Harga Tembaga Meroket di Pasar Global, Investor China Jadi Pendorong
– Harga tembaga naik tajam hingga mencapai level tertinggi dalam 16 tahun terakhir. Lonjakan harga ini terjadi di tengah gelombang spekulasi besar-besaran yang dilakukan oleh investor asal China.
Dikutip dari Bloomberg, Kamis (29/1/2026), pada perdagangan di London Metal Exchange (LME), harga tembaga naik lebih dari 10 persen, menembus level tertinggi sepanjang masa di atas 14.400 dollar AS per ton. Kenaikan ini berlangsung pada jam perdagangan Asia, di mana investor China mendominasi pasar.
“Semua kenaikan ini didorong oleh dana spekulatif, kemungkinan besar dari investor China karena lonjakan harga terjadi pada jam Asia,” ujar Kepala Riset Logam Nonferrous di Xiamen C&D Inc., Yan Weijun.
Baca juga: Harga Tembaga Tembus 13.000 Dollar AS, Logam Industri Kompak Menguat
Tembaga merupakan logam yang banyak digunakan dalam berbagai aplikasi listrik dan menjadi favorit investor karena perannya dalam transisi energi serta pengembangan pusat data. Harga tembaga sudah naik sekitar 25 persen sejak awal Desember 2025.
Meski demikian, kenaikan harga ini terjadi meski permintaan fisik di China, konsumen terbesar tembaga dunia yang menyumbang sekitar 50 persen konsumsi global, terpantau melemah.
Selain itu, struktur pasar dengan contango yang melebar di LME mengindikasikan pasokan tembaga yang cukup melimpah.
Gelombang spekulasi ini juga tercermin dari lonjakan volume perdagangan di Shanghai Futures Exchange (SHFE), bursa komoditas utama China.
Baca juga: Produksi Emas dan Tembaga Freeport Anjlok akibat Gangguan Tambang GBC
Januari 2026 mencatat rekor volume perdagangan tertinggi untuk enam logam dasar di SHFE, dengan tembaga mencatat volume perdagangan harian terbesar kedua sepanjang sejarah pada Kamis (29/1/2026).
Kenaikan harga logam lainnya juga terjadi, seperti aluminium dan seng yang naik di pasar London, serta bijih besi yang naik hingga 2,5 persen di Singapura.
Reli harga logam didukung oleh pelemahan dollar AS, permintaan aset fisik yang meningkat, serta ketegangan geopolitik.
Selain itu, spekulasi bahwa pengganti Ketua Federal Reserve (The Fed) AS akan lebih dovish dari Jerome Powell turut mendorong rally ini.
“Komoditas bergantian mengalami reli. Tembaga sudah lama berada di kisaran 13.000 dollar AS dan dana spekulatif mulai mengincarnya,” ujar Deputi Direktur ASK Resources Co., Eric Liu.
Baca juga: Pasokan Tertekan, Harga Tembaga Melonjak Tajam di Bursa London
Ketua The Fed Jerome Powell baru-baru ini menyebut adanya “perbaikan jelas” dalam prospek ekonomi AS dan mempertahankan suku bunga.
Masa jabatannya akan berakhir Juni 2026, membuka peluang bagi Presiden Donald Trump untuk mendorong penurunan suku bunga.
“Selama AS terus memangkas suku bunga dan fokus pada pengembangan AI, chip, serta konstruksi tenaga listrik, ekspektasi kenaikan harga tembaga tetap kuat. Tidak ada batasan jelas seberapa tinggi harga dapat naik,” kata Chief Investment Officer di Shanghai Cosine Capital Management Partnership, Chi Kai.
Namun, beberapa analis memperingatkan bahwa kenaikan harga tembaga sudah melampaui permintaan riil.
“Ada kemungkinan penyesuaian teknis karena pembeli fisik di China mulai menahan diri akibat harga yang terlalu tinggi,” ujar Co-Head China Equities Goldman Sachs Group Inc., Trina Chen.
Tag: #harga #tembaga #meroket #pasar #global #investor #china #jadi #pendorong