Di Balik Aksi Mundur Serentak Bos BEI-OJK, Perbaikan IHSG Diharap Tak Bermuatan Politis
- Lima pejabat mengundurkan diri imbas dari anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Rabu dan Kamis pekan ini.
Pertama, Iman Rachman menyatakan turun dari jabatan direktur utama PT Bursa Efek Indonesia Tbk pada Jumat (30/1/2026).
Setelah itu, empat pejabat OJK turut mengundurkan diri. Pertama, ada nama Mahendra Siregar dari jabatan Ketua Dewan Komisioner OJK. Kemudian, Wakil Ketua Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara juga ikut mengundurkan diri.
Lalu, Inarno Djajadi turun dari jabatan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (PMDK), dan I. B. Aditya Jayaantara mundur dari jabatan Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon.
Baca juga: Dirut BEI Iman Rachman Mengundurkan Diri Usai Gejolak Pasar 2 Hari Beruntun
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufikurahman dalam diskusi virtual, Rabu (16/10/2024).Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengatakan, pengunduran diri pejabat kunci di OJK dan BEI tidak bisa dinilai secara simplistis sebagai langkah korektif untuk memperbaiki kinerja IHSG.
Ekonom sekaligus Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman mengatakan, pasar saham bekerja berdasarkan ekspektasi terhadap stabilitas kebijakan, kualitas pengawasan, dan kredibilitas institusi.
"Bukan pada pergantian figur semata," kata dia kepada Kompas.com, Jumat (30/1/2025).
Dalam konteks ini, ia menyebut, pengunduran diri yang terjadi secara berdekatan justru lebih berpotensi meningkatkan ketidakpastian jangka pendek.
Pasalnya, pelaku pasar perlu waktu untuk menilai apakah perubahan ini akan memperkuat atau melemahkan fungsi pengawasan dan tata kelola pasar keuangan.
Baca juga: Susul Bos BEI, Mahendra Siregar dan Inarno Djajadi Mundur dari Jabatannya di OJK
Menurut Rizal, risiko utama dari peristiwa ini bukan terdapat pada aksi mundur itu sendiri, melainkan pada narasi dan proses transisi yang mengikutinya.
Ia berpandangan, ketika penggantian pejabat dilakukan cepat, transparan, dan berbasis kompetensi, pasar dapat menafsirkan ini sebagai upaya perbaikan tata kelola sehingga dampaknya ke IHSG cenderung temporer.
Namun demikian, ketika proses tersebut menimbulkan persepsi politisasi, melemahnya independensi regulator, atau ketidakjelasan arah kebijakan pasar modal, maka volatilitas berpotensi berlanjut dan risk premium investor akan meningkat.
"Dalam kondisi seperti ini, IHSG tidak hanya bereaksi terhadap faktor domestik, tetapi juga bisa lebih rentan terhadap tekanan eksternal karena fondasi kepercayaan institusionalnya sedang diuji," ungkap Rizal.
Baca juga: Imbas Gejolak IHSG, Petinggi BEI dan OJK Ramai-Ramai Mundur
Pengunduran diri pejabat OJK buat kaget
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira Adhinegara dalam diskusi Polemik Harga Beras dan Kebijakan Pangan di Tengah Krisis Iklim, Selasa (16/9/2025).Di samping itu, Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, mengatakan, mundurnya Ketua OJK dan anggota Dewan Komisioner OJK membuat kaget semua pihak.
"Sepertinya ada tekanan dari eksekutif, dari presiden terutama perubahan porsi besar-besaran asuransi dan jasa keuangan dalam investasi di saham," kata dia ketika dihubungi Kompas.com.
Ia mengungkapkan, dalam peristiwa ini seolah industri jasa keuangan ingin dikorbankan untuk menahan keluarnya modal asing.
Baca juga: Profil Mirza Adityaswara, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Periode 2022-2027
Padahal, Bhima menyebut, ada risiko Asabri jilid 2 ketika BUMN masuk ke saham spekulatif di bursa saham.
"Apa yang dilakukan Mahendra dan Inarno adalah kritik langsung dan vulgar terhadap tekanan dari presiden," ucap dia.
Menurut Bhima, usai kejadian ini, ekonomi Indonesia diproyeksikan akan berguncang. Hal ini menunjukkan kerapuhan dan hilangnya independensi dari lembaga otoritas keuangan.
"Ini masalah yang cukup serius. Elite cracking benar benar sedang terjadi," ucap Bhima.
