampuan komunikasinya, tanpa harus mengandalkan kartu belajar atau program mahal.

Simak 5 cara yang dapat diterapkan orangtua untuk meningkatkan kemampuan komunikasi batita, seperti dikutip Parents, Rabu (11/2/2026).

Baca juga: Pahami 4 Perasaan Anak saat Ia Terlihat Putus Asa, Menurut Psikolog

1. Mendengarkan anak

Bagi orang dewasa, mengajarkan anak berbicara sering kali diartikan sebagai aktif mengajak anak bicara. Padahal, langkah awal yang tidak kalah penting justru adalah mendengarkan. 

Dengan benar-benar memperhatikan suara, ocehan, hingga bahasa tubuh anak, orangtua dapat memahami bagaimana pola komunikasi anak berkembang.

Marie Martinez menyarankan orangtua menyediakan waktu khusus hanya untuk mengamati anak.

“Sebagai contoh, pasang timer selama lima menit dan dengarkan suara, kata, atau frasa yang diucapkan anak, termasuk gerakan dan aktivitas yang sedang ia lakukan,” ujar Martinez.

Ia menambahkan, mencatat kebiasaan tersebut secara rutin dapat membantu orangtua melihat perkembangan anak dari waktu ke waktu.

“Catatan sederhana ini bisa membantu orangtua memahami kemampuan bahasa anak, memberikan informasi yang lebih akurat kepada dokter anak, serta menjadi dasar untuk meningkatkan kompleksitas bahasanya,” jelasnya.

Baca juga: Wajib Tahu, Ini Fondasi Perkembangan Emosi Anak

IlustrasiFREEPIK Ilustrasi

2. Manfaatkan pekerjaan rumah sebagai kesempatan belajar

Aktivitas rumah tangga yang tampak sepele ternyata bisa menjadi sarana belajar bahasa yang efektif bagi batita. Saat orangtua mencuci piring, melipat pakaian, atau menyapu lantai, anak dapat diperkenalkan pada kosakata baru secara alami.

“Ketika mengemudi, mencuci piring, atau mencuci pakaian, bicarakan kepada anak apa yang sedang kamu lakukan,” kata Martinez.

Ia memberi contoh, saat mencuci pakaian, orangtua bisa menyebutkan jenis pakaian, kepemilikan barang, serta kata kerja seperti menuang atau memasukkan.

Menurutnya, kebiasaan ini membantu anak memahami bahwa setiap benda dan tindakan memiliki nama.

“Pastikan kamu merayakan setiap usaha anak untuk meniru kata atau gerakan yang Anda lakukan,” ujarnya. 

Apresiasi kecil ini dapat meningkatkan kepercayaan diri anak untuk terus mencoba berkomunikasi.

Baca juga: Bukan Hanya Belajar, Rasa Berharga Jadi Kunci Anak Bisa Berprestasi

3. Gunakan waktu di perjalanan sebagai momen mengobrol

Perjalanan menggunakan mobil atau transportasi umum bisa menjadi momen emas untuk melatih kemampuan komunikasi batita. 

Anak dapat diajak berbicara tentang tujuan perjalanan, apa yang mereka lihat di luar jendela, atau perasaan mereka selama perjalanan. Salah satu cara paling sederhana adalah mendengarkan musik bersama.

“Pilihan sederhana seperti ‘kamu mau lagu Wheels on the Bus atau Twinkle Twinkle?’ memberi kesempatan pada anak untuk memilih, mendengarkan lirik, bernyanyi, atau menirukan gerakan,” ujar Martinez.

Ia menekankan, musik membantu anak memahami ritme bahasa sekaligus memperkaya kosakata.  Bahkan, merespons pilihan anak, baik lewat kata, tepukan tangan, atau gestur, sudah termasuk latihan komunikasi yang bermakna.

Baca juga: Waktu yang Tepat bagi Anak untuk Mulai Belajar Puasa, Ini Saran Dokter

4. Jadikan waktu makan sebagai ajang berbicara

Waktu makan sering kali dipenuhi kesibukan, mulai dari menyiapkan makanan hingga memastikan anak mau duduk dengan tenang. 

Namun, momen ini sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan bahasa.

Martinez menyarankan orangtua menyebutkan nama setiap makanan dan alat makan yang digunakan anak. Hal ini membantu anak menghubungkan kata dengan objek nyata.

“Saat berkata, ‘Di mana gelasmu?’ saya membuat gerakan dramatis seperti mengangkat bahu dan alis. Ketika anak meniru gerakan tersebut, kami merayakannya,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan ini memberi kesempatan anak untuk meniru secara verbal maupun gestur, sekaligus memperkuat pemahaman kata.

Baca juga: Cara Berkomunikasi dengan Anak Remaja Saat Mereka Tidak Ingin Bicara

5. Pahami perilaku dan emosi sebagai bentuk komunikasi

Tidak semua komunikasi batita disampaikan lewat kata-kata. Tangisan, tantrum, atau ekspresi emosi besar merupakan salah satu cara anak menyampaikan kebutuhannya karena belum bisa mengungkapkan dengan bahasa yang kompleks.

“Ketika batita tantrum, tarik napas, pastikan semua aman, sejajarkan posisi mata, dan coba pahami apa yang ingin mereka sampaikan,” kata Martinez.

Ia menyarankan orangtua mengajarkan satu kata atau gerakan sederhana untuk mewakili emosi tertentu, seperti marah atau sedih.

“Catat kata atau gestur tersebut dan gunakan secara konsisten dalam aktivitas sehari-hari agar anak punya kesempatan berlatih,” tambahnya.

Pendekatan ini tidak hanya membantu anak berkomunikasi lebih baik, tetapi juga mengurangi potensi tantrum di kemudian hari.

Setiap batita memiliki ritme perkembangan komunikasi yang berbeda.  Dengan pendampingan yang konsisten, penuh kesabaran, dan responsif terhadap kebutuhan anak, orangtua dapat membantu batita tumbuh menjadi komunikator yang percaya diri. 

Kunci utamanya bukan terletak pada metode yang rumit, melainkan pada kehadiran orangtua dalam setiap momen kecil sehari-hari.

Baca juga: Peran Komunikasi Orangtua dalam Pembentukan Perilaku Anak

Tag:  #cara #sederhana #meningkatkan #kemampuan #komunikasi #batita

KOMENTAR