Biaya Hidup di Kota Makin Tinggi, Jangan Paksa Beli Baju Baru demi Gengsi
Ilustrasi pakaian(PIXABAY/PEXELS)
21:20
14 Januari 2026

Biaya Hidup di Kota Makin Tinggi, Jangan Paksa Beli Baju Baru demi Gengsi

- Anggapan bahwa tampil stylish berarti harus terus membeli baju baru masih melekat di benak banyak orang, meskipun saat ini biaya untuk hidup sudah serba naik.

Tekanan sosial, media sosial, hingga lingkungan pertemanan, kerap membuat seseorang merasa “wajib” selalu tampil berbeda agar tidak dianggap ketinggalan zaman.

Menurut pemilik SARE Studio dan kreator konten conscious fashion, Cempaka Asriani, alasan di balik kebiasaan belanja barang fesyen sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar ingin terlihat keren.

“Tekanan sosial itu beda-beda, tergantung status ekonomi dan umur. Demografi juga menentukan tekanan sosial yang mereka rasakan,” ujar dia saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Didorong oleh FOMO

Fear of Missing Out (FOMO) adalah rasa takut dan khawatir bahwa seseorang akan ketinggalan apapun yang sedang naik daun.

Cempaka mengungkapkan, dorongan seseorang untuk selalu tampil stylish dengan teurs membeli baju baru, berasal dari FOMO.

“Misalnya teman-temannya, saudara, atau lingkungannya, pada punya (barang baru), jadi kayak, ‘masa enggak punya juga sih?’ karena enggak mau dibilang ketinggalan zaman, enggak keren, dan segala macam,” tutur dia.

Deretan perasaan inilah yang akhirnya mendorong konsumsi, bukan karena kebutuhan, tetapi karena ingin tetap dianggap up to date atau kekinian.

Keinginan dianggap seperti itu, membuat seseorang akhirnya menciptakan dan menentukan standar terhadap diri sendiri, bahwa dia harus selalu membeli baju baru agar selalu tampil stylish, meskipun kondisi ekonomi sebenarnya menuntut untuk berhemat.

Menyenangkan inner child

Dikutip dari Kompas.com, Rabu (14/1/2026), merujuk pada buku “How To Heal Your Inner Child” karya Simmon Chapple, inner child adalah bagian dari kepribadian seseorang yang merepresentasikan pengalaman emosional di masa kecil.

Inner child menyimpan seluruh memori tentang bagaimana seseorang pernah merasa dicintai, diabaikan, disakiti, dihargai, atau ditolak saat masih anak-anak. Dalam perspektif psikologi, inner child berkaitan erat dengan alam bawah sadar.

Pengalaman masa kecil yang belum terselesaikan akan tetap hidup di dalam diri seseorang hingga dewasa.

Ketika seseorang bereaksi secara berlebihan terhadap suatu situasi, merasa takut tanpa alasan yang jelas, atau sangat sensitif terhadap penolakan, sering kali itu merupakan respons dari inner child yang pernah terluka.

“Banyak yang mengaku belanjanya untuk menyenangkan inner child, karena waktu kecil hidupnya secara ekonomi sulit. Memang enggak bisa belanja, karena dibesarkan dengan situasi yang cukup terbatas secara ekonomi,” jelas Cempaka.

“Mereka kayak semacam balas dendam. Beli hal-hal yang waktu kecil enggak bisa, atau waktu kecil enggak dibolehin sama orangtuanya,” lanjut dia.

Outfit repeater sebagai bagian dari mindful consumption

Sementara itu, di tengah kondisi ekonomi yang menantang dan harga kebutuhan yang terus naik, gaya hidup mindful consumption mulai banyak dibicarakan, termasuk dalam dunia fashion.

Mindful consumption adalah ketika seseorang sadar dalam mengonsumsi apa pun, baik itu barang, jasa, maupun yang dilihat di berita dan media sosial.

Konsep ini menekankan pentingnya kesadaran dalam setiap keputusan konsumsi. Belanja memang tidak dilarang, tetapi perlu dilakukan berdasarkan alasan yang jelas dan relevan dengan kebutuhan.

Salah satu praktik dalam menerapkan mindful consumption adalah menjadi outfit repeater, alias orang yang selalu memakai baju yang sama setiap hari.

Shop from your own wardrobe

“Sebenarnya, gimana caranya mindful consumption kan salah satunya adalah shop from your own wardrobe. Dengan memakai apa yang sudah kita punya, itu menjadi salah satu bagian dari mindful consumption itu sendiri,” terang Cempaka.

Sebelum belanja pakaian, periksa dulu isi lemari untuk melihat apakah kamu sudah memiliki barang tersebut, atau barang serupa, atau tidak.

Sebab, biasanya barang yang ingin dibeli sudah ada di dalam lemari, hanya mungkin beda warna, motif, atau modelnya lebih baru dari yang sudah dimiliki.

“Buka dulu lemarinya, cari dulu barangnya di rumah, dan pakai apa yang kita sudah punya. Kalau sudah dicari, dan tetap tidak ada, kita bisa (beli),” imbau dia.

Tak perlu takut dicibir

Outfit repeater masih sering menuai komentar negatif, terutama di media sosial seperti TikTok dan Instagram.

Ada anggapan bahwa memakai pakaian yang sama berulang kali berarti kurang gaya atau kurang usaha. Alhasil, membuat orang takut akan lebih diingat pakaiannya, ketimbang  wajahnya.

Cempaka mengingatkan, untuk tak perlu mengkhawatirkannya. 

“Ada studi yang bilang, otak manusia lebih mengingat wajah daripada pakaian. Mungkin itu bisa jadi pengingat,” kata dia.

Lebih lanjut, memakai baju itu-itu saja bukanlah suatu masalah. Jangan sampai kamu memaksakan diri untuk selalu membeli baju baru agar tampil stylish, sampai menggunakan pay later, alias fitur belanja sekarang bayar nanti.

“Kalau memang ada dananya silakan. Kalau enggak ada bujet, misalnya memaksa dalam arti membeli segala macam pakai pay later, perlu dipikir lagi. Apakah memang seperlu itu untuk menjalani gaya hidup sepert itu? Buat apa?” pungkas Cempaka.

Tag:  #biaya #hidup #kota #makin #tinggi #jangan #paksa #beli #baju #baru #demi #gengsi

KOMENTAR