Keterbatasan Buta Warna Tak jadi Persoalan, Seniman Ricky B Salim Pamerkan 32 Lukisan di Bali
- Sejumlah lukisan turut diperlihatkan pada akhir tahun 2025 di LIMA Art Gallery di area Garuda Wisnu Kencana, Bali, Minggu (21/12). Total lukisan yang berjumlah 32 tersebut merupakan karya dari Ricky B. Salim, sosok yang sejatinya memiliki keterbatasan buta warna.
Tentunya menyelesaikan karya seni yang jumlah puluhan bukan perkara mudah. Terlebih dengan kondisi yang seperti itu. Seniman sendiri tentunya membutuhkan inspirasi, ketenangan, dan waktu yang tepat.
Pameran ini terbuka untuk umum. Lukisan yang dicetak dalam bentuk kartu adalah hasil karya Ricky saat di Tuscany yang merupakan ”Spread The Gospel of Through Art” merupakan prophetic art yang menjadi inspirasinya.
“Dalam kelemahanku kuasa Tuhan sempurna. Apa yang dihasilkan bukanlah karena diri ku semata, tapi karena kasih karunia dan kemampuan yang diberikan Tuhan,” ucap Ricky B. Salim dalam keterangannya.
Ricky sendiri seorang seniman yang memiliki visi tinggi akan kedamaian dan penuh cinta kasih. Kekuatan visi tersebut diakuinya membawanya terus berkarya. Sentuhan tangan dalam balutan warna-warni menciptakan karya yang luar biasa menyentuh semua orang yang melihatnya.
Menariknya, keterbatasan yang selama ini dihadapinya, disempurnakan oleh seorang istri, Hany, yang selalu setia dan sabar mendampinginya. Hanya saja, tidak selamanya sang istri bersamanya. Contoh saat di Tuscany, Ricky mengaku melukis sendiri.
Ricky adalah sosok ayah bagi Nciloe Abigail, Nicholas Matthew, dan Nathania Caella, sekaligus pendamping hidup bagi Hany. Tahun 2017 menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya, ketika ia memutuskan untuk menapaki dunia seni lukis secara serius.
Memulai karier baru di usia yang tidak lagi muda tentu bukan perkara mudah, apalagi dengan berbagai keterbatasan yang ia miliki. Namun panggilan untuk melukis terus hadir, mengusik pikiran dan menggerakkan hatinya dengan dorongan yang tak mampu ia abaikan.
Pergolakan batin itu akhirnya menemukan bentuk dalam sebuah karya perdana berjudul Last Supper (Perjamuan Akhir). Lukisan tersebut ia persembahkan untuk sebuah gereja di Bali, menjadi penanda awal langkahnya sebagai pelukis.
Sejak saat itu, kuas dan kanvas seolah menjadi bagian dari hidupnya. Tangan Ricky terus menari, melahirkan karya demi karya, hingga ratusan lukisan berhasil ia hasilkan dan bagikan kepada banyak orang.
Di balik perjalanan kreatifnya, Ricky hidup dengan keterbatasan penglihatan warna atau partial color blind. Kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti melangkah. Melalui berbagai sumber daring, ia mempelajari bagaimana seseorang dengan keterbatasan serupa tetap dapat berkarya di dunia seni rupa.
Semangatnya yang menyala tak pernah padam, justru semakin menguat karena ia meyakini bahwa talenta dan anugerah yang Tuhan berikan memiliki tujuan. Melalui lukisan-lukisannya, Ricky merasakan bahwa karyanya membawa makna dan dampak bagi sesama.
Tag: #keterbatasan #buta #warna #jadi #persoalan #seniman #ricky #salim #pamerkan #lukisan #bali