Apa Itu Munggahan? Kenali Makna Tradisi untuk Menyambut Bulan Ramadan
ilustrasi bulan puasa (pixabay.com/mohamed_hassan)
14:58
11 Februari 2026

Apa Itu Munggahan? Kenali Makna Tradisi untuk Menyambut Bulan Ramadan

Bulan Ramadan selalu menjadi momen yang istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, berbagai tradisi juga dilakukan untukmenyambut datangnya bulan suci ini, salah satunya yaitu munggahan. Lantas apa itu munggahan dan maknanya?

Munggahan tak sekedar sebagai ajang berkumpul bersama keluarga, namun juga mempunyai makna spiritual dan sosial yang amat dalam.

Tradisi yang populer di kalangan masyarakat Sunda khususnya Jawa Barat ini, telah berlangsung sejak lama dan masih dijaga hingga kini. Bahkan, kebiasaan ini juga banyak diadaptasi oleh masyarakat di luarJawa Barat dengan cara yang berbeda.

Apa Itu Tradisi Munggahan?

Munggahan merupakan sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Sunda dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadan. Kata "munggahan" sendiri bersumber dari bahasa Sunda "munggah," yang berarti naik atau meningkat.

Berdasarkan konteks tradisi tahunan ini, munggahan mempunyai makna simbolis sebagai upaya meningkatkan kualitas spiritual, sebelum memasuki bulan puasa.

Tradisi Munggahan umumnya dilakukan dengan berkumpul bersama keluarga, sahabat, kerabat dekat atau para tetangga. Bagi yang merantau, mereka biasanya menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halaman guna mengikuti tradisi tersebut bersama dengan keluarga.

Tak hanya sekadar berkumpul bersama, masyarakat juga akan menyajikan hidangan yang nantinya dimakan bersama keluarga. Acara kemudian ditutup dengan pembacaan doa. Selain sebagai bentuk persiapan mental dan spiritual, tradisi munggahan turut jadi kesempatan untuk bersilaturahmi guna mempererat hubungan sosial antar sesama.

Makna Tradisi Munggahan

Dari asal-usulnya, munggahan banyak dimaknai sebagai pengingat akan datangnya bulan suci Ramadan. Kata munggahan memiliki makna naik ke tempat tinggi.

Dalam konteks tradisi tahunan ini, munggahan berarti naik ke tempat yang lebih mulia yang dilakukan pada saat sya'ban menjelang puasa. Tradisi tahunan tersebut sering digunakan sebagai ajang silaturahmi. Tradisi terus dilestarikan sebagai upaya dalam menghormati para leluhur yang sudah menjaga tradisi.

Proses Tradisi Munggahan

Proses paling penting dan yang sering dilakukan oleh masyarakat dalam tradisi munggahan umumnya dilakukan untuk mengirim doa kepada para leluhur yang sudah meninggal dunia, terutama saat menjelang bulan Ramadan. Hal ini bertujuan untuk mensyukuri bisa menikmati Ramadan bagi yang masih hidup.

Proses tradisi munggahan sendiri dilakukan pada saat menjelang akhir Nisfu Syaban. Proses munggahan umumnya ditandai dengan melakukan ziarah ke makam, yang menjadi tradisi turun temurun masyarakat Indonesia.

Adapun tradisi ziarah makam yang banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia adalah dengan membawa kembang setaman. Sebagai pelengkap merrka juga akan membawa air di dalam kendi atau bisa menggunakan air di dalam botol.

Prosesi dilanjutkan dengan membersihkan diri. Proses satu ini biasanya dilakukan dengan cara pergi ke tempat pemandian untuk memperoleh hasil yang lebih masimal. Biasanya masyarakat Kota Bandung, akan pergi ke tempat rekreasi atau tempat pemandian umum yang berada di wilayah Garut.

Nilai-Nilai yang Ditanamkan Melalui Munggahan

Melalui tradisi munggahan menjelang Ramadan, masyarakat diajarkan untuk saling berbagi, saling sayang, peduli terhadap sesama, mensyukuri kesempatan hidup, serta menjaga silaturahmi. Tradisi satu ini pun juga mengajarkan nilai kebersamaan dan persaudaraan yang sangat erat dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.

Munggahan dalam Konteks Keberagaman Budaya

Meski pada awalnya tradisi ini berasal dari budaya Sunda, akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, munggahan banyak dilakukan oleh masyarakat dari luar Jawa Barat dengan berbagai latar belakang dan budaya di Indonesia. Hal tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Munggahan sudah menjadi bagian dari keberagaman budaya yang ada di Indonesia.

Kontributor : Putri Ayu Nanda Sari

Editor: Agatha Vidya Nariswari

Tag:  #munggahan #kenali #makna #tradisi #untuk #menyambut #bulan #ramadan

KOMENTAR