Perempuan Sabu Raijua, Penjaga Tradisi dan Motor Ekonomi Gula Semut
Seorang perempuan di Desa Oliode, Kecamatan Sabu Tengah, Kabupaten Sabu Raijua, membuat gula semut.(Dokumentasi pribadi)
13:14
11 Februari 2026

Perempuan Sabu Raijua, Penjaga Tradisi dan Motor Ekonomi Gula Semut

Baca 10 detik
  • Perempuan memegang peran krusial dalam produksi gula semut di Sabu Raijua, terutama pada tahap pascapanen.
  • Peran perempuan dalam rantai produksi ini mendorong kemandirian ekonomi namun menimbulkan tantangan beban ganda (triple burden).
  • Program pendanaan memprioritaskan kelompok perempuan agar mendapat manfaat setara dan meningkatkan literasi keuangan.

Sinergi gender menjadi roda penggerak dalam rantau produksi gula semut di Desa Oilode, Kecamatan Sabu Tengah, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Perempuan memegang peranan penting dalam proses pascapanen. Namun, di tengah peran krusial tersebut, para perempuan menghadapi tantangan lain: triple burden.

Di tengah bentang alam semiarid Sabu Raijua, “pohon kehidupan” bernama lontar menyediakan hampir semua kebutuhan dasar masyarakat. Dalam pengolahan nira lontar menjadi gula semut, ada pembagian peran gender yang sangat spesifik dan efisien. Perempuan memegang kendali utama pada tahap pascapanen yang menentukan kualitas produk.

Kemandirian ekonomi masyarakat di sana menemukan momentum baru lewat keterlibatan aktif kaum perempuan dalam rantai produksi gula semut. Di balik butiran manis berwarna coklat ini, tersaji harmoni pembagian kerja berbasis gender. Tidak cuma berjalan alami, tapi juga sangat efisien dalam menjaga ritme industri rumahan tersebut.

Semuel Uly selaku Ketua Kelompok Tani Suka Maju di Desa Oilode menggambarkan proses produksi dimulai dari pekerjaan berisiko tinggi yang dilakukan laki-laki. Para penyadap harus memanjat pohon setinggi 20 hingga 30 meter untuk mengambil nira. Setelah nira terkumpul dan dibawa ke rumah, peran krusial berpindah ke tangan istri dan anak perempuan mereka.

Gula semut, salah satu komoditi lokal dari Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur.(Dokumentasi pribadi) PerbesarGula semut, salah satu komoditi lokal dari Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur.(Dokumentasi pribadi)

“Laki-laki dan perempuan mengambil peran dalam produksi gula semut. Laki-laki fokus di penyadapan, sedangkan perempuan mayoritas berperan pasca panen: memasak, memproses yang meliputi penjemuran, penghalusan, dan penempelan label sampai produk siap dijual,” jelas Semuel saat ditemui di kediamannya, Kamis (15/1/2026).

Ya, pekerjaan pascapanen memang menuntut ketelitian dan kesabaran tinggi. Para perempuan harus menyaring nira agar bersih dari kotoran dan serpihan daun demi menjaga mutu. Mereka kemudian memasak nira di atas tungku kayu bakar selama 3 sampai 4 jam sambil terus mengaduknya agar tidak gosong.

Nah, setelah cairan nila mengental, kuali diangkat dari tungku dan didiamkan sekitar 10 menit untuk pendinginan awal. Tahap terakhir ini sangat menentukan. Setelah mengental, butiran gula dibentuk dengan cara diaduk menggunakan batok kelapa, lalu dijemur di bawah sinar matahari dan dikemas ke dalam stoples atau plastik.

Motivasi ekonomi dan kontribusi keluarga

Selaku ketua kelompok, Semuel menegaskan kolaborasi ini bukan tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga memperkuat posisi perempuan dalam kegiatan produktif di tingkat tapak. Bagi para perempuan, kata dia, keterlibatan didorong keinginan untuk membantu suami dan mendapatkan pendapatan tambahan demi menopang ekonomi keluarga.

Motivasi ekonomi ini disampaikan oleh anggota kelompok perempuan di Desa Ranyale, Kecamatan Sabu Barat. Di sana, mereka membuat gula sabu dan stik lontar. Mereka ikut andil dalam program Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia Fase 7. Salah satu motivasi utama mereka adalah ingin mendapatkan tambahan pemasukan.

