Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?
Ilustrasi Mikroplastik. (Dok: Elements Envanto)
16:56
8 Juni 2026

Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?

Mikroplastik mungkin terdengar seperti ancaman yang jauh dan tak terlihat. Namun, partikel plastik berukuran sangat kecil ini ternyata hadir sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari makanan dan minuman yang dikonsumsi, hingga berbagai produk rumah tangga yang dipakai setiap hari. 

Pada 2024, Indonesia tercatat sebagai negara penyumbang polusi plastik terbesar ketiga di dunia dengan menghasilkan sekitar 3,4 juta metrik ton sampah plastik per tahun, sebagaimana dilaporkan Ecoton (5/6/2026). Kondisi ini menjadi salah satu topik yang dibahas dalam diskusi “Less Waste Talk: Langkah Kecil untuk Lingkungan Kita” yang diselenggarakan oleh Yoursay.id dan Suara Hijau bekerja sama dengan KOPHI Jawa Tengah.

Ancaman yang Ternyata Sangat Dekat 

Kepala Divisi Program dan Aksi KOPHI Yogyakarta, Nurhayati, menegaskan bahwa mikroplastik bukan lagi persoalan masa depan, melainkan ancaman yang sudah sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. 

“Oke, jadi sebetulnya mikroplastik ini tuh ancaman yang dekat banget, teman-teman, karena semua hal yang ada di kehidupan kita sehari-hari itu sebetulnya ada mikroplastiknya,” ujar Nurhayati.

Ilustrasi mikroplastik dari sedotan (Freepik)Ilustrasi mikroplastik dari sedotan (Freepik)

Menurutnya, salah satu sumber mikroplastik yang kerap luput dari perhatian berasal dari pakaian berbahan polyester. Saat dicuci, serat-serat plastik dari kain tersebut dapat terlepas dan masuk ke saluran air, kemudian mencemari lingkungan. Selain itu, air minum dalam kemasan juga berpotensi menjadi sumber paparan mikroplastik yang dapat berdampak pada lingkungan dan keanekaragaman hayati.

Berdampak Buruk pada Kesehatan 

Tidak hanya mengancam lingkungan, mikroplastik juga dapat berdampak pada kesehatan manusia. Nurhayati menjelaskan bahwa partikel mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh melalui beberapa jalur.

“Jalur kontaminasinya itu bisa melalui udara, pencernaan, dan juga kontak dermal,” ungkapnya.

Paparan melalui udara dapat terjadi akibat partikel-partikel plastik berukuran sangat kecil yang berasal dari aktivitas industri maupun pembakaran sampah dan kemudian terhirup ke dalam sistem pernapasan. Sementara itu, jalur pencernaan terjadi ketika sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik terbawa ke sungai dan laut, kemudian dikonsumsi oleh biota laut seperti ikan yang pada akhirnya menjadi makanan manusia.

Selain itu, mikroplastik juga dapat masuk melalui kontak dermal atau kontak dengan kulit. Menurut Nurhayati, hal ini dapat berkaitan dengan penggunaan produk perawatan diri yang dikemas menggunakan bahan plastik. Dengan begitu, masyarakat perlu lebih cermat dalam memperhatikan bahan kemasan produk yang digunakan sehari-hari.

Sebuah jurnal yang diterbitkan dalam Environmental Science & Technology pada 2024, bahkan menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia diperkirakan mengonsumsi sekitar 15 gram mikroplastik setiap bulan. Meski dampaknya tidak langsung terasa, akumulasi mikroplastik dalam tubuh tetap perlu menjadi perhatian. 

“Sebetulnya mikroplastik ini dampaknya ke tubuh itu memang gak langsung. Jadi dia kayak butuh jangka waktu yang lama, baru tuh kita bisa merasakan dampak-dampak negatifnya di dalam tubuh kita,” jelasnya.

Perubahan Dimulai dari Langkah Kecil 

Oleh karena itu, Nurhayati mengingatkan pentingnya langkah-langkah sederhana untuk mengurangi pencemaran mikroplastik, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa tumbler sendiri, serta menerapkan prinsip think before buying sebelum membeli suatu produk. 

Langkah kecil tersebut dapat membantu mengurangi timbulan sampah plastik sekaligus menjaga lingkungan tetap sehat bagi manusia maupun keanekaragaman hayati. Meskipun tidak terlihat oleh mata, ancaman mikroplastik sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan memerlukan perhatian bersama. 

Penulis: Natasha Suhendra

Editor: Bimo Aria Fundrika

Tag:  #mikroplastik #makanan #minuman #hingga #udara #seberapa #besar #risikonya #bagi #kesehatan

KOMENTAR