2 Faktor Kenapa Iran Tak Akan Semudah Venezuela Dibobol AS
Presiden Iran Hassan Rouhani (tengah) dan pejabat tinggi militer lainnya saat menyaksikan Garda Revolusi Iran (IRGC) baris-berbaris dalam parade tahunan yang menandai pecahnya negara dengan Irak, di Teheran, 22 September 2019.(KANTOR KEPRESIDENAN IRAN via AFP)
17:12
30 Januari 2026

2 Faktor Kenapa Iran Tak Akan Semudah Venezuela Dibobol AS

- Beberapa pekan setelah operasi militer Amerika Serikat (AS) menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Presiden Donald Trump mulai mengarahkan pendekatan yang sama terhadap Iran.

Trump mengerahkan armada kapal perang ke wilayah dekat Iran dan secara terbuka memperingatkan Pemerintah Teheran yang ia sebut otoriter.

Meski terdorong oleh keberhasilan taktis di Venezuela, para pejabat dan analis menilai kondisi Iran jauh lebih kompleks dan penuh risiko.

Baca juga: China Ungkap Taktik AS Serang Venezuela, Ada Satu Titik Lemah

1. Perbedaan struktur kekuasaan di Iran

Warga Iran berjalan melewati rudal Sejjil (kiri) dan rudal balistik jarak menengah Qadr-H yang ditampilkan di sebelah potret Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, saat pameran pekan pertahanan memperingati perang Iran-Irak 1980, di Lapangan Baharestan, Teheran, 25 September 2017.AFP/ATTA KENARE Warga Iran berjalan melewati rudal Sejjil (kiri) dan rudal balistik jarak menengah Qadr-H yang ditampilkan di sebelah potret Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, saat pameran pekan pertahanan memperingati perang Iran-Irak 1980, di Lapangan Baharestan, Teheran, 25 September 2017.Operasi militer terhadap Maduro yang berujung pada penangkapan dirinya dan sang istri pada 3 Januari 2026 membuat Trump segera menekan penerus Maduro, Wakil Presiden Delcy Rodriguez, dengan ancaman serangan lanjutan. Tuntutan utamanya adalah akses terhadap minyak Venezuela.

Namun, Iran dinilai berbeda. Sama-sama menjadikan anti-Amerika sebagai prinsip kepemimpinan, Iran hanya menunjukkan sedikit tanda perpecahan internal.

Negara itu bertumpu pada kekuatan Garda Revolusi, yang dalam beberapa pekan terakhir dilaporkan menumpas aksi protes besar-besaran dengan kekerasan, menewaskan ribuan warga.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (86) juga tak pernah meninggalkan negara itu sejak menjabat pada 1989.

Sebagai ulama Syiah, Khamenei dikenal hidup sederhana dan dibesarkan dalam tradisi keagamaan yang menjunjung tinggi nilai kemartiran.

Di hadapan Komite Senat, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa Iran kini lebih lemah dibandingkan sebelumnya sejak Revolusi 1979.

Meski begitu, ia mengingatkan tidak ada “jawaban sederhana” soal siapa yang akan menggantikan Khamenei jika ia lengser.

“Saya membayangkan situasinya akan jauh lebih kompleks dibanding Venezuela,” kata Rubio.

Baca juga: Khamenei Tunjuk 3 Calon Pengganti, Jaga-jaga Diserang dalam Perang Israel-Iran

2. Militer Iran lebih tangguh

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Jenderal Mohammad Baqeri dan Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Iran, Amir Ali Hajizadeh menunjukkan pangkalan militer yang dikenal sebagai kota rudal Iran.IRNA Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Jenderal Mohammad Baqeri dan Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Iran, Amir Ali Hajizadeh menunjukkan pangkalan militer yang dikenal sebagai kota rudal Iran.Melalui media sosial, Trump menyatakan bahwa armada yang dikerahkan di dekat Iran lebih besar daripada yang dikirim ke Venezuela.

“Seperti halnya Venezuela, armada itu siap, bersedia, dan mampu untuk dengan cepat menjalankan misinya, dengan kecepatan dan kekerasan, jika diperlukan,” tulis Trump.

