Ditutup Iran untuk Latihan Militer, Selat Hormuz Milik Siapa?
Peta Selat Hormuz. (Wikimedia Commons)
15:00
19 Februari 2026

Ditutup Iran untuk Latihan Militer, Selat Hormuz Milik Siapa?

Iran menyatakan, telah menutup sementara sebagian Selat Hormuz, jalur sempit di mulut Teluk Persia yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Media Iran menyebut penutupan dilakukan selama beberapa jam demi latihan “keamanan dan keselamatan maritim.” Latihan terbaru itu diberi nama “Smart Control of the Strait of Hormuz.”

Para pelaut di kawasan telah diperingatkan melalui radio bahwa akan ada “tembakan permukaan langsung.”

Baca juga: Mengapa AS Butuh Kepulauan Chagos untuk Serang Iran?

Kantor berita Tasnim, yang dekat dengan Garda Revolusi Iran, melaporkan uji coba rudal pada Selasa (17/2/2026) pagi. Disebutkan bahwa rudal yang diluncurkan dari daratan dan sepanjang pantai Iran berhasil mengenai target di Selat Hormuz.

Di sisi lain, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) memperingatkan bahwa setiap “perilaku tidak aman dan tidak profesional di dekat pasukan AS, mitra regional, atau kapal komersial meningkatkan risiko tabrakan, eskalasi, dan destabilisasi.”

CENTCOM juga menegaskan tidak akan menoleransi tindakan seperti mendekat terlalu dekat ke kapal perang AS atau mengarahkan senjata ke arahnya.

Iran dan Oman punya kendali geografis

Garda Revolusi Iran menyerang kapal angkatan laut dalam latihan militer di Selat Hormuz, 25 Februari 2015. Ketegangan Amerika Serikat-Iran meningkat, seiring 10 kapal perang AS mengepung Iran pada akhir Januari 2026.FARS/HAMED JAFARNEJAD via AFP Garda Revolusi Iran menyerang kapal angkatan laut dalam latihan militer di Selat Hormuz, 25 Februari 2015. Ketegangan Amerika Serikat-Iran meningkat, seiring 10 kapal perang AS mengepung Iran pada akhir Januari 2026.

Selat Hormuz merupakan perairan berkelok dengan lebar sekitar 33 kilometer di titik tersempitnya.

Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, yang kemudian menjadi jalur kapal menuju pasar global. Kedua negara tersebut memiliki kedaulatan atas wilayah perairan pesisir masing-masing.

Dalam hukum maritim internasional, setiap negara pantai berhak menguasai hingga 12 mil laut dari garis pantainya.

Karena selat ini relatif sempit, wilayah laut Iran dan Oman saling tumpang tindih, sehingga sebagian besar jalur perairan itu berada dalam yurisdiksi hukum keduanya.

Secara geografis dan hukum teritorial, Iran dan Oman memang memiliki kontrol langsung atas kawasan tersebut.

UNCLOS soal Selat Hormuz

Sejak lama Selat Hormuz menjadi jalur perdagangan penting, dari komoditas seperti keramik, gading, sutra, hingga tekstil dari China pada masa lampau.

Di era modern, jalur ini dilalui kapal tanker raksasa pengangkut minyak dan gas dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, UEA, dan Iran.

Sekitar 20 persen konsumsi minyak global—setara 20 juta barel minyak mentah dan bahan bakar per hari—melewati perairan ini.

Selain itu, seperempat atau lebih perdagangan gas alam cair (LNG) global juga melintasi koridor sempit tersebut.

Meski Iran dan Oman memiliki perairan teritorial di sana, selat ini dipandang sebagai jalur internasional yang dapat dilalui semua kapal

Baca juga: AS Tarik Pasukan dari Suriah Seiring Menguatnya Rencana Serangan ke Iran

Berdasarkan Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS), kapal komersial maupun militer memiliki hak “transit passage” atau hak lintas transit.

Hak ini memungkinkan kapal melintas tanpa gangguan, sehingga Iran maupun Oman tidak bisa secara sepihak membatasi navigasi internasional. Inilah yang membuat Selat Hormuz tetap menjadi jalur laut global, bukan milik eksklusif satu negara.

Badan Informasi Energi AS (US Energy Information Administration) sebelumnya menyatakan bahwa “sebagian besar volume yang melintasi selat tidak memiliki jalur alternatif untuk keluar dari kawasan.”

Ancaman terhadap jalur ini pada masa lalu pernah memicu lonjakan harga energi global, termasuk saat perang Israel-Iran pada Juni.

Posisi Strategis Iran lebih dominan

Walau tidak “memiliki” selat secara penuh, Iran memegang posisi strategis yang signifikan. Negara itu menguasai seluruh garis pantai utara serta sejumlah pulau penting di dekat jalur pelayaran.

Keunggulan geografis ini memberi Teheran kemampuan pengawasan dan posisi militer yang kuat.

Dalam situasi tegang, Iran secara teori dapat memantau bahkan berpotensi mengganggu lalu lintas kapal yang melewati selat tersebut.

Namun, penutupan total akan melanggar hukum internasional dan berdampak besar pada ekonomi kawasan.

Baca juga: Negosiasi di Ujung Tanduk, AS Tekan Iran untuk Segera Lakukan Kesepakatan

Tag:  #ditutup #iran #untuk #latihan #militer #selat #hormuz #milik #siapa

KOMENTAR