Menikah dan Hamil di Usia 30-an Tak Perlu Takut Masalah Kesuburan
Ilustrasi pasangan. Dokter kandungan menjelaskan mengapa usia 30-an bukan alasan panik soal kehamilan, asalkan persiapan dilakukan dengan tepat.(Unsplash/Pablo Heimplatz)
07:15
7 Februari 2026

Menikah dan Hamil di Usia 30-an Tak Perlu Takut Masalah Kesuburan

Banyak pasangan yang merasa baru siap menikah di usia 30-an agar secara finansial dan emosional lebih matang. Tetapi, bagi pihak perempuan terkadang muncul kekhawatiran akan kesuburan.

Dibandingkan dengan usia 20-an, saat sudah berusia di atas 30 kualitas sel telur perempuan memang lebih menurun. Walau begitu, dokter menegaskan bahwa usia bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan kehamilan.

Pendekatan yang tenang, realistis, dan terencana justru dinilai lebih penting bagi kesehatan reproduksi.

Baca juga: Menunda Menikah hingga di Atas 30 Tahun, Dokter Ingatkan Risiko Kehamilan Setelah Usia 35

Usia bukan satu-satunya penentu kesuburan

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi RS Hermina Grand Wisata, Anandia Yuska, SpOG, menyebut banyak perempuan usia 30 tahun ke atas masih memiliki peluang hamil yang baik.

Menurutnya, penurunan kesuburan memang terjadi secara biologis, tetapi dampaknya tidak selalu sama pada setiap orang.

“Tidak semua perempuan di atas usia 30 tahun akan sulit hamil. Banyak yang tetap hamil secara alami dan sehat,” kata dr.Anandia saat diwawancarai Kompas.com, Jumat (6/2/2026).

Ia menilai kekhawatiran berlebihan justru bisa menimbulkan stres, yang berdampak kurang baik bagi kesiapan tubuh menghadapi kehamilan.

Baca juga: 3 Cara Mencegah Preeklamsia sejak Awal Kehamilan, Jaga Berat Badan

Tantangan medis ada, tapi bisa dikelola

Ilustrasi hamil. Dokter kandungan menjelaskan mengapa usia 30-an bukan alasan panik soal kehamilan, asalkan persiapan dilakukan dengan tepat.SHUTTERSTOCK/ANTONIO GUILLEM Ilustrasi hamil. Dokter kandungan menjelaskan mengapa usia 30-an bukan alasan panik soal kehamilan, asalkan persiapan dilakukan dengan tepat.

Kehamilan di usia 30-an, terutama setelah 35 tahun, memang memiliki risiko medis yang lebih tinggi dibandingkan usia lebih muda.

Risiko tersebut dapat berupa tekanan darah tinggi saat hamil, diabetes gestasional, hingga preeklamsia. Namun ia menekankan bahwa risiko bukan berarti kepastian.

“Dengan kontrol kehamilan yang rutin dan persiapan yang baik, banyak kehamilan di usia 30-an tetap berjalan normal,” ujarnya.

Pendekatan medis yang tepat memungkinkan dokter mendeteksi risiko lebih awal dan melakukan pencegahan.

Baca juga: Sakit Gigi Bisa Berdampak pada Kehamilan, Jangan Anggap Sepele

Mengapa perencanaan lebih penting daripada terburu-buru

Dalam praktiknya, dr.Anandia lebih sering menemui pasangan yang datang terlambat berkonsultasi karena terlalu fokus pada usia.

Padahal, menurutnya, yang lebih penting adalah kesiapan tubuh dan kondisi kesehatan secara menyeluruh.

Ia menyarankan pasangan tidak menunggu sampai mengalami kesulitan hamil untuk berkonsultasi.

“Minimal tiga bulan sebelum merencanakan kehamilan, sebaiknya sudah datang ke dokter untuk pemeriksaan,” kata dr.Anandia.

Perencanaan sejak awal membantu pasangan memahami kondisi kesehatan, termasuk faktor yang mungkin perlu diperbaiki sebelum hamil.

Baca juga: Risiko Anemia pada Anak Bisa Muncul sejak Kehamilan, Waspadai Dampaknya

Pemeriksaan pra-kehamilan sebagai langkah awal

Alih-alih panik, dr.Anandia menyarankan perempuan usia 30-an menjadikan pemeriksaan pra-kehamilan sebagai langkah awal yang rasional.

Pemeriksaan ini bertujuan mengenali kondisi rahim, ovarium, hormon, serta faktor kesehatan lain yang berpengaruh pada kehamilan.

Selain pemeriksaan medis, perubahan gaya hidup juga dinilai sangat berperan. Menjaga berat badan ideal, mengatur pola tidur, mengelola stres, dan menerapkan kebiasaan hidup sehat menjadi bagian dari persiapan yang sering kali diabaikan.

Kesiapan mental sama pentingnya dengan kesiapan fisik

Menurut dr.Anandia, kesehatan reproduksi tidak hanya berbicara soal organ dan hormon. Kesiapan mental dan emosional juga memegang peran besar dalam perjalanan kehamilan dan pengasuhan anak.

“Bukan soal terlambat menikah atau hamil di atas usia 30 tahun, tapi sudah siap secara mental dan emosional untuk menjalaninya,” ujarnya.

Ia menilai kehamilan yang direncanakan dengan kesadaran penuh justru memberi dampak positif bagi ibu dan anak.

Baca juga: 8 Persiapan Kehamilan Sehat untuk Pasangan Menurut Dokter

Usia 30-an bukan akhir, tapi fase persiapan

Pandangan bahwa usia 30-an adalah batas akhir kesuburan dinilai terlalu menyederhanakan persoalan.

Bagi dr.Anandia, fase ini justru bisa menjadi waktu yang matang untuk merencanakan kehamilan secara lebih sadar.

Dengan informasi yang tepat dan pendampingan medis yang sesuai, pasangan dapat membuat keputusan yang lebih tenang dan terukur.

Kehamilan bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling siap menjalaninya.

Baca juga: Kehamilan di Usia Kurang dari 20 Tahun Rentan Alami Baby Blues, Ini Kata Dokter

Tag:  #menikah #hamil #usia #perlu #takut #masalah #kesuburan

KOMENTAR