Deloitte: Adopsi AI Meluas, tapi Transformasi Bisnis Masih Terbatas
Ilustrasi kecerdasan buatan di era digital.(Shutterstock)
14:40
11 Februari 2026

Deloitte: Adopsi AI Meluas, tapi Transformasi Bisnis Masih Terbatas

Perusahaan jasa akuntan global Deloitte melalui Deloitte AI Institute merilis laporan tahunan The State of AI in the Enterprise edisi 2026 yang memotret perkembangan adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di kalangan korporasi global.

Laporan bertajuk The State of AI in the Enterprise: The Untapped Edge itu menunjukkan pergeseran penting.

Temuan Deloitte, AI bergerak dari tahap uji coba menuju implementasi dalam skala perusahaan, namun dampaknya terhadap transformasi bisnis secara mendalam masih relatif terbatas.

Baca juga: AI Picu Gelombang Kecemasan Baru di Dunia Kerja

Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). shutterstock Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Dalam satu tahun terakhir, perusahaan tercatat memperluas akses AI ke tenaga kerja sebesar 50 persen. Jika sebelumnya kurang dari 40 persen karyawan dibekali perangkat AI resmi, kini sekitar 60 persen tenaga kerja telah memiliki akses terhadap teknologi tersebut.

Laporan ini disusun berdasarkan survei terhadap lebih dari 3.000 pemimpin perusahaan di seluruh dunia, mulai dari tingkat direktur hingga C-level, yang terlibat langsung dalam inisiatif AI di organisasinya.

Survei edisi 2026 tersebut dilaksanakan pada Agustus hingga September 2025 dan melibatkan 3.235 pemimpin bisnis dan teknologi di 24 negara serta enam sektor industri, yakni konsumer, energi, sumber daya, dan industri, jasa keuangan, ilmu hayati dan layanan kesehatan, teknologi, media, dan telekomunikasi, serta pemerintahan dan layanan publik.

Dari ambisi ke implementasi

Dalam laporannya yang dikutip pada Rabu (11/2/2026), Deloitte mencatat, peralihan dari tahap percobaan (pilot stage) ke implementasi penuh menjadi langkah krusial untuk menangkap nilai (value) dari AI.

Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). WIKIMEDIA COMMONS/JERNEJ FURMAN Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Baca juga: Jaga Keamanan Nasabah, BCA Kantongi Sertifikasi Privasi Data dan Tata Kelola AI

Namun, meskipun tingkat eksperimentasi AI meningkat, baru 25 persen responden yang telah mengalihkan 40 persen atau lebih proyek percontohan AI mereka ke tahap produksi.

Meski demikian, terdapat optimisme bahwa pergeseran itu akan berlangsung lebih cepat dalam waktu dekat.

Sebanyak 54 persen responden memperkirakan akan mencapai tahapan tersebut dalam tiga hingga enam bulan ke depan.

Organisasi saat ini juga menghadapi prioritas yang saling bersaing, yakni menjaga kelangsungan operasional bisnis inti dengan teknologi yang ada, sekaligus berinvestasi pada inovasi yang dibutuhkan untuk tetap kompetitif di masa depan.

Baca juga: Visa Catat Lonjakan Penggunaan AI dalam Penipuan Digital

Dalam konteks tersebut, komunikasi strategi yang jelas dinilai menjadi kunci untuk mengurangi fenomena pilot fatigue dan mendorong penerapan AI melampaui sekadar fase eksperimen.

Chris Lewin, AI & Data Capability Leader Deloitte Asia Pacific, menilai ambisi terhadap AI di kawasan Asia Tenggara cukup besar dan manfaatnya mulai dirasakan, terutama dari sisi produktivitas.

“Para pemimpin bisnis di Asia Tenggara memiliki ambisi besar terhadap AI dan sudah mulai merasakan manfaatnya, terutama dalam peningkatan produktivitas," jelas Lewin.

