Bijak Pilih Lingkungan karena Stres Bisa Menular
- Selama ini, stres sering dianggap sebagai masalah internal yang hanya dirasakan oleh individu yang bersangkutan.
Namun, stres ternyata bisa menular ke orang lain. Fenomena ini disebut dengan istilah secondhand stress, atau stres tidak langsung.
"Stres dari orang lain bisa memengaruhi tingkat stres kita, dan berdampak pada kesehatan," tulis dokter spesialis penyakit dalam dari Orlando Health Medical Group Internal Medicine, Benjamin Kaplan, dalam artikelnya di situs web Orlando Health, Minggu (18/1/2026).
Mengenal secondhand stress
Apa itu secondhand stress?
Secondhand stress adalah kondisi ketika seseorang mengalami stres akibat paparan tekanan emosional dari orang lain, bukan karena masalah yang dialaminya secara langsung.
Bagaimana stres bisa menular?
Mekanisme stres yang menular ini antara lain diulas oleh sebuah studi berjudul "Chemosensory Cues to Conspecific Emotional Stress Activate Amygdala in Humans", dipublikasikan di Public Library of Science pada tahun 2009.
“Studi ini menemukan, ketika seseorang mengalami stres, mereka melepaskan zat kimia yang dapat terhirup oleh orang di sekitarnya, sehingga membuat orang tersebut ikut menjadi lebih cemas," ujar Kaplan.
Para peneliti menyebut stres dapat "terhirup" dengan cara yang mirip seperti menghirup asap rokok orang lain.
Dalam penelitian yang sama, para peneliti mengekspos keringat dari 144 penerjun payung pemula kepada peserta lain. Aktivitas otak peserta kemudian diamati menggunakan MRI.
Hasilnya menunjukkan bahwa zat kimia yang dilepaskan saat stres dapat menjadi sinyal di udara yang memicu aktivitas amigdala, yakni bagian otak yang berperan dalam pengolahan emosi dan pengambilan keputusan.
Kaplan mengatakan bahwa proses ini memungkinkan stres emosional berpindah ke orang lain di sekitarnya. Menurut dia, hal ini tidak mengejutkan jika kita memahami kimia tubuh manusia.
“Saat berada dalam kondisi tertekan, misalnya karena pekerjaan atau masalah keluarga, tubuh kita akan melepaskan sinyal kepada orang di sekitar sebagai peringatan akan potensi bahaya,” ujar Kaplan.
Tubuh menangkap tanda stres lewat zat kimia
Sebelumnya, banyak ahli mengira bahwa tubuh hanya menangkap tanda-tanda stres melalui isyarat visual dan verbal. Namun, temuan ini menunjukkan adanya reaksi kimia yang ikut berperan.
“Menghirup zat kimia stres dari orang lain juga membuat kita lebih peka terhadap penampilan dan perilaku orang di sekitar,” kata Kaplan.
Ia melanjutkan, kewaspadaan yang meningkat ini dapat membuat seseorang lebih mudah terstimulasi dan merasa cemas tanpa menyadarinya.
“Saat stres meningkat, tubuh pun akan melepaskan zat yang dapat memicu stres pada orang lain, sehingga tercipta siklus yang sulit diputus," sambung Kaplan.
Stres tidak langsung dapat menular melalui ekspresi wajah, nada suara, bau tubuh, hingga sentuhan.
Risiko "tertular" stres bahkan lebih besar dari orang-orang yang memiliki hubungan dekat, seperti rekan kerja, teman, atau anggota keluarga.
Ada studi lain dari University of California San Francisco berjudul "Is Stress Contagious? Study Shows Babies Can Catch It From Their Mothers" pada tahun 2014.
Studi menunjukkan, ibu yang mengalami situasi penuh tekanan, meskipun terpisah dari bayinya, dapat menyalurkan perasaan stres tersebut setelah kembali bertemu dengan anaknya.
“Penelitian itu juga menemukan adanya peningkatan signifikan pada detak jantung dan tekanan darah bayi yang tidak terpapar langsung pada situasi stres, tetapi hanya bertemu kembali dengan ibu yang sebelumnya mengalami stres,” ungkap Kaplan.
Bagaimana cara mengurangi stres?
Stres, baik yang berasal dari diri sendiri maupun dari orang lain, tidak baik bagi kesehatan. Kondisi ini dapat memengaruhi tekanan darah, kesehatan jantung, serta kesejahteraan mental.
Seperti halnya menghindari asap rokok orang lain, paparan secondhand stress juga bisa dikurangi. Langkah awal yang penting adalah memahami bagaimana cara diri sendiri merespons dan mengelola stres.
“Jika kamu mampu mengurangi stres dalam diri, maka tingkat stres di lingkungan sekitar juga dapat berkurang,” ujar Kaplan.
Lingkungan sosial juga perlu diperhatikan. Berada di sekitar orang-orang dengan tingkat stres tinggi bisa membuat kecemasan ikut meningkat.
Memang tidak selalu mungkin menjauhi anggota keluarga atau rekan kerja yang mudah mengalami stres. Namun, menyadari dampaknya dapat membantu mengendalikan reaksi diri.
Kaplan menyarankan untuk tidak terlalu larut dalam kecemasan orang lain. Bagi mereka yang sedang merasa tertekan, langkah terpenting adalah mengenali sumber stres terlebih dahulu. Lalu, terapkan berbagai teknik pengelolaan stres, seperti mengatur napas atau menulis jurnal.
Perihal menulis jurnal, Kaplan menuturkan bahwa menuliskan masalah dapat membantu melihat tantangan dengan lebih jelas, dan mempermudah pencarian solusi.
Tag: #bijak #pilih #lingkungan #karena #stres #bisa #menular