Seni dalam Melepaskan: 8 Langkah yang Akhirnya Berdamai dengan Apa yang Tidak Dapat Anda Ubah
seseorang yang berdamai dengan dirinya (Freepik/freepik)
10:52
8 Januari 2026

Seni dalam Melepaskan: 8 Langkah yang Akhirnya Berdamai dengan Apa yang Tidak Dapat Anda Ubah

 

Ada fase dalam hidup ketika kita menyadari satu kebenaran yang sunyi namun tegas: tidak semua hal bisa kita kendalikan.

Sebanyak apa pun usaha, doa, atau logika yang kita susun rapi, kenyataan tetap berjalan pada jalurnya sendiri.

Di titik inilah banyak orang terjebak—antara terus melawan sesuatu yang mustahil diubah, atau belajar melepaskan dan melanjutkan hidup dengan hati yang lebih ringan.

Melepaskan bukan berarti menyerah. Ia adalah seni. Seni memahami batas diri, seni menghormati kenyataan, dan seni berdamai dengan keadaan tanpa kehilangan harga diri. 

Dilansir dari Geediting pada Kamis (8/1), terdapat delapan langkah yang dapat membantu Anda perlahan berdamai dengan apa yang memang tidak dapat Anda ubah.

1. Mengakui Kenyataan Tanpa Membenarkannya

Langkah pertama dalam melepaskan adalah pengakuan. Bukan pembenaran, bukan pula kepasrahan buta, melainkan kejujuran pada diri sendiri. “Ya, ini terjadi.” Kalimat sederhana ini sering kali lebih sulit diucapkan daripada ribuan keluhan.

Mengakui kenyataan berarti berhenti menghabiskan energi untuk menyangkal. Anda tidak harus menyukai keadaan tersebut. Anda hanya perlu mengakui bahwa ia nyata, hadir, dan untuk saat ini berada di luar kendali Anda.

2. Memilah antara Kendali dan Ilusi Kendali

Banyak penderitaan lahir bukan dari peristiwa itu sendiri, melainkan dari keyakinan keliru bahwa kita seharusnya bisa mengendalikannya. Seni melepaskan dimulai ketika Anda berani bertanya: “Apa yang benar-benar bisa saya ubah?”

Pikiran Anda—bisa. Sikap Anda—bisa. Tindakan hari ini—bisa. Masa lalu, keputusan orang lain, atau hasil yang sudah terjadi—tidak. Memilah keduanya adalah latihan mental yang membebaskan.

3. Memberi Ruang bagi Emosi Tanpa Tenggelam di Dalamnya

Melepaskan bukan berarti menekan emosi. Sedih, marah, kecewa, bahkan iri—semua emosi itu valid. Yang perlu diubah bukan keberadaannya, melainkan cara Anda berelasi dengannya.

Izinkan emosi hadir, tetapi jangan membiarkannya mengambil alih kemudi hidup Anda. Rasakan, akui, lalu lepaskan perlahan. Emosi yang diterima dengan sadar akan pergi lebih cepat daripada emosi yang dilawan.

4. Berhenti Mencari “Seandainya”

“Andai dulu saya…”
“Seandainya dia tidak…”
“Kalau saja keadaan berbeda…”

Kalimat-kalimat ini tampak reflektif, tetapi sering kali menjadi jebakan. Ia mengikat Anda pada masa lalu yang tak bisa diulang. Melepaskan berarti berhenti menawar kenyataan dengan kemungkinan-kemungkinan yang sudah mati.

Masa lalu adalah guru, bukan tempat tinggal. Ambil pelajarannya, lalu melangkahlah pergi.

5. Menerima Bahwa Tidak Semua Hal Memiliki Penutupan yang Rapi

Hidup jarang memberikan penjelasan lengkap. Tidak semua hubungan berakhir dengan klarifikasi. Tidak semua kegagalan disertai alasan yang memuaskan. Dan itu tidak apa-apa.

Salah satu bentuk kedewasaan emosional adalah kemampuan hidup tanpa penutupan sempurna. Anda boleh melanjutkan hidup meski beberapa pertanyaan tetap tak terjawab.

6. Mengalihkan Energi ke Hal yang Masih Bisa Ditumbuhkan

Saat satu pintu tertutup, ada kecenderungan untuk duduk lama di depannya. Seni melepaskan mengajarkan sebaliknya: alihkan energi ke ruang lain yang masih hidup.

Kembangkan diri, perbaiki kebiasaan, bangun relasi sehat, rawat tubuh dan pikiran. Melepaskan bukan tentang kehilangan, melainkan tentang mengarahkan ulang energi ke arah yang lebih subur.

7. Memaafkan, Bukan untuk Melupakan, tetapi untuk Membebaskan

Memaafkan sering disalahpahami sebagai melupakan atau membenarkan kesalahan. Padahal, memaafkan adalah tindakan egois yang sehat—Anda melakukannya untuk membebaskan diri sendiri dari beban emosional yang berkepanjangan.

Anda tidak memaafkan karena orang lain pantas, tetapi karena Anda layak hidup dengan hati yang lebih lapang.

8. Memaknai Ulang Kehilangan sebagai Bagian dari Pertumbuhan

Pada akhirnya, melepaskan adalah tentang makna. Ketika Anda berhenti melihat kehilangan sebagai kegagalan, dan mulai memaknainya sebagai proses pendewasaan, luka perlahan berubah menjadi kebijaksanaan.

Tidak semua yang pergi adalah kerugian. Beberapa di antaranya adalah ruang yang sengaja dikosongkan agar versi diri Anda yang lebih kuat bisa masuk.

Penutup: Berdamai Bukan Akhir, Melainkan Awal

Seni dalam melepaskan bukan tentang menjadi dingin atau tidak peduli. Justru sebaliknya—ia adalah bentuk kepedulian tertinggi pada diri sendiri. Dengan melepaskan apa yang tidak dapat Anda ubah, Anda sedang memilih untuk hadir sepenuhnya pada hidup yang masih bisa Anda bentuk.

Berdamai dengan kenyataan tidak membuat Anda lemah. Ia membuat Anda jujur. Dan dari kejujuran itulah, ketenangan tumbuh perlahan, menggantikan perlawanan yang melelahkan.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang mengendalikan segalanya, melainkan tentang mengetahui kapan harus menggenggam, dan kapan harus dengan lembut melepaskan.

 

***

Editor: Novia Tri Astuti

Tag:  #seni #dalam #melepaskan #langkah #yang #akhirnya #berdamai #dengan #yang #tidak #dapat #anda #ubah

KOMENTAR