Indonesia Terjebak Inersia Ekonomi, Bappenas dan Prasasti Dorong Reformasi Struktural
Kepala Bappenas Rachmat Pambudi(DOKUMENTASI PRASASTI)
22:20
29 Januari 2026

Indonesia Terjebak Inersia Ekonomi, Bappenas dan Prasasti Dorong Reformasi Struktural

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudi dan Board of Advisor Lembaga Riset Prasasti Burhanuddin Abdullah menilai perekonomian Indonesia saat ini masih terjebak dalam kondisi inersia atau stagnasi, sehingga sulit mendorong pertumbuhan ekonomi ke level yang lebih tinggi.

Hal tersebut disampaikan dalam Prasasti Economic Forum 2026 bertema “Navigating Indonesia’s Next Chapter” yang digelar di Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Dalam sambutannya, Burhanuddin Abdullah menyoroti fenomena ekonomi Indonesia yang menunjukkan gejala inersia yang kuat.

Baca juga: Menurut Kandidat Deputi Gubernur BI, Ini Penyebab Ekonomi Indonesia Letoy Selama 12 Tahun Terakhir

“Karena dipicu oleh banyak faktor antara lain faktor birokrasi hingga psikologis,” ujar dia.

Menurut Burhanuddin, tingginya biaya koordinasi serta budaya birokrasi yang cenderung menghindari risiko membuat dunia usaha sukar berkembang.

Kondisi ini menahan pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5 persen, level yang dinilai belum cukup untuk membawa Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi.

Untuk keluar dari jebakan tersebut, Burhanuddin menekankan perlunya langkah strategis, antara lain penindakan tegas terhadap pelanggaran hukum, reorientasi skala prioritas pembangunan, serta peningkatan kredibilitas kelembagaan.

Board of Advisor Lembaga Riset Prasasti Burhanuddin AbdullahDOKUMENTASI PRASASTI Board of Advisor Lembaga Riset Prasasti Burhanuddin Abdullah

Terkait penegakan hukum, ia menegaskan pentingnya memberikan kepastian dengan tetap menjunjung rasa keadilan dan menghindari kriminalisasi.

Ia berharap penegakan hukum tidak justru membuat pembuat kebijakan dan birokrat takut mengambil risiko.

Sikap terlalu berhati-hati, menurut dia, akan menghambat kreativitas dan inovasi yang dibutuhkan untuk melakukan akselerasi pertumbuhan ekonomi.

Senada dengan Burhanuddin, Kepala Bappenas Rachmat Pambudi mengakui Indonesia memang berada dalam kondisi middle income trap atau jebakan pendapatan menengah. Meski demikian, ia optimistis Indonesia mampu kembali mencatat pertumbuhan ekonomi tinggi seperti pada era sebelumnya.

“Kita pernah merancang pertumbuhan ekonomi tinggi dengan baik dan benar. Kita pernah melakukan investasi, ekspor, dan industrialisasi yang benar,” kata Pambudi.

Namun, ia menegaskan bahwa lompatan keluar dari jebakan pendapatan menengah harus ditopang fondasi yang kokoh. Tidak hanya infrastruktur fisik, tetapi juga infrastruktur sosial dan kualitas sumber daya manusia.

Pambudi menyoroti persoalan mendesak seperti stunting, gizi buruk, serta tingginya angka kematian akibat penyakit seperti tuberkulosis (TBC) sebagai tantangan besar yang harus segera ditangani. “Makan bergizi adalah pembangunan yang harus diselesaikan,” ucap dia.

Ia menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan langkah mendesak untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam jangka panjang.

Untuk solusi jangka panjang, Pambudi menekankan pentingnya perencanaan berbasis data yang akurat serta penguatan sektor strategis berbasis sumber daya domestik, seperti pertanian dan industri hilir padat karya. Kolaborasi semua pihak menurut dia, menjadi kunci untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan menuju visi Indonesia Emas 2045.

Prasasti Economic Forum 2026 diselenggarakan oleh Lembaga Riset Prasasti untuk merumuskan arah kebijakan ekonomi nasional berbasis data dan analisis komprehensif. Forum ini didukung sejumlah korporasi besar, antara lain Astra, Toba Group, Triputra, Indofood, Agung Podomoro, dan Bank Mandiri.

Baca juga: IMF Prediksi Ekonomi RI Tumbuh 5 Persen, Pemerintah Pede Fundamental Kuat

Tag:  #indonesia #terjebak #inersia #ekonomi #bappenas #prasasti #dorong #reformasi #struktural

KOMENTAR