6 Penyebab Sering Lupa, Bukan Hanya karena Usia Tua
- Faktor usia sering dianggap sebagai penyebab utama seseorang menjadi lebih pelupa.
Anggapan ini tidak sepenuhnya salah karena seiring bertambahnya usia, fungsi otak memang mengalami perubahan.
Hal tersebut dibenarkan oleh neuropsikolog Elise Caccappolo, yang menjelaskan bahwa proses penuaan dapat memengaruhi kecepatan berpikir dan kemampuan mengingat.
“Seiring bertambahnya usia, otak mulai mengalami penyusutan. Karena itu, seseorang bisa membutuhkan waktu lebih lama untuk mengingat nama, menemukan kata yang tepat, atau menyelesaikan suatu masalah,” ujar Caccappolo, mengutip dari Prevention, Jumat (2/1/2025).
Meskipun demikian, para ahli menegaskan bahwa sering lupa tidak selalu berkaitan dengan penuaan semata.
Penyebab Sering Lupa
Menurut para ahli, gaya hidup, kondisi kesehatan, hingga kebiasaan sehari-hari juga berperan besar terhadap menurunnya daya ingat.
Berikut enam penyebab seseorang sering lupa menurut para ahli.
1. Efek samping obat-obatan
Sejumlah obat yang umum digunakan dapat memengaruhi daya ingat, terutama jika dikonsumsi dalam jangka panjang atau dikombinasikan dengan obat lain.
“Selalu beri tahu dokter tentang semua obat dan suplemen yang dikonsumsi, termasuk yang dijual bebas,” kata Brenna Renn, asisten profesor psikologi di University of Nevada, Las Vegas.
Obat seperti benzodiazepin, obat tidur, opioid, obat obat kejang, hingga beberapa antidepresan diketahui dapat memengaruhi fungsi kognitif dan memori pada sebagian orang.
2. Depresi dan kecemasan
Gangguan suasana hati merupakan salah satu penyebab utama lupa pada usia paruh baya, yaitu 40 tahun hingga 60 tahun.
“Saat depresi, otak tidak bekerja 100 persen. Otak tidak memperhatikan hal-hal sebaik biasanya, begitu juga dengan fungsi area memori,” jelas Caccappolo.
Kecemasan kronis juga berdampak serupa. Menurut dr. Thomas Holland, stres berkepanjangan membuat tubuh terus berada dalam kondisi siaga yang dapat mengganggu fungsi kognitif.
3. Pola makan yang kurang mendukung otak
Asupan makanan memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan sel saraf.
“Makanan yang kaya nutrisi dan bioaktif yang tepat dapat membantu mencegah neuron dari kerusakan,” ujar Holland.
Ia menambahkan, penelitian menunjukkan bahwa pola makan tinggi flavonoid, seperti sayuran hijau, teh, dan tomat, dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif yang lebih lambat.
Sebaliknya, konsumsi makanan ultraproses dapat meningkatkan risiko penurunan daya ingat.
4. Kurang tidur atau gangguan tidur
Tidur berperan besar dalam proses pembentukan dan penyimpanan memori. Kurang tidur dalam jangka panjang dapat menguras sumber daya kognitif otak.
Menurut National Institutes of Health (NIH), kelelahan yang menumpuk akibat gangguan tidur dapat menguras sumber daya kognitif sehingga konsentrasi dan pembentukan ingatan berkurang.
Gangguan seperti obstructive sleep apnea (OSA) juga perlu diwaspadai. Kondisi ini dapat mengurangi suplai oksigen ke otak dan berdampak pada memori jangka pendek maupun panjang.
“Seseorang dengan OSA mengalami hipoksia setiap malam ketika otak tidak mendapatkan oksigen yang dapat menyebabkan masalah memori,” kata Caccappolo.
5. Gangguan pendengaran
Penelitian terbaru menunjukkan hubungan erat antara pendengaran dan fungsi otak. Gangguan pendengaran membuat otak bekerja lebih keras hanya untuk memahami suara, sehingga mengurangi kapasitas memori.
Kabar baiknya, sebuah studi menemukan bahwa penggunaan alat bantu dengar dapat membantu menurunkan risiko kognitif jangka panjang sebesar 19%.
“Alat bantu dengar yang berfungsi dengan baik dapat membantu menjaga fungsi kognitif,” kata Renn.
6. Terlalu sering multitasking
Kebiasaan melakukan banyak hal sekaligus, terutama dengan gawai, juga berdampak pada daya ingat.
Penelitian dalam jurnal Nature menunjukkan bahwa media multitasking dapat mengganggu fokus dan kemampuan mengingat, bahkan pada usia muda.
“Seiring bertambahnya usia, kecepatan pemrosesan otak melambat. Jika mencoba melakukan banyak hal sekaligus, Anda akan sedikit lebih lambat dalam setiap hal tersebut,” jelas Caccappolo.