Dari So Sweet ke So Toxic: Mengapa Cara Kita Menonton Rom-Com Berubah
Para pemeran drama komedi romantis Nice to Not Meet You(Prime Video)
10:20
7 Januari 2026

Dari So Sweet ke So Toxic: Mengapa Cara Kita Menonton Rom-Com Berubah

BAGI banyak milenial akhir, film komedi romantis atau romantic comedy (rom-com) pernah menjadi hiburan yang terasa aman dan menyenangkan. Pengalaman itu saya rasakan sejak duduk di bangku SMP, ketika akses terhadap film begitu mudah—DVD bajakan tersedia di pusat perbelanjaan seperti ITC, dan film ditonton tanpa banyak pertanyaan: ceritanya tentang apa, siapa pemerannya, atau bahkan berasal dari negara mana. Selama tampak menarik, film tersebut ditonton. Dan memang, rom-com pada masa itu terasa menyenangkan.

Sejak SMP hingga kuliah, rom-com hadir dengan formula yang akrab: pertemuan tak terduga (meet-cute), kejar-kejaran cinta, salah paham yang berujung manis, serta tokoh utama yang pantang menyerah meski jelas-jelas ditolak. Semua elemen tersebut dulu terasa romantis, penuh harapan, dan meyakinkan. Bagi sebagian penonton, termasuk saya, rom-com ikut membentuk imajinasi tentang seperti apa cinta seharusnya dijalani.

Namun, seiring waktu, pengalaman menonton itu berubah. Adegan yang dahulu memicu senyum kini justru mengundang pertanyaan. Ketika tokoh terus memaksa meski telah ditolak, atau ketika ketidaknyamanan dibingkai sebagai bukti cinta, respons penonton tidak lagi sama. Apa yang dulu terasa “manis” kini kerap terbaca sebagai problematis, bahkan tidak sehat.

Perubahan Bukan pada Film, Melainkan pada Penontonnya

Perubahan ini tidak semata-mata disebabkan oleh menurunnya kualitas film. Menurut Kyle Barrett, dosen senior di University of Waikato, pergeseran ini terjadi karena penonton mulai menerapkan norma relasi masa kini pada film-film lama. Penonton tidak lagi berada dalam posisi pasif, melainkan membawa kesadaran baru tentang batas personal, relasi kuasa, dan kesehatan mental.

Kesadaran ini juga diperkuat oleh apa yang kerap disebut sebagai red flag culture, terutama di media sosial. Istilah seperti toxic relationship, gaslighting, dan love bombing menjadi bagian dari kosakata sehari-hari. Akibatnya, perilaku yang dulu dianggap romantis kini lebih sering dibaca sebagai bentuk manipulasi atau pelanggaran batas. Dalam konteks ini, rom-com lama mengalami pembacaan ulang.

Kegigihan tokoh utama yang dulu dipuja sebagai bentuk kesetiaan kini dipertanyakan: apakah itu benar-benar cinta, atau justru pengabaian terhadap kehendak orang lain?

“Grand Gestures” dan Fantasi Relasi

Kritik terhadap rom-com juga banyak diarahkan pada konsep grand gestures, aksi romantis besar yang ditampilkan sebagai puncak cinta. Benjamin Karney, profesor psikologi sosial, menyebut bahwa rom-com kerap menghadirkan fantasi relasi yang tidak realistis. Gestur romantis semacam ini lebih dirancang untuk membangkitkan emosi penonton ketimbang mempertimbangkan kenyamanan dan agensi pasangan dalam cerita.

Sejumlah film populer kerap menjadi contoh pembacaan ulang ini. Dalam The Notebook, misalnya, adegan ancaman Noah untuk menjatuhkan diri dari bianglala jika Allie menolak berkencan kini dipandang sebagai bentuk manipulasi emosional. Sementara dalam Love Actually, pengakuan cinta Mark kepada istri sahabatnya dianggap melanggar batas relasi yang sudah ada.

Hal serupa juga terjadi pada Sleepless in Seattle, di mana tindakan menguntit yang dahulu dikemas romantis kini sulit dilepaskan dari isu privasi.

Pengaruh “Therapy Culture” terhadap Cara Menonton

Selain red flag culture, meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental turut mengubah cara penonton memaknai rom-com. Terapis hubungan Jo Robertson menilai bahwa rom-com sering menyederhanakan konflik relasi, seolah semuanya dapat selesai dengan pengakuan cinta atau permintaan maaf yang dramatis. Padahal, dalam kehidupan nyata, relasi menuntut komunikasi berkelanjutan, negosiasi, dan perubahan perilaku.

Ketika film terus menampilkan resolusi instan, penonton berisiko menginternalisasi ekspektasi yang tidak realistis. Kritikus Christopher Orr dari The Atlantic bahkan menyebut bahwa rom-com kerap mengajarkan bahwa cinta tidak membutuhkan komunikasi verbal atau kecocokan intelektual, melainkan cukup mengandalkan ketertarikan dan takdir.

Riset Carrie Smith dari University of Mississippi melalui teori kultivasi menunjukkan bahwa paparan berulang terhadap narasi media dapat membentuk cara individu memandang realitas. Dalam konteks rom-com, penonton berat cenderung lebih mempercayai konsep soulmate dan love at first sight, yang berpotensi memicu kekecewaan ketika diterapkan dalam relasi nyata.

Menuju Representasi Cinta yang Lebih Sehat

Kesadaran baru ini juga mendorong kritik terhadap ketimpangan kuasa dan kurangnya keberagaman dalam rom-com. Bahkan film yang lebih modern, seperti Happiest Season, masih menuai kritik karena dianggap memaklumi perilaku manipulatif demi mempertahankan narasi happily ever after.

Meski demikian, genre rom-com tidak sepenuhnya berhenti berkembang. Sejumlah karya kontemporer mulai menggeser fokus dari akhir bahagia menuju proses relasi yang lebih setara dan komunikatif. Serial seperti Nobody Wants This mendapat apresiasi karena menampilkan penyelesaian konflik melalui dialog dewasa, bukan drama berlarut-larut.

Pada akhirnya, rom-com tetap dapat dinikmati sebagai hiburan. Namun, seperti halnya bentuk konsumsi budaya lain, diperlukan kesadaran kritis dalam menikmatinya. Dengan memahami bahwa film adalah konstruksi naratif, bukan panduan relasi, penonton dapat menikmati rom-com tanpa harus menginternalisasi fantasi yang berpotensi merugikan.

Yang berubah bukan semata filmnya, melainkan cara kita memaknainya. Dan perubahan cara menonton itu, pada akhirnya, mencerminkan perubahan cara kita memahami relasi dalam kehidupan nyata.

Tag:  #dari #sweet #toxic #mengapa #cara #kita #menonton #berubah

KOMENTAR