“Untuk mendapatkan pendapatan tambahan. Di samping membantu suami memasak gula sabu, mereka ingin mendapatkan pemasukan dari usaha lain untuk membantu perekonomian keluarga,” ujar salah seorang anggota kelompok perempuan di Desa Ranyale.

Meskipun memproduksi gula semut dianggap lebih menguntungkan karena nilai jualnya yang lebih tinggi dan daya simpan yang lebih lama, para perempuan ini masih harus menghadapi tantangan psikologis di masyarakat. Banyak warga yang masih enggan beralih dari gula cair tradisional karena persepsi kerumitan prosesnya.

“Masyarakat lebih memilih produksi gula Sabu cair karena dianggap praktis. Proses produksi gula semut dianggap lebih rumit dibandingkan dengan produksi gula cair,” kata Semuel.

Infografis peran perempuan dalam produksi gula semut di Sabu Raijua.(Dibuat oleh NotebookLM) PerbesarInfografis peran perempuan dalam produksi gula semut di Sabu Raijua.(Dibuat oleh NotebookLM)

Tantangan Beban Ganda dan Inklusivitas

Di balik peran produktifnya, perempuan Sabu Raijua menghadapi tantangan lain. Latipah, Direktur Yayasan Detara sebagai konsultan inklusivitas gender, mengatakan perempuan memikul beban yang sangat berat atau dikenal sebagai triple burden.

Di samping bekerja di kebun dan mengolah gula, mereka bertanggung jawab penuh atas tugas domestik seperti pengasuhan anak, penyediaan pangan, dan pembersihan rumah. Bahkan, tugas fisik berat seperti mengambil air dari sumur atau sungai sering kali dilakukan oleh perempuan dan anak-anak.

Pandangan tersebut disampaikan Latipah dalam acara focus group discussion (FGD) yang digelar oleh GEF SGP Indonesia dan Yayasan Pikul di Kantor DPRD Kabupaten Sabu Raijua, Rabu 14 Januari 2026.

Ironisnya, besarnya kontribusi ekonomi ini belum sepenuhnya sejalan dengan keterlibatan mereka dalam pengambilan keputusan publik. Sebagian besar perempuan di desa-desa seperti Pedarro dan Eilogo tidak pernah terlibat dalam musyawarah desa. Banyak yang merasa canggung atau merasa suaranya sudah diwakilkan oleh kaum laki-laki.

Keterlibatan perempuan dalam produksi gula semut bukan sekadar urusan dapur, melainkan upaya strategis untuk meningkatkan posisi tawar mereka di masyarakat. Melalui pengolahan produk bernilai tinggi ini, perempuan Sabu Raijua membuktikan diri sebagai motor penggerak ketangguhan komunitas dalam menghadapi tantangan iklim dan ekonomi yang keras di pulau mereka.

Kelompok perempuan harus mendapat manfaat setara

Menjelang berakhirnya program pada Juni 2026, GEF SGP Indonesia memang menempatkan perempuan menjadi salah satu kelompok yang bakal diprioritaskan. Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala, menjelaskan salah satu strategi utama mereka yakni inklusi sosial. 

“Kami ingin memastikan memastikan kelompok seperti perempuan, pemuda, dan penyandang bisa terlibat aktif dan mendapat manfaat setara. Jadi keberlanjutan bukan hanya tentang proyek yang berjalan, tetapi tentang pembangunan kapasitas masyarakat untuk mengelola dan mengembangkan inisiatif secara mandiri,” ujar Sidi.

Selain inklusi, strategi utama lainnya GEF SGP Indonesia yakni transformasi ekonomi melalui pengembangan model bisnis berkelanjutan dan rantai nilai yang adil bagi masyarakat serta perlembagaan kebijakan agar praktik baik program dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan dan perencanaan pembangunan daerah.

“Proyek ini menempatkan perempuan sebagai pusat dari rantai nilai. Dengan membekali kelompok perempuan melalui peralatan yang lebih baik, pengetahuan pengemasan, dan literasi keuangan, proyek ini memastikan bahwa nilai tambah ekonomi tetap berada di dalam rumah tangga,” terang dia.

Editor: Rendy Adrikni Sadikin

Tag:  #perempuan #sabu #raijua #penjaga #tradisi #motor #ekonomi #gula #semut

KOMENTAR