Menurut dia, seiring berlanjutnya investasi AI, perusahaan membutuhkan peta jalan yang jelas untuk mendorong transformasi yang melampaui sekadar optimalisasi bertahap, dengan tata kelola yang kuat dan tertanam di seluruh tingkat organisasi.

Baca juga: Saham Microsoft Anjlok, Investor Khawatir Biaya Investasi AI Bengkak

"Nilai penuh dari teknologi ini akan tercapai ketika perusahaan berani membayangkan ulang berbagai kemungkinan untuk menciptakan diferensiasi strategis dan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan,” ujar Lewin.

Ilustrasi kecerdasan buatan (AI). Ledakan kecerdasan buatan (AI) bukan hanya mengubah teknologi, tetapi juga mencetak miliarder baru dalam jumlah dan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.Alibaba Ilustrasi kecerdasan buatan (AI). Ledakan kecerdasan buatan (AI) bukan hanya mengubah teknologi, tetapi juga mencetak miliarder baru dalam jumlah dan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Produktivitas naik, transformasi mendalam terbatas

Dampak AI terhadap bisnis dinilai terus meningkat. Sebanyak 25 persen pemimpin perusahaan melaporkan AI telah memberikan efek transformasional bagi organisasi mereka, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, di sisi lain, hanya 30 persen organisasi yang telah mendesain ulang proses-proses kunci mereka dengan menjadikan AI sebagai fondasi utama.

Artinya, sebagian besar perusahaan masih memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas, tanpa mengubah struktur proses bisnis secara mendasar.

Baca juga: Mengapa AI Bikin Perusahaan Teknologi Global Ramai-ramai PHK?

Sebanyak 37 persen organisasi bahkan mengaku masih menggunakan AI pada tingkat permukaan, dengan sedikit atau tanpa perubahan pada proses bisnis yang mendasarinya.

Temuan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara ambisi dan implementasi. Meski produktivitas meningkat, transformasi bisnis yang menyeluruh masih belum menjadi arus utama.

Deloitte menekankan, keberhasilan adopsi AI ke depan akan sangat ditentukan oleh kemampuan perusahaan untuk menciptakan diferensiasi strategis dan keunggulan kompetitif berkelanjutan, dengan memanfaatkan AI untuk membayangkan ulang apa yang mungkin dicapai oleh bisnis.

Agentic AI dan tantangan tata kelola

Salah satu sorotan dalam laporan ini adalah perkembangan agentic AI, yakni sistem otonom yang mampu menetapkan tujuan, menyusun rencana, dan mengeksekusi tugas-tugas kompleks dengan intervensi manusia minimal.

Baca juga: Disrupsi AI Bikin Arah Bisnis 2026 Bukan Lagi soal Cepat, tapi Relevan

Berbeda dengan generative AI tradisional yang umumnya menghasilkan konten berdasarkan perintah (prompt), agentic AI memanfaatkan kemampuan penalaran, penggunaan alat eksternal, serta memori untuk secara mandiri menjalankan alur kerja guna mencapai tujuan spesifik jangka panjang.

ilustrasi artificial intelligence (AI). Tiga skill yang wajib dikuasai agar pekerjaan tidak diambil alih AI.iStockphoto/David Gyung ilustrasi artificial intelligence (AI). Tiga skill yang wajib dikuasai agar pekerjaan tidak diambil alih AI.

Hampir tiga perempat perusahaan berencana menerapkan agentic AI dalam dua tahun ke depan.

Namun, hanya 21 persen yang menyatakan telah memiliki model tata kelola agen AI yang matang.

Deloitte mencatat, perusahaan yang mencatatkan keberhasilan paling signifikan umumnya menerapkan pendekatan terukur, dimulai dari kasus penggunaan berisiko rendah, membangun kapabilitas tata kelola, dan melakukan skalabilitas secara bertahap serta terencana.

