Pengamat: Mundurnya Dirut BEI Bentuk Tanggung Jawab Institusional  dan Momentum Evaluasi
Konferensi pers OJK dan BEI di gedung Bursa Efek Indonesia pada Kamis (29/1/2029)(KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN)
10:44
30 Januari 2026

Pengamat: Mundurnya Dirut BEI Bentuk Tanggung Jawab Institusional dan Momentum Evaluasi

– Pasar modal Indonesia tengah berada dalam fase krusial setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan dalam dua hari terakhir hingga memicu trading halt sebanyak dua kali berturut-turut.

Kondisi ini mencerminkan tingginya kepanikan pasar yang dipicu kombinasi sentimen global serta kekhawatiran investor terhadap transparansi dan tata kelola pasar domestik.

Di tengah gejolak tersebut, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Jumat (30/1/2026). Keputusan ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral dan profesional atas dinamika ekstrem yang terjadi di pasar modal Indonesia.

Langkah tersebut langsung menjadi perhatian pelaku pasar dan investor.

Baca juga: Iman Rachman Mundur, Posisi Dirut BEI Diisi Pelaksana Tugas (Plt)

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai pengunduran diri Dirut BEI tidak bisa dilepaskan dari kondisi pasar yang sedang bergejolak.

“Pengunduran diri pimpinan tertinggi BEI ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika pasar yang sedang bergejolak,” ujar Hendra kepada wartawan, Jumat (30/1/2026).

Menurutnya, koreksi tajam IHSG dalam waktu singkat menunjukkan rapuhnya kepercayaan investor, khususnya investor asing, terhadap stabilitas dan mekanisme pasar.

Trading halt yang terjadi dua kali berturut-turut menjadi indikator bahwa volatilitas sudah berada pada level ekstrem dan membutuhkan respons kelembagaan yang serius.

“Dalam konteks ini, mundurnya Direktur Utama BEI dipandang sebagai bentuk tanggung jawab institusional sekaligus momentum evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan pasar modal Indonesia,” lanjutnya.

Pada perdagangan hari ini, IHSG sempat menunjukkan pemulihan terbatas. Hingga pukul 09.28 WIB, indeks tercatat menguat 0,91 persen ke level 8.307. Namun, Hendra menilai penguatan tersebut masih bersifat teknikal dan belum mencerminkan pulihnya kepercayaan pasar secara fundamental.

Investor cenderung menahan diri sambil menunggu kejelasan arah kebijakan BEI ke depan, terutama terkait penunjukan Direktur Utama yang baru.

“Pasar membutuhkan figur pemimpin yang mampu memperkuat transparansi, memperbaiki tata kelola, serta menjawab ekspektasi lembaga indeks global seperti MSCI yang selama ini menyoroti isu free float dan kualitas likuiditas pasar Indonesia,” kata Hendra.

Ke depan, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam jangka pendek.

Indeks diproyeksikan bergerak di kisaran 8.150 hingga 8.350, seiring pelaku pasar mencermati dinamika internal BEI dan respons regulator.

“Oleh karena itu, penunjukan Direktur Utama BEI yang baru akan menjadi katalis penting, apakah mampu mengembalikan kepercayaan investor dan membawa pasar modal Indonesia menuju fase yang lebih transparan, kredibel, dan berdaya saing global,” sebut dia.

Sebagai informasi, tekanan pada IHSG terjadi pasca pengumuman MSCI (Morgan Stanley Capital International), yang memicu aksi jual besar-besaran pada IHSG.

Pada Rabu (28/1/2026), BEI menghentikan sementara perdagangan saham (trading halt) pada pukul 13:43 WIB sebagai respons atas volatilitas pasar.

Trading halt kembali terjadi pada Kamis (29/1/2026) pukul 09:26 WIB dan dibuka kembali pada pukul 09:56 WIB.

Trading halt adalah mekanisme penghentian sementara perdagangan saham yang bertujuan menstabilkan pasar saat terjadi fluktuasi harga yang tajam dalam waktu singkat.

Baca juga: Dirut BEI Iman Rachman Mengundurkan Diri Usai Gejolak Pasar 2 Hari Beruntun

Tag:  #pengamat #mundurnya #dirut #bentuk #tanggung #jawab #institusional #momentum #evaluasi

KOMENTAR