Trading Halt Dua Hari, Said Abdullah Minta Otoritas Bursa Berbenah dan Kembalikan Kepercayaan Investor
– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) berencana mengeluarkan sejumlah emiten besar dari pemeringkatan mereka. Langkah tersebut dipicu alasan free float, likuiditas riil, dan transparansi pada sejumlah saham unggulan di bursa Indonesia, yang langsung memukul sentimen pasar dalam dua hari terakhir.
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, menyampaikan bahwa kebijakan MSCI tersebut memicu erosi besar di IHSG. Ia mencatat, pada Rabu (28/1) IHSG anjlok hingga 7,3 persen dan memaksa otoritas bursa melakukan trading halt.
"Pagi tadi, Kamis (29/1) IHSG masih tertekan ke level minus 8,5 persen, dan jelang sore, puji syukur menguat ke minus 1,76 persen," kata Said Abdullah kepada wartawan, Kamis (29/1).
Said mengungkapkan, dalam waktu singkat dana asing keluar dari bursa mencapai Rp 6,12 triliun. Menurutnya, besarnya nilai kapitalisasi pada perdagangan hari ini menjadi sinyal positif.
"Sejujurnya, melihat nilai kapitalisasi di IHSG dari perdagangan hari ini yang jauh lebih besar dibandingkan kemarin, di satu sisi menandakan kepercayaan pelaku pasar terhadap bursa saham Indonesia masih sangat besar," tegasnya.
Meski demikian, Said menilai koreksi dari MSCI tidak bisa diabaikan. Ia menekankan bahwa pelaku pasar, otoritas bursa, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus menangkap pesan tersebut secara konstruktif.
"Pelaku pasar, otoritas bursa, dan OJK harus menangkap pesan MSCI sebagai koreksi konstruktif untuk membangun bursa saham yang sehat," ujarnya.
Ia menambahkan, semua pihak harus membuka diri terhadap pembenahan, khususnya terkait administrasi pasar modal. "Para pihak ini harus berbenah, membuka diri untuk menerima koreksi yang konstruktif dari siapapun, terutama masukan pembenahan administrasi yang disarankan oleh MSCI," beber Said.
Said juga menyinggung soal kepercayaan terhadap lembaga pemeringkat global. Ia memahami adanya faktor lain dibalik ambrolnya IHSG.
"Kita juga paham betul, faktor kepercayaan terhadap lembaga yang dianggap kredibel, terutama dalam bisnis bahkan melampaui urusan kecakapan, meskipun kecakapan dan integritas adalah modal utama membangun kepercayaan," urainya
Said juga menyoroti keterbatasan lembaga pemeringkat di sektor pasar saham. Di bursa, tidak banyak 'pemain' pemeringkatan seperti MSCI.
"Kita memiliki PT Pemeringkat Efek Indonesia, sayangnya belum mendunia dan hanya terkait obligasi, sehingga pengaruhnya tidak sebanding dengan MSCI," bebernya.
Lebih lanjut, Said mendorong adanya lembaga pembanding agar investor global tidak disuguhi satu kebenaran tunggal. "Justru saya mendorong perlu lembaga pembanding untuk men-challenge laporan MSCI. Hal itu penting agar investor global tidak disuguhi ‘kebenaran tunggal’ dan agar advisory benar-benar untuk membangun market yang sehat, bukan bagian dari sindikasi aksi goreng saham," pungkasnya.
Tag: #trading #halt #hari #said #abdullah #minta #otoritas #bursa #berbenah #kembalikan #kepercayaan #investor