Como dan Filosofi Cesc Fabregas: Saat Sepak Bola Menolak Jadi Robot...
Pelatih Como 1907, Cesc Fabregas, saat menangani kubu milik Grup Djarum asal Indonesia tersebut di ajang Liga Italia 2025-2026.(AFP/PIERO CRUCIATTI)
20:11
1 Februari 2026

Como dan Filosofi Cesc Fabregas: Saat Sepak Bola Menolak Jadi Robot...

- Pelatih Como, Cesc Fabregas, percaya sepak bola bukanlah hal yang kaku dan harus selalu terpaku kepada taktik. Ia tak suka melihat pemain jadi robot.

Racikan taktik Cesc Fabregas tak bisa dimungkiri adalah salah satu alasan dari lesatan Como 1907 musim ini.

Como 1907, klub yang dimiliki pengusaha Indonesia, Hartono Bersaudara, musim ini meramaikan persaingan papan atas setelah finis 10 besar di Serie A Liga Italia 2024-2025.

Tak hanya konsisten meraih hasil, Como 1907 besutan Fabregas juga setia dengan filosofi sepak bola mereka.

Como racikan Fabregas menampilkan permainan sepak bola atraktif, tak peduli siapa yang jadi lawan mereka.

Baca juga: Peringatan Cesc Fabregas Soal Euforia Pemain Como ke Liga Champions

Tim beralias Il Lariani tersebut begitu menonjol dalam penguasaan bola dan cakap membangun serangan dari bawah. 

Kendati demikian, bagi Fabregas, sepak bola tidak hanya sebatas papan taktik. Ia percaya betul terhadap kreativitas para pasukannya di lapangan.

Karena itu, Fabregas tak ingin melihat sepak bola yang terlalu kaku seperti robot lantaran begitu terpaku kepada taktik.

Ia memberikan keleluasaan kepada para pemainnya untuk berkreasi, asalkan tetap dalam koridor konsep permainan yang diusung tim.

“Ketika para pemain memahami sepak bola dengan cara yang sama, permainan itu milik mereka, bukan milik pelatih,” ucap Fabregas usai mengalahkan Lazio beberapa waktu lalu.

“Saya tidak percaya pada sepak bola yang robotik,” katanya menambahkan.

Baca juga: Cesc Fabregas Tegaskan Como Belum di Level AC Milan, Inter, Napoli

Pemahaman inilah yang membuat permainan Como 1907 begitu mengalir dan enak disaksikan.

“Ada beberapa hal darinya yang membuat saya terpesona," tutur pengamat sepak bola Italia, Daniele "Lele" Adani dilansir dari Provincia di Como.

"Salah satunya empati. Karena beberapa hal ia dapatkan dari para pemain hanya karena ia mampu menularkan antusiasme."

"Ia pernah mengatakan bahwa suatu hari ia bisa saja menonton timnya dan menemukan pemain-pemain yang sudah tahu apa yang harus dilakukan, sudah tahu opsi alternatifnya. Itu akan menjadi puncaknya."

"Saya juga terkejut bagaimana ia mampu meraih hasil-hasil tertentu di lapangan dengan waktu persiapan yang terbatas."

"Saya melihat kisah yang berbeda, seseorang yang tetap rendah hati dalam perannya meski memiliki masa lalu hebat sebagai pemain. Seseorang yang terserap total oleh pekerjaannya tanpa menjadi tertekan karenanya,” tutur Adani soal Fabregas.

Adani kemudian bicara tentang filosofi sepak bola Fabregas bersama Como.

“Dia memahami bahwa sepak bola, bagaimanapun juga, adalah milik para pemain lebih dulu sebelum para pelatih."

"Merekalah yang fundamental, mereka tidak boleh menjadi robot, tetapi harus punya kemampuan mengambil keputusan. Dan itu dimiliki Como,” kata Adani yang semasa bermain pernah membela Fiorentina.

Lesatan Como menjadikan Fabregas masuk radar klub besar. Musim lalu, pelatih asal Spanyol itu sudah dikaitkan dengan AS Roma, AC Milan, dan Inter Milan.

Nama Fabregas juga disebut-sebut kala Chelsea memutuskan berpisah dengan Enzo Maresca beberapa waktu lalu.

“Itu pertanyaan yang bagus. Fabregas akan menjadi pelatih besar. Tentu melatih dua realitas yang berbeda adalah isu tersendiri," ujar Lele Adani.

"Thiago Motta melakukan hal luar biasa di Bologna, tetapi di Juventus ia gagal membangun empati."

"Bermain dengan pemain yang punya lima atau enam penampilan sepanjang karier berbeda dengan melatih juara yang punya seratus penampilan," ucap Adani.

Menurut Adani, Como bisa sukses karena keselarasan yang tercipta antara berbagai elemen penyokong klub.

“Hal yang paling jelas bagi saya adalah harmoni, keselarasan antara kepemilikan klub, area teknis, staf, dan para pemain. Ini terlihat nyata. Presiden, direktur olahraga, dan pelatih tampak bekerja selaras, berbicara dengan bahasa yang sama. Dan itu sangat penting,” tutur pria yang kini berusia 51 tahun itu.

Tag:  #como #filosofi #cesc #fabregas #saat #sepak #bola #menolak #jadi #robot

KOMENTAR