Pahami 4 Perasaan Anak saat Ia Terlihat Putus Asa, Menurut Psikolog
Perasaan putus asa tidak hanya dialami orang dewasa. Anak-anak pun dapat merasakannya, terutama ketika berada dalam situasi tekanan yang berkepanjangan.
Psikolog menjelaskan bahwa ada empat perasaan utama yang kerap muncul pada anak saat mereka berada dalam kondisi putus asa, yakni worthlessness, lonely, hopeless, dan helpless.
Psikolog klinis anak Reti Oktania, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa keempat perasaan ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang seiring pengalaman hidup anak, terutama ketika kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi atau ia merasa tidak memiliki jalan keluar.
“Anak bisa merasa sangat tertekan ketika situasi di sekitarnya membuat mereka merasa tidak aman, tidak didengar, dan tidak memiliki kontrol,” ujar Reti saat dihubungi Kompas.com, baru-baru ini.
Baca juga: Rasa Malu dan Tidak Dianggap Bisa Melukai Mental Anak, Ini Kata Psikolog
Ilustrasi anak sedih. Psikiater mengingatkan bahwa perubahan perilaku kecil pada anak bisa menjadi tanda awal krisis psikologis yang berujung fatal jika tidak segera disadari.
Worthlessness: Merasa Tidak Berharga
Perasaan pertama adalah worthlessness, yaitu ketika anak merasa dirinya tidak berguna atau tidak berharga. Anak dapat berpikir bahwa kehadirannya hanya menjadi beban bagi orangtua atau keluarga.
Perasaan ini kerap muncul ketika anak melihat orangtua mengalami kesulitan, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar. Tanpa disadari, anak bisa menyimpulkan bahwa dirinya adalah penyebab masalah tersebut.
“Anak bisa menyalahkan diri sendiri, misalnya merasa terlalu banyak meminta atau merasa keberadaannya merepotkan,” jelas Reti.
Lonely: Merasa Sendirian dan Terasing
Perasaan kedua adalah lonely, yakni rasa kesepian dan keterasingan. Anak bisa merasa sendirian meskipun berada di tengah keluarga atau lingkungan sosial.
Kondisi ini bisa diperparah oleh pengalaman perundungan, stigma, atau keterbatasan dalam bergaul akibat kondisi sosial-ekonomi.
Anak merasa tidak punya tempat bercerita dan tidak ada yang benar-benar memahami perasaannya.
“Kesepian pada anak bukan hanya soal tidak punya teman, tetapi merasa tidak ada orang dewasa yang bisa menjadi tempat bergantung secara emosional,” kata Reti.
Hopeless: Kehilangan Harapan akan Masa Depan
Selanjutnya adalah hopelessness, yaitu perasaan putus asa karena anak tidak melihat harapan di masa depan. Anak merasa bahwa apa pun yang dilakukan tidak akan mengubah keadaan.
Pada fase ini, anak bisa kehilangan motivasi untuk belajar, bermain, atau merencanakan hal-hal sederhana yang sebelumnya ia sukai. Masa depan terasa gelap dan tidak memberikan gambaran yang menyenangkan.
“Ketika anak tidak melihat adanya kemungkinan perubahan, rasa putus asa bisa semakin dalam,” ujar Reti.
Helplessness: Merasa Tak Berdaya dan Kehabisan Jalan Keluar
Perasaan terakhir dan paling berat adalah helplessness, yakni perasaan tidak berdaya. Anak merasa sudah mencoba berbagai cara, tetapi tetap tidak menemukan solusi.
Dalam beberapa kasus, kondisi ini muncul ketika kebutuhan dasar anak tidak terpenuhi, seperti akses pendidikan, perlengkapan sekolah, atau rasa aman di rumah.
Anak berada dalam situasi yang tidak bisa ia kendalikan, sementara ia belum memiliki kapasitas untuk mengubah keadaan.
“Helplessness membuat anak merasa benar-benar kehabisan jalan keluar. Ini kondisi yang sangat rentan secara psikologis,” jelas Reti.
Baca juga: Kemiskinan Struktural Turut Pengaruhi Mental Anak, Ini Kata Psikolog
Pentingnya Peran Orang Dewasa
Reti menegaskan bahwa anak tidak memiliki kemampuan emosional dan kognitif yang sama dengan orang dewasa dalam menghadapi tekanan hidup.
Karena itu, peran orangtua, guru, dan lingkungan sekitar sangat penting untuk mencegah anak terjebak dalam perasaan putus asa.
Orang dewasa diimbau untuk peka terhadap perubahan perilaku anak, seperti menarik diri, murung berkepanjangan, atau kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai.
Dukungan emosional, rasa aman, dan kehadiran yang konsisten dapat membantu anak melewati masa sulit.
“Anak membutuhkan lingkungan yang membuat mereka merasa didengar, dipahami, dan dilindungi. Dengan begitu, perasaan putus asa bisa dicegah sebelum berkembang lebih jauh,” tutup Reti.
Tag: #pahami #perasaan #anak #saat #terlihat #putus #menurut #psikolog