Perang Dingin Antariksa Menguat: Elon Musk Target Kota Swakelola di Bulan dalam 10 Tahun, Berhadapan dengan ILRS Tiongkok 2035
Elon Musk, pendiri dan CEO SpaceX (Interesting engineering)
18:57
13 Februari 2026

Perang Dingin Antariksa Menguat: Elon Musk Target Kota Swakelola di Bulan dalam 10 Tahun, Berhadapan dengan ILRS Tiongkok 2035

- Ketegangan baru dalam persaingan antariksa muncul ketika Elon Musk mengalihkan fokus SpaceX dari Mars ke Bulan. Dia menargetkan pembangunan kota swakelola dalam waktu kurang dari satu dekade, langkah yang secara strategis beririsan dengan proyek International Lunar Research Station (ILRS) yang dipimpin Tiongkok dan dirancang beroperasi pada 2035. Perubahan arah ini mempertegas dimensi geopolitik dalam eksplorasi luar angkasa modern.

Perubahan strategi ini menandai koreksi besar dalam visi Musk. Selama bertahun-tahun dia memposisikan Mars sebagai destinasi utama kolonisasi manusia, bahkan menyebut Bulan sebagai "gangguan." Kini prioritas itu bergeser. Penekanan pada Bulan mencerminkan penilaian ulang terhadap realitas teknologi, logistik, dan dinamika persaingan global di luar Bumi.

Melansir dari Interesting Engineering, Jumat (13/2/2026), Musk menyatakan melalui platform X bahwa, "SpaceX telah mengalihkan fokus ke pembangunan sebuah kota yang dapat berkembang sendiri di Bulan, karena kita berpotensi mencapainya dalam kurang dari 10 tahun, sementara Mars akan memakan waktu lebih dari 20 tahun." Pernyataan ini sekaligus menegaskan horizon waktu yang lebih realistis dibanding ambisi Mars.

Meski demikian, Musk menegaskan bahwa arah besar SpaceX tidak berubah. "Misi SpaceX tetap sama, yakni memperluas kehidupan dan kesadaran manusia hingga ke luar Bumi," ujarnya. Dengan kata lain, Bulan diposisikan sebagai langkah awal yang lebih realistis untuk membangun sistem kehidupan mandiri sebelum ekspansi lebih jauh ke Mars.

Secara teknis, keunggulan Bulan terletak pada kedekatan jarak. Peluncuran menuju Bulan dapat dilakukan sekitar setiap 10 hari dengan waktu tempuh kurang lebih dua hari. Sebaliknya, perjalanan ke Mars hanya memungkinkan setiap 26 bulan dengan durasi sekitar enam bulan. Pola ini memungkinkan pengujian dan penyempurnaan teknologi serta sistem logistik dilakukan lebih cepat di Bulan dibandingkan di Mars.

Namun, langkah Musk bukan tanpa konteks geopolitik. ILRS yang dipimpin Badan Antariksa Nasional Tiongkok dan Roscosmos Rusia direncanakan dibangun bertahap hingga 2035, sebelum memasuki fase operasional sekitar 2036. Proyek ini melibatkan sejumlah negara mitra dan dirancang sebagai basis penelitian permanen di permukaan atau orbit Bulan.

Sejumlah laporan sebelumnya juga menyebut rencana pembangunan infrastruktur energi, termasuk opsi reaktor nuklir untuk menopang kebutuhan daya jangka panjang ILRS pada 2033 hingga 2035. Dengan jendela waktu 10 tahun yang dicanangkan Musk, SpaceX secara efektif bergerak di ruang yang sama dengan agenda strategis Tiongkok tersebut.

Namun, kalangan akademisi mengingatkan bahwa ambisi tersebut menghadapi hambatan teknis yang tidak sederhana. Profesor astrofisika Universitas Hong Kong, Quentin Parker, kepada South China Morning Post menekankan bahwa konsep kota berbeda jauh dari sekadar pangkalan riset.

"Sebuah kota memerlukan puluhan ribu orang," ujarnya. Menurutnya, keberadaan pos kecil yang bersifat semi permanen pada 2035 masih realistis, tetapi "membuatnya menjadi kota yang tumbuh sendiri adalah hal yang sama sekali berbeda.

Parker juga menggarisbawahi bahwa infrastruktur pendukung kehidupan mandiri di Bulan belum pernah benar-benar teruji. "Sangat rumit. Faktanya, belum ada satu pun yang benar-benar berhasil didemonstrasikan, baik oleh Amerika Serikat, Tiongkok, maupun maupun perusahaan swasta seperti SpaceX."

Di tengah skeptisisme itu, Musk tetap membuka kemungkinan Mars dalam jangka panjang. Dia memperkirakan pembangunan kota di Mars dapat mulai dirintis dalam lima hingga tujuh tahun ke depan, meski prioritas saat ini adalah Bulan. Bahkan dalam dinamika persaingan swasta, Musk pernah menyatakan akan "mengucapkan selamat" kepada Jeff Bezos jika Blue Origin lebih dulu mencapai Bulan.

Dengan misi berawak NASA Artemis II yang dijadwalkan mengorbit Bulan dalam waktu dekat, permukaan satelit alami Bumi itu kian padat kepentingan. Kombinasi ambisi swasta dan strategi negara besar menandai menguatnya Perang Dingin antariksa, di mana Bulan bukan lagi sekadar simbol eksplorasi, melainkan arena baru perebutan pengaruh, teknologi, dan masa depan peradaban manusia.

Editor: Candra Mega Sari

Tag:  #perang #dingin #antariksa #menguat #elon #musk #target #kota #swakelola #bulan #dalam #tahun #berhadapan #dengan #ilrs #tiongkok #2035

KOMENTAR