Baca juga: Era Kecerdasan Buatan Bergeser ke Agentic AI, Eksekusi Strategi Bisnis Bisa Dilakukan Tanpa Instruksi Manusia

Dalam konteks ini, tata kelola dinilai tidak lagi sekadar berfungsi sebagai mekanisme pengawasan, melainkan menjadi katalis bagi pertumbuhan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Selain agentic AI, laporan ini juga mencatat bahwa 85 persen perusahaan berencana menyesuaikan agen AI sesuai kebutuhan bisnis mereka.

Hal tersebut menandakan bahwa AI tidak lagi dipandang hanya sebagai alat bantu informasi atau insight, melainkan sistem yang mampu menjalankan pekerjaan nyata di lingkungan korporasi.

Physical AI dan isu kedaulatan

Laporan ini juga menyoroti meningkatnya perhatian terhadap physical AI dan kedaulatan AI (sovereign AI).

Baca juga: AI Bisa Tingkatkan Kompetensi Pekerja Profesional, Identifikasi Potensi SDM lewat Data

Physical AI merujuk pada cabang kecerdasan buatan yang menanamkan model AI ke dalam perangkat keras fisik, seperti robot, kendaraan, atau mesin industri, sehingga sistem tersebut dapat merasakan, menalar, dan bertindak di dunia nyata secara real time.

Berbeda dengan generative AI yang beroperasi di ranah digital, physical AI mengombinasikan sensor dan kemampuan penalaran kognitif untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan serta beradaptasi terhadap situasi yang tidak terduga.

ilustrasi artificial intelligenceFreepik/biancoblue ilustrasi artificial intelligence

Sebanyak 58 persen perusahaan telah menggunakan physical AI, dan tingkat adopsinya diproyeksikan mencapai 80 persen dalam dua tahun ke depan.

Secara global, sektor manufaktur, logistik, dan pertahanan memimpin adopsi teknologi ini.

Baca juga: Singapura Kucurkan Lebih dari Rp 13 Triliun untuk Riset AI hingga 2030

Sementara itu, isu kedaulatan AI juga menguat. Kedaulatan AI didefinisikan sebagai kemampuan suatu negara untuk mengembangkan dan menggunakan AI dengan sumber daya dan infrastruktur miliknya sendiri.

Sebanyak 77 persen perusahaan telah mempertimbangkan negara asal dalam pemilihan vendor AI. Hampir tiga dari lima perusahaan juga membangun tumpukan (stack) AI mereka terutama dengan penyedia lokal.

Temuan tersebut menunjukkan, selain aspek teknologi dan produktivitas, faktor geopolitik dan ketahanan infrastruktur turut menjadi pertimbangan dalam strategi AI korporasi.

Tujuh tahun memantau adopsi AI

Laporan The State of AI in the Enterprise telah diterbitkan secara tahunan selama tujuh tahun.

Baca juga: Jensen Huang: Pabrik Chip dan AI Buka Peluang Kerja dengan Gaji Tinggi

Riset ini merupakan kelanjutan dari laporan kuartalan Deloitte sebelumnya, State of Generative AI in the Enterprise, dan dirancang untuk memantau adopsi GenAI yang berkembang pesat di lingkungan korporasi.

Dalam edisi 2026, Deloitte menekankan pentingnya arah strategis dan tata kelola yang kuat agar investasi AI dapat menghasilkan nilai bisnis yang berkelanjutan.

Laporan ini memotret fase transisi, ketika AI tidak lagi sekadar eksperimen teknologi, melainkan mulai terintegrasi dalam operasi dan strategi perusahaan.

Meski demikian, data menunjukkan bahwa perjalanan menuju transformasi menyeluruh masih dalam proses.

Baca juga: AI Bisa Tiru Suara CS Resmi, Ini Cara Verifikasinya agar Tak Jadi Korban

Perluasan akses AI di kalangan tenaga kerja, meningkatnya adopsi agentic AI, hingga pertumbuhan physical AI dan perhatian terhadap kedaulatan AI menjadi bagian dari dinamika tersebut.

Tag:  #deloitte #adopsi #meluas #tapi #transformasi #bisnis #masih #terbatas

KOMENTAR