Meksiko Setujui Pekan Kerja 40 Jam hingga 2030, Reformasi Ketenagakerjaan Terbesar dalam Satu Abad
— Pemerintah Meksiko resmi menyetujui pemangkasan jam kerja mingguan dari 48 jam menjadi 40 jam secara bertahap hingga 2030. Kebijakan ini menandai perubahan paling signifikan dalam regulasi ketenagakerjaan negara tersebut dalam lebih dari satu abad, sekaligus menjadi ujian strategis bagi produktivitas dan daya saing ekonomi terbesar kedua di Amerika Latin itu.
Reformasi tersebut tidak lahir secara instan. Persetujuan diperoleh setelah negosiasi panjang selama bertahun-tahun antara pemerintah dan pelaku usaha. Skema yang diusulkan menetapkan pengurangan dua jam kerja per tahun mulai 2027, dengan target akhir 40 jam per pekan pada 2030.
Dilansir dari Reuters, Jumat (27/2/2026), Meksiko mencatat lebih dari 2.226 jam kerja per orang per tahun—tertinggi di antara negara anggota Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) dalam hal beban kerja dan terburuk dalam keseimbangan kerja-hidup. Sekitar 55 persen tenaga kerja berada di sektor informal, sementara produktivitas dan tingkat upahnya tercatat sebagai yang terendah di antara 38 anggota OECD.
Secara politik, dukungan terhadap reformasi ini terbilang kuat. Kamar Deputi menyetujui garis besar rancangan undang-undang dengan 469 suara dari 500 kursi yang ada tanpa satu pun penolakan. Pembahasan rincian pasal kemudian disahkan dengan 411 suara setuju. Sebelumnya, Senat juga telah memberikan persetujuan umum, didorong mayoritas partai berkuasa Morena.
Perwakilan partai berkuasa, Pedro Haces, yang juga menjabat sekretaris jenderal Konfederasi Otonom Pekerja dan Karyawan Meksiko, menegaskan arah kebijakan tersebut. “Produktivitas tidak diukur dari kelelahan. Produktivitas dibangun dengan martabat,” ujarnya dalam sidang parlemen, menekankan bahwa efisiensi ekonomi tidak boleh bertumpu pada eksploitasi jam kerja panjang.
Namun, kritik muncul dari kalangan oposisi. Mereka menilai reformasi ini belum sepenuhnya mengurangi beban kerja riil karena batas lembur mingguan dinaikkan dari sembilan menjadi 12 jam dan tidak mewajibkan dua hari istirahat untuk setiap lima hari kerja. Anggota parlemen dari Partai Revolusioner Institusional (PRI), Alex Dominguez, menyatakan, “Gagasan reformasi ini tidak buruk, tetapi tidak lengkap dan dilakukan secara terburu-buru.”
Sementara itu, Kementerian Tenaga Kerja Meksiko menekankan dimensi historis kebijakan ini. “Setelah lebih dari 100 tahun tanpa perubahan, Meksiko akan secara bertahap menghapus minggu kerja 48 jam,” tulis kementerian tersebut melalui pernyataan resminya. Pemerintah memproyeksikan sekitar 13,4 juta pekerja akan terdampak langsung oleh reformasi ini.
Adapun Presiden Claudia Sheinbaum, yang memperkenalkan proposal tersebut pada Desember lalu, merancang implementasi bertahap mulai Januari 2027 dengan pengurangan awal dua jam kerja per pekan. Meski demikian, reformasi ini masih memerlukan pengesahan oleh mayoritas legislatif negara bagian, kendati proses tersebut diperkirakan berjalan tanpa hambatan berarti.
Langkah Meksiko ini mencerminkan pergeseran paradigma ketenagakerjaan di tengah tekanan produktivitas, transformasi digital, dan perubahan struktur industri dunia. Reformasi tersebut bukan sekadar pengurangan jam kerja, melainkan reposisi strategi pembangunan yang berupaya menyeimbangkan efisiensi ekonomi dengan martabat pekerja.
Keberhasilannya akan menentukan apakah Meksiko mampu meningkatkan produktivitas tanpa mengorbankan kesejahteraan, sekaligus memperkuat posisinya dalam peta persaingan ekonomi internasional yang semakin ketat.
Tag: #meksiko #setujui #pekan #kerja #hingga #2030 #reformasi #ketenagakerjaan #terbesar #dalam #satu #abad