Industri Furnitur Indonesia Bidik Pasar Global Lewat Integrasi Hulu-Hilir
Pekerja mengerjakan produk furnitur kursi sebelum dimasukkan ke dalam kontainer saat pelepasan ekspor di pabrik PT Philnesia International, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (16/5/2025). (Nur Chamim/ Jawa Pos Radar Semarang)
22:18
29 Januari 2026

Industri Furnitur Indonesia Bidik Pasar Global Lewat Integrasi Hulu-Hilir

 

- Industri mebel dan furnitur Indonesia memegang posisi penting dalam struktur ekonomi nasional dan masih menyimpan potensi ekspansi yang sangat besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2025 ekspor mebel berada di posisi kedua subsektor kerajinan dengan kontribusi sekitar 12,2 persen.

Meski demikian, jika dibandingkan dengan nilai pasar furnitur global yang mencapai ratusan miliar dolar AS setiap tahun, porsi Indonesia masih belum menyentuh satu persen. Kondisi ini menunjukkan peluang pertumbuhan yang signifikan namun belum dimanfaatkan secara optimal.

Permasalahan utama industri furnitur nasional tidak terletak pada kapasitas produksi, melainkan pada keterhubungan rantai nilai, mulai dari ketersediaan material, penerapan teknologi manufaktur, hingga akses langsung ke pasar.

Walaupun jalur menuju pasar utama seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Timur telah terbuka, penguatan pada aspek standardisasi, efisiensi produksi, serta integrasi lintas sektor masih dibutuhkan agar pelaku industri dalam negeri, termasuk UMKM, dapat berpartisipasi lebih aktif dalam jaringan global.

Di dalam negeri, geliat pasar furnitur juga menunjukkan tren positif. Pada kuartal pertama 2025, penjualan rumah berukuran kecil meningkat hingga 83,97 persen secara kuartalan, yang secara langsung mendorong kebutuhan furnitur dan interior. Selain itu, pertumbuhan sektor properti tidak lagi terpusat di Jakarta.

Sejumlah kota sekunder seperti Pekanbaru dengan pertumbuhan 2,12 persen dan Pontianak sebesar 2,07 persen mencatat kinerja yang lebih tinggi, membuka ruang ekspansi pasar di luar pusat ekonomi utama sekaligus memperluas basis permintaan nasional.

Berbagai kebijakan pemerintah, termasuk insentif PPN rumah serta kemudahan kepemilikan properti bagi warga negara asing, turut mempercepat pertumbuhan transaksi hunian. Situasi ini memperkuat peran industri furnitur sebagai sektor dengan efek berganda yang signifikan bagi properti dan konstruksi, serta menegaskan pentingnya integrasi antara industri material, manufaktur, dan furnitur dalam menjawab potensi pasar domestik yang masih sangat besar.

Dalam kerangka tersebut, pameran internasional menjadi sarana strategis untuk memperluas jangkauan pasar Asia Tenggara dan global. Fungsi pameran kini melampaui sekadar ajang display produk, tetapi berkembang menjadi platform yang mempertemukan pelaku industri nasional dengan pembeli internasional, mitra teknologi, dan jaringan distribusi dalam satu ekosistem yang saling terhubung, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat produksi dan sourcing regional.

Sebagai respons atas kebutuhan tersebut, Amara Group bersama Koelnmesse GmbH mengumumkan integrasi strategis empat pameran dagang utama ke dalam satu platform industri terpadu dari hulu ke hilir. Mulai 2026, rangkaian pameran ini akan diselenggarakan secara co-located pada 23–27 September 2026 di NICE PIK 2 dan JIExpo Kemayoran, Jakarta, dengan nama Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect.

Platform ini ditargetkan menghadirkan sekitar 800 peserta pameran, 15.000 pengunjung, serta partisipasi dari 20 negara, antara lain Australia, Kanada, Tiongkok, Denmark, Finlandia, Prancis, Gabon, Jerman, Hong Kong, Indonesia, India, Italia, Malaysia, Singapura, Slovenia, Korea Selatan, Sri Lanka, Swiss, Taiwan, Thailand, Turko, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat, menunjukkan skala serta daya tarik internasional acara tersebut.

“Konsep co-location dan penyelarasan lintas sektor ini merupakan tonggak penting dalam pengembangan platform industri di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik. Dengan menyatukan material, manufaktur, dan furnitur dalam satu ekosistem terkoordinasi, Indonesia memperkuat efisiensi industrinya sekaligus meningkatkan daya saing sebagai pusat manufaktur regional,” ujar Mathias Küpper, Managing Director dan Regional President Asia Pacific Koelnmesse Pte Ltd.

Dalam kerangka integrasi ini, Amara Group dan Koelnmesse GmbH secara bersama mengelola IFFINA+, interzum jakarta, serta International Hardware Fair Indonesia, dan berkolaborasi dengan Wakeni dalam penyelenggaraan IFMAC WOODMAC. Seluruh pameran tersebut akan digelar secara bersamaan, sekaligus membuka peluang partisipasi yang lebih luas bagi pelaku usaha nasional, termasuk sekitar 50 persen UMKM dalam IFFINA.

“Penyelarasan ini menyatukan berbagai platform industri utama sesuai dengan cara industri furnitur bekerja saat ini. Inisiatif ini mendukung pengembangan bisnis dan perluasan akses pasar melalui platform industri yang menyeluruh dari hulu ke hilir,” ujar Dedy Rochimat, Ketua ASMINDO, yang berperan sebagai mitra strategis dan kolaborator industri dalam penyelenggaraan IFFINA+.

Ke depan, upaya memperkuat pasar domestik sekaligus membuka jalur global bagi industri furnitur Indonesia sangat bergantung pada kolaborasi hexahelix yang melibatkan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas, media, dan investor. Sinergi lintas pemangku kepentingan ini menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem industri yang kompetitif, adaptif, relevan, dan berkelanjutan.

Lebih dari sekadar pameran dagang, inisiatif ini dirancang sebagai ruang pertemuan gagasan, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor, melalui diskusi kurasi, business matching, hingga pertukaran ide kreatif. Dengan ekosistem terintegrasi dari hulu ke hilir, industri furnitur Indonesia diharapkan mampu menghasilkan solusi desain dan manufaktur yang sejalan dengan gaya hidup modern, dinamika ruang, serta kebutuhan pasar global saat ini.

Editor: Estu Suryowati

Tag:  #industri #furnitur #indonesia #bidik #pasar #global #lewat #integrasi #hulu #hilir

KOMENTAR