Tak Harus Sempurna, Pola Pikir “Cukup Baik” Bisa Kurangi Overthinking
- Overthinking alias kecenderungan cemas berlebihan yang berdampak negatif, sering muncul saat seseorang merasa harus mengambil keputusan yang paling tepat dalam setiap situasi.
Dorongan untuk selalu memilih yang terbaik inilah yang, menurut terapis, dapat membuat pikiran terasa lelah dan sulit melangkah.
Salah satu pendekatan yang bisa membantu mengurangi overthinking adalah pola pikir “cukup baik”. Strategi ini dikenal sebagai satisficing, yaitu memilih opsi yang memenuhi kebutuhan tanpa harus mencari keputusan paling sempurna.
Terapis pernikahan dan keluarga berlisensi Chloe Bean menjelaskan bahwa keinginan untuk menemukan pilihan terbaik sering kali disertai rasa takut.
“Saat kita terlalu fokus mencari pilihan yang ‘paling baik’, rasa takut sering muncul, seperti takut menyesal, takut salah mengambil keputusan, dan hal itu bisa membuat seseorang justru berhenti melangkah,” ujar Bean, dikutip dari Real Simple, Rabu (7/1/2026).
Menurutnya, cara berpikir “cukup baik” membantu seseorang mengambil keputusan dari kondisi mental yang lebih tenang, bukan dari tekanan internal maupun eksternal.
Apa itu satisficing?
Satisficing menekankan kecukupan dibanding kesempurnaan. Cara ini mengajak seseorang berhenti mencari opsi lain ketika kebutuhan utama sudah terpenuhi.
Psikolog klinis dr. Anne Welsh menjelaskan bahwa perbedaan utama antara perfeksionisme dan satisficing terletak pada cara seseorang memandang batasan.
“Dalam perfeksionisme, kita tidak bersikap sadar terhadap waktu dan batasan yang kita miliki. Sementara dalam satisficing, kita memilih apa yang benar-benar paling penting,” ujar Welsh.
Ilustrasi tertawa karena dark jokes
Keputusan seperti apa yang cocok dengan satisficing?
Psikoterapis Sage Grazer menilai satisficing paling efektif diterapkan pada keputusan dengan banyak hasil layak dan risiko rendah.
“Satisficing bekerja dengan baik untuk keputusan yang memiliki banyak hasil yang sama-sama bisa diterima, terutama ketika tekanan mental dari overthinking lebih besar dibanding manfaat mencari pilihan yang ‘sempurna’,” kata Grazer.
Grazer mencontohkan keputusan sehari-hari seperti memilih pakaian kerja. Meski ada banyak pilihan, mengenakan pakaian yang rapi dan nyaman sudah cukup, tanpa perlu memikirkan setiap kemungkinan.
Hal serupa juga kerap terjadi saat membalas email atau pesan profesional. Banyak orang menghabiskan terlalu banyak waktu untuk menyusun respons yang dianggap sempurna, padahal pesan yang jelas dan sopan sudah memadai.
Mencegah overthinking setelah memilih yang “cukup baik”
Grazer mengakui bahwa menerapkan satisficing bisa terasa tidak nyaman di awal, terutama bagi mereka yang terbiasa dengan perfeksionisme. Ia menyarankan untuk memulainya dari keputusan kecil.
Salah satu caranya adalah dengan menentukan sejak awal seperti apa kriteria cukup baik, lalu berhenti mencari opsi lain ketika kriteria tersebut sudah terpenuhi.
“Ketika sebuah pilihan sudah memenuhi syarat itu, ambil keputusan dan lanjutkan,” ujar Grazer.
Menurutnya, langkah ini memberi struktur dan rasa aman, sehingga satisficing terasa sebagai pilihan sadar, bukan sikap ceroboh.
Setelah keputusan diambil, penting untuk secara sengaja mengalihkan perhatian agar tidak kembali mempertanyakannya.
“Menganggap keputusan sebagai sudah selesai membantu menghentikan dorongan untuk membukanya kembali, yang sering kali menjadi awal dari overthinking,” tambahnya.
Grazer menegaskan, satisficing bukan tentang menyerah, melainkan tentang menjaga energi mental.
“Melindungi energi mental membantu seseorang lebih fokus, mampu mengatur emosi, dan merasakan kejernihan berpikir, yang justru lebih mungkin menghasilkan keputusan yang baik dibanding terus mengejar pilihan yang sempurna,” kata Grazer.
Tag: #harus #sempurna #pola #pikir #cukup #baik #bisa #kurangi #overthinking