Namun, Direktur Program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies, Mona Yacoubian, mengingatkan bahwa Iran merupakan negara dengan pusat kekuasaan yang tersebar dan kompleks.

“Saya pikir inilah kekhawatirannya—bahwa melakukan sesuatu seperti ‘serangan kilat’ justru memicu berbagai dampak tingkat kedua, ketiga, dan keempat yang sangat sulit diprediksi dan akhirnya benar-benar melepaskan kekacauan di dalam Iran,” ujarnya.

Baca juga: Di Balik Ancaman Trump, Masih Ada Celah Damai AS-Iran

Berbeda dengan Caracas yang berada dekat Karibia dan relatif mudah dijangkau, Teheran terletak jauh dari "Negeri Paman Sam".

Iran juga memiliki pengalaman bertahan dari serangan besar, seperti perang dengan Irak pada 1980-an, serangan Israel pada Juni 2025, dan misi penyelamatan sandera oleh AS pada 1980 yang berakhir gagal.

Meski begitu, protes dalam negeri yang terjadi belakangan ini dinilai telah melemahkan posisi para pemimpin Iran.

Sejumlah demonstran dan oposisi di pengasingan bahkan mendesak Trump untuk segera bertindak.

Namun, beberapa pihak skeptis terhadap langkah tersebut dan memperingatkan bahwa serangan justru berisiko menyatukan pendukung pemerintah.

Baca juga: Berpotensi Jadi Target Iran, Ini Daftar Pangkalan Militer AS di Timur Tengah

Tujuan Trump

Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berbicara di hadapan media ketika hendak menaiki helikopter kepresidenan Marine One dari South Lawn, Gedung Putih, Washington DC, untuk bersiap menghadiri KTT NATO di Den Haag, Belanda, 24 Juni 2025. Beberapa jam sebelum agenda pertemuan di Gedung Putih pada Senin (18/8/2025),AFP/MANDEL NGAN Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berbicara di hadapan media ketika hendak menaiki helikopter kepresidenan Marine One dari South Lawn, Gedung Putih, Washington DC, untuk bersiap menghadiri KTT NATO di Den Haag, Belanda, 24 Juni 2025. Beberapa jam sebelum agenda pertemuan di Gedung Putih pada Senin (18/8/2025),Selama ini, Trump dikenal sebagai kritikus kebijakan intervensi militer AS sebelumnya, terutama invasi Irak pada 2003 yang menggulingkan Saddam Hussein. Ia menilai tindakan itu keliru karena Irak jauh lebih kecil dibanding Iran.

Kendati demikian, Trump tidak secara terbuka menyerukan penggulingan Pemerintah Iran. Ia lebih memilih menekan Teheran agar mau menerima pembatasan ketat terhadap program nuklir dan rudalnya.

Meskipun Iran menolak melakukan konsesi, para pengamat menilai bahwa para pemimpin di Teheran mungkin lebih memilih membicarakan soal senjata ketimbang menghadapi ancaman langsung terhadap eksistensi negara.

Kirsten Fontenrose, peneliti non-residen di Atlantic Council, menyebut operasi terhadap Maduro sebagai sinyal strategis bagi Iran.

Menurutnya, para pembuat kebijakan Iran selama ini meyakini AS tidak akan langsung menargetkan pemimpinnya karena khawatir terhadap eskalasi. Namun, kata dia, “Episode Maduro memperumit asumsi itu.”

Meski mengabaikan kritik dari negara-negara Amerika Latin terkait operasi di Venezuela, Trump tetap menjalin hubungan erat dengan negara-negara Teluk sekutu AS.

Kendati negara-negara kaya minyak tersebut tidak menyukai Iran, mereka juga mengkhawatirkan dampak konflik terbuka yang bisa merusak citra stabilitas kawasan dan mengganggu investasi.

Baca juga: 7 Skenario yang Terjadi Jika AS Benar-benar Serang Iran

Sumber: Kompas.com (Penulis: Inas Rifqia Lainufar | Editor: Inas Rifqia Lainufar)

Tag:  #faktor #kenapa #iran #akan #semudah #venezuela #dibobol

KOMENTAR