Tak Disukai Mertua? Ini 5 Cara Menyikapinya dengan Dewasa
- Tidak akur dengan mertua adalah konflik klasik yang sering muncul dalam hubungan pernikahan. Mulai dari komentar pasif-agresif, kritik soal pola asuh, sampai campur tangan berlebihan dari mertua, semua bisa menguras emosi.
Terapis pasangan asal Los Angeles, Lisa Chen, LMFT menyebut, konflik ini sering muncul karena adanya lloyalty conflict atau konflik loyalitas.
“Pasangan sedang membentuk unit keluarga baru, dan sebagian orangtua kesulitan menerima hilangnya pengaruh serta kontrol,” jelasnya seperti disadur SELF Magazine, Kamis (29/1/2026).
Oleh karena itu, penting bagi menantu untuk punya strategi sehat agar tidak terjebak dalam stres berkepanjangan. Simak lima langkah yang bisa dilakukan jika kamu merasa mertua tidak menyukaimu.
Baca juga: 7 Kalimat Toxic Mertua yang Berdampak Pada Mental, Apa Saja?
5 cara menyikapi mertua
1. Menyamakan batasan dengan pasangan
Langkah pertama bukanlah langsung menghadapi mertua, melainkan berdiskusi dengan pasangan. Terapis pasangan berlisensi di Florida, Nari Jeter, LMFT menegaskan pentingnya membangun kesepahaman sebagai tim.
Menurutnya, pasangan perlu menyepakati batasan yang jelas, misalnya durasi kunjungan keluarga, topik yang tidak boleh dibahas seperti keuangan atau pola asuh, hingga frekuensi pertemuan.
Dengan kesepakatan ini, kamu dan pasangan memiliki pijakan yang kuat. Kamu tidak berjalan sendiri, melainkan sebagai satu kesatuan.
Batasan yang jelas juga membantu mencegah konflik kecil berkembang menjadi masalah besar yang mengganggu keharmonisan rumah tangga.
Baca juga: Soimah Akui Ospek Pacar Anaknya, Perlukah Calon Mertua Tunjukkan Sisi Terburuk?
Ilustrasi keluarga.
2. Hindari tersulut emosi akibat kritik mertua
Tidak semua komentar atau sikap menyebalkan perlu ditanggapi. Dalam hubungan yang sudah tegang, merespons setiap hal kecil justru akan menguras energi.
“Hanya karena seseorang mengkritikmu, bukan berarti kamu harus menerimanya,” jelas Jeter.
Ia mengibaratkan kritik seperti bola yang dilempar. Kamu bisa memilih untuk tidak menangkapnya.
Secara praktis, ini bisa berarti mengganti topik pembicaraan, meninggalkan ruangan, atau tidak menanggapi komentar yang menjatuhkan.
Sikap ini bukan tanda kalah, melainkan bentuk perlindungan diri. Kamu menjaga kesehatan emosional tanpa memperkeruh suasana keluarga.
Baca juga: Keluarga Seharusnya Jadi Tempat Aman Anak, Bukan Sumber Luka
3. Menurunkan ekspektasi
Tidak semua hubungan mertua dan menantu harus hangat seperti di film romantis. Menurut Jeter dan Chen, hubungan yang netral dan sopan sudah cukup sehat.
Kamu tidak wajib menjadi sahabat dekat mertua, selama hubungan itu tetap saling menghormati.
Memandang relasi dengan mertua seperti hubungan profesional bisa membantu. Percakapan tidak harus terlalu personal, dan kamu tidak perlu memaksakan kedekatan emosional.
Sikap ini justru sering membuat situasi lebih stabil karena ekspektasi menjadi lebih realistis.
Baca juga: Peran Ganda Ibu Bekerja, Psikolog Tekankan Pentingnya Dukungan Keluarga
4. Berhenti berusaha mengubah kepribadian mertua
Banyak orang berharap bahwa konfrontasi akan mengubah sikap mertua secara drastis. Padahal, hal itu jarang terjadi.
Chen menegaskan, tujuan utama bukanlah memperbaiki atau menyenangkan hati mertua, melainkan melindungi hubungan dengan pasangan.
“Tujuannya adalah tetap tenang dan menjaga kualitas relasi dengan pasangan,” katanya.
Jika perlu bicara langsung, lakukan dengan singkat dan tegas. Tidak perlu penjelasan panjang atau pembenaran berlebihan.
Misalnya, “Kami tidak nyaman membahas topik itu,” atau “Kami hanya bisa sampai jam tujuh.” Pernyataan sederhana tapi jelas jauh lebih efektif daripada argumen emosional yang panjang.
Baca juga: Brooklyn Beckham Tak Ingin Berdamai dengan Keluarga dan Orangtua
5. Menyediakan waktu untuk recovery setelah bertemu keluarga
Bertemu dengan orang yang membuat stres, sekuat apa pun mentalmu, tetap melelahkan.
Maka dari itu, Chen menyarankan untuk merencanakan waktu pemulihan setelah pertemuan keluarga.
Bisa berupa makan malam santai bersama pasangan, berbincang di kamar, atau sekadar menonton film bersama.
Ritual kecil ini membantu kamu dan pasangan memproses emosi sebagai satu tim. Selain itu, hal ini mencegah ketegangan dari keluarga besar merembet ke dalam hubungan inti kalian.
Kamu berhak menentukan seberapa dekat hubungan yang ingin dijalani dengan mertua. Tidak ada kewajiban untuk bertahan dalam situasi yang terus-menerus merendahkan atau melukai emosimu.
Dengan beberapa langkah di atas, hubungan dengan mertua bisa tetap berjalan secara dewasa dan terkendali.
Baca juga: Tak Cuma ke Pacar, Gaslighting Juga Terjadi di Keluarga dan Pertemanan