Tanda Pubertas Dini pada Anak yang Sering Terlewat Orangtua
Perubahan fisik pada anak sering dianggap bagian normal dari tumbuh kembang, padahal dalam beberapa kasus bisa menjadi tanda pubertas dini yang luput disadari orangtua.
Ahli endokrinologi anak, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp. End., FAAP, FRCPI (Hon.), menjelaskan bahwa pubertas dini atau precocious puberty terjadi ketika tanda pubertas muncul sebelum usia 8 tahun pada anak perempuan dan sebelum usia 9 tahun pada anak laki-laki.
Tanda pubertas dini pada anak perempuan
Menurut Prof. Aman Pulungan, tanda paling awal pubertas dini pada anak perempuan adalah pembesaran payudara yang sering kali tidak disadari karena dianggap sebagai pertumbuhan biasa.
“Pada anak perempuan, pubertas itu diawali oleh pembesaran payudara,” ujarnya saat diwawancarai Kompas.com pada Selasa (6/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa pada beberapa anak, pembesaran payudara bisa muncul sangat dini sehingga memerlukan kewaspadaan lebih tinggi dari orangtua.
“Kalau pembesaran payudara terjadi pada usia sangat muda, terutama di bawah 6 tahun, itu harus dicurigai sebagai sesuatu yang patologis,” kata dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi tersebut.
Selain pembesaran payudara, perubahan lain seperti percepatan tinggi badan dan haid yang datang terlalu cepat juga dapat menjadi bagian dari pubertas dini.
Tanda pubertas dini pada anak laki-laki
ilustrasi anak. Perubahan fisik yang terlihat sepele pada anak bisa menjadi tanda pubertas dini yang memerlukan perhatian medis sejak awal.
Sementara itu, pada anak laki-laki, tanda awal pubertas dini sering lebih sulit dikenali karena tidak selalu tampak jelas dari luar.
“Pada anak laki-laki, tanda awal pubertas itu diawali dengan pembesaran testis atau buah zakar,” ujar Prof. Aman Pulungan.
Guru Besar UI tersebut menekankan bahwa pubertas dini pada anak laki-laki justru lebih sering berkaitan dengan kondisi patologis dibandingkan variasi normal.
“Kalau pada anak laki-laki terjadi pubertas dini, itu sering sekali patologi,” katanya.
Karena itu, perubahan ukuran testis yang terjadi lebih cepat dari usia seharusnya perlu segera diperiksakan ke dokter.
Mengapa tanda pubertas dini sering terlewat
Prof. Aman menjelaskan bahwa banyak orangtua tidak menyadari pubertas dini karena menganggap perubahan fisik anak sebagai proses tumbuh kembang yang wajar.
“Variasi normal memang ada, tetapi tergantung umur dan bagaimana tahapan pubertasnya, sehingga ini harus ditentukan oleh dokter endokrin anak,” ujarnya.
Kurangnya informasi dan minimnya pemeriksaan dini juga membuat pubertas dini baru terdeteksi setelah perubahan fisik berlangsung cukup jauh.
Kapan orangtua perlu waspada
Menurut dokter yang berpraktik di Klinik Anak AP&AP Jakarta dan RSPI Pondok Indah itu, orangtua perlu waspada bila perubahan fisik pubertas muncul jauh lebih cepat dibandingkan anak seusianya.
“Jika pubertas pada anak perempuan terjadi sebelum usia 6 tahun atau pada anak laki-laki sebelum usia yang seharusnya, pemeriksaan lanjutan perlu segera dilakukan,” kata Prof. Aman.
Ia menegaskan bahwa deteksi dini sangat penting untuk mencegah dampak lanjutan dari pubertas dini.
Dampak jika pubertas dini tidak terdeteksi
Pubertas dini yang tidak terdeteksi dapat berdampak pada kondisi fisik anak di masa depan.
“Dampak fisiknya anak akan dewasa lebih cepat, tetapi akhirnya tubuhnya bisa lebih pendek, dan pada anak perempuan haidnya terjadi lebih dini,” ujar Prof. Aman.
Selain itu, pubertas dini juga berkaitan dengan risiko kesehatan lain seperti osteoporosis, PCOS, hingga keganasan di kemudian hari.
Peran orangtua sangat penting dalam mengenali tanda awal pubertas dini dan segera mencari bantuan medis.
“Kalau ada perubahan fisik yang tidak sesuai usia, jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter,” katanya.
Dengan pemahaman yang tepat, orangtua diharapkan tidak mengabaikan tanda-tanda awal pubertas dini agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Tag: #tanda #pubertas #dini #pada #anak #yang #sering #terlewat #orangtua