Bayi Sering Gumoh? Dokter Jelaskan Perbedaan Regurgitasi, GER, dan GERD
Ilustrasi bayi gumoh.(Penyebab bayi gumoh dan cara mengatasinya.)
12:05
5 Februari 2026

Bayi Sering Gumoh? Dokter Jelaskan Perbedaan Regurgitasi, GER, dan GERD

– Bayi yang sering gumoh terkadang membuat orangtua khawatir. Tidak jarang juga kondisi itu langsung dikaitkan dengan gastroesophageal reflux disease (GERD). Padahal, tidak semua gumoh menandakan penyakit. 

Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi RS Premier Bintaro, Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K) menjelaskan, ada perbedaan antara refluks, regurgitasi, dan GERD pada bayi yang perlu dipahami agar orangtua tidak keliru menilai kondisi anak.

GER, Aliran Balik Isi Lambung ke Kerongkongan

Menurut dr. Hegar, di antara kerongkongan dan lambung terdapat katup bagian bawah yang berfungsi sebagai penghalang agar isi lambung, seperti susu, tidak naik kembali. Pada bayi, katup ini belum bekerja optimal sehingga isi lambung lebih mudah naik kembali.

Baca juga: Waspadai GERD pada Bayi, Ini Gejala yang Harus Diperhatikan Orangtua

“Refluks itu artinya aliran balik. Ada aliran balik dari isi lambung kembali ke kerongkongan,” jelas dr. Hegar saat Media Gathering & Health Talk di Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Rabu (4/1/2026).

Kondisi inilah yang disebut gastroesophageal reflux (GER). Refluks terjadi di dalam tubuh dan tidak selalu terlihat dari luar karena isi lambung bisa saja hanya naik sampai kerongkongan tanpa keluar melalui mulut. 

Pada bayi, GER umum terjadi karena kematangan sistem cerna yang belum sempurna.

Regurgitasi atau Gumoh, Refluks yang Terlihat

Di sisi lain, pada banyak bayi, aliran balik isi lambung tidak berhenti di kerongkongan, tetapi berlanjut hingga ke mulut dan keluar.

“Sebagian besar enggak berhenti di situ. Dia lanjut ke mulut, dikeluarkan dari mulut. Itu yang kita sebut sebagai regurgitasi atau gumoh,” ujar dr. Hegar.

Dengan kata lain, regurgitasi atau gumoh adalah refluks yang terlihat, ketika isi lambung keluar melalui mulut dan tampak oleh orangtua.

Baca juga: Bentuk Kaki X dan O pada Anak, Kapan Orangtua Harus Waspada?

Dr. Hegar menambahkan, gumoh pada bayi wajar terjadi karena selain katup lambung yang belum matang, bayi juga lebih banyak mengonsumsi cairan dibandingkan makanan padat.

“Bayi itu minumnya banyak. Dibandingkan makanan padat, cairan lebih banyak, jadi lebih mudah dia kembali,” katanya.

Berdasarkan penjelasannya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa regurgitasi paling sering terjadi pada enam bulan pertama kehidupan dan akan berkurang seiring pertambahan usia. 

Kondisi ini dikenal sebagai happy spitter, yaitu bayi yang sering gumoh tetapi tetap sehat dan tidak terganggu tumbuh kembangnya.

Baca juga: Jangan Berlebihan, Makanan Berlemak Bisa Memicu GERD

Seberapa Sering Refluks dan Regurgitasi Terjadi pada Bayi?

Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi RS Premier Bintaro, Prof. dr. Badriul Hegar, Sp.A(K) saat Media Gathering & Health Talk POV: Regurgitasi, GER, dan GERD pada Anak dan Dampaknya terhadap Kesehatan di Jakarta Selatan, Rabu (4/1/2026).KOMPAS.com/Aliyah Shifa Rifai Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi RS Premier Bintaro, Prof. dr. Badriul Hegar, Sp.A(K) saat Media Gathering & Health Talk POV: Regurgitasi, GER, dan GERD pada Anak dan Dampaknya terhadap Kesehatan di Jakarta Selatan, Rabu (4/1/2026).

Orangtua tidak perlu khawatir, dr. Hegar menegaskan bahwa refluks dan regurgitasi sangat umum pada bayi, terutama di awal kehidupan.

“Bahkan pada usia satu bulan, sekitar 80 persen bayi mengalami regurgitasi. Tapi yang menjadi disease sekitar 3 persen,” ujarnya.

Data tersebut menunjukkan bahwa mayoritas bayi yang gumoh masih berada dalam kondisi normal. 

Dalam penjelasannya, dr. Hegar menuturkan, regurgitasi paling sering terjadi pada enam bulan pertama kehidupan, lalu berangsur menurun setelah usia tersebut dan umumnya menghilang pada usia sekitar 12-18 bulan pada bayi sehat.

Artinya, meski refluks dan gumoh kerap terjadi, bahkan bisa beberapa kali dalam sehari, hanya sebagian kecil yang berkembang menjadi GERD. 

Inilah alasan mengapa frekuensi gumoh saja tidak cukup untuk menyimpulkan adanya penyakit, selama bayi tetap nyaman dan tumbuh sesuai usia.

Baca juga: Pentingnya Orangtua Beri Batasan Sehat untuk Anak

Kapan Bisa Disebut GERD?

Meski refluks dan regurgitasi umum terjadi pada bayi, dr. Hegar menjelaskan bahwa istilah GERD dapat digunakan ketika refluks sudah masuk kategori penyakit.

“Kalau kita ngomong GERD berarti kita pakai disease. Disease itu berarti isi lambung yang ada di kerongkongan terlalu lama atau terlalu sering sehingga merusak dinding esofagus,” jelasnya.

Kerongkongan pada dasarnya bersifat netral. Ketika asam lambung yang bersifat asam naik terlalu sering atau bertahan terlalu lama di kerongkongan, lapisan dindingnya dapat mengalami peradangan atau luka yang disebut esofagitis. Pada kondisi inilah refluks tidak lagi dianggap normal.

Baca juga: Flat Foot pada Bayi, Wajar atau Perlu Diwaspadai? Ini Kata Dokter

Berbeda dengan GER yang bersifat fisiologis dan umumnya tidak menimbulkan keluhan berarti, GERD sudah menimbulkan dampak klinis. 

Bayi dapat merasakan nyeri, sehingga enggan makan atau minum. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berdampak pada asupan harian dan pertumbuhan bayi.

Meski sekitar 80 persen bayi dapat mengalami regurgitasi di usia awal kehidupan, hanya sekitar 3-8 persen yang benar-benar mengalami GERD karena sebagian besar bayi memiliki mekanisme perlindungan alami terhadap asam lambung.

Dengan demikian, yang membedakan GERD dari refluks biasa bukan seberapa sering bayi gumoh, melainkan apakah refluks tersebut menyebabkan kerusakan pada kerongkongan dan mengganggu kondisi bayi secara keseluruhan.

Tag:  #bayi #sering #gumoh #dokter #jelaskan #perbedaan #regurgitasi #gerd

KOMENTAR