Selain itu, investor akan kehilangan kepercayaan dengan penglelolaan pasar keuangan.
"Banyak lembaga internasional akan downgrade atau menurunkan minat berinvestasi di Indonesia," ungkap dia.
Baca juga: Profil Inarno Djajadi, Pejabat OJK yang Mundur Usai IHSG Ambruk
Diduga ada yang meminta pejabat mundur
Grafik pergerakan IHSG usai penerapan trading halt pada perdagangan Kamis (29/1/2026)Pengamat pasar modal Teguh Hidayat berpendapat, pengunduran diri Direktur Utama BEI masih dapat dimengerti pasar. Siapapun yang menggantikannya dinilai tidak akan memberikan guncangan besar untuk pasar modal.
Namun demikian, pengunduran diri tiga pejabat OJK justru menimbulkan banyak pertanyaan.
"Saya sih termasuk yang menganggap tigak orang ini ini tidak akan mundur, kecuali ada yang menyuruh mereka," kata dia kepada Kompas.com.
Ia menambahkan, OJK, BEI, dan self regulatory organization (SRO) lainnya merupakan lembaga yang independen.
Dengan demikian, Teguh berharap peristiwa ini tidak memiliki muatan politik di dalamnya.
Baca juga: Dirut BEI Mundur Sebagai Sinyal Positif IHSG, Purbaya: Saatnya Serok-serok Saham
Ia juga berharap jabatan-jabatan yang kosong tersebut tidak diisi oleh orang-orang yang berasal dari partai politik atau memiliki kepentingan politik lainnya.
Namun demikian, Teguh percaya hal ini tidak akan direspons pasar dengan berlebihan. Ia juga memperoyeksikan tidak akan terjadi lagi pembekuan sementara perdagangan bursa pada awal pekan depan.
"Kalau trading halt lagi saya rasa tidak," ungkap dia.
Namun demikian, waktu yang diberikan MSCI hingga Meio 2026 perlu diperhatikan, karena dapat berpotensi menjadi rentang waktu pihak asing melego saham di pasar Indonesia.
"Mereka (asing) maunya keluar, tapi IHSG-nya pelan-pelan lah turunnya. Atau kalau bisa tidak turun, tetap gitu," ungkap dia.
Baca juga: Profil Mahendra Siregar, Ketua Dewan Komisioner OJK yang Mundur Usai IHSG Anjlok
Direktur BEI Iman Rachman mengundurkan diri
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman mengundurkan diri dari jabatannya. Berikut profil Iman RachmanRentetan aksi pengunduran diri ni dimulai dengan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman yang menyatakan turun dari jabatannya pada Jumat (30/1/2026).
Keputusan tersebut diambil menyusul anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam dua hari belakangan imbas dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Tak hanya itu, Goldman Sachs dan UBS juga mengubah bobot pasar modal Indonesia.
Langkah tersebut diambil sebagai bentuk tanggung jawab atas dinamika dan tekanan yang terjadi di pasar modal Indonesia dalam dua hari terakhir.
Dalam pernyataannya kepada media, Iman menegaskan langkah tersebut merupakan bentuk pertanggungjawaban moral dan profesional sebagai pimpinan tertinggi bursa.
“Saya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia dan sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin menyatakan mengundurkan diri sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia,” ujar Iman, Jumat (30/1/2026).
Baca juga: IHSG Naik 1,18 Persen pada Sesi I, Iman Rachman Mundur dari Dirut BEI
Empat pejabat OJK mundur dari jabatannya
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar di gedung Djuanda I Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Jumat (23/1/2026).Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan pengunduran diri tiga petingginya.
Kabar tersebut tak tak berselang lama setelah pengunduran diri Iman Rachman dari jabatan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
Keempat pejabat OJK yang mengundurkan diri tersebut adalah Mahendra Siregar dari jabatan Ketua Dewan Komisioner OJK, Inarno Djajadi dari jabatan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (PMDK), dan I. B. Aditya Jayaantara dari jabatan Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon.
Kemudian, Wakil Ketua Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara juga ikut mengundurkan diri.
Baca juga: Dirut BEI Mundur, OJK Tegaskan Pertemuan dengan MSCI Tidak Terganggu
Mahendra Siregar mengatakan, pengunduran dirinya dan dua pejabat OJK lain dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab moral. Hal ini terjadi setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok cukup dalam selama Rabu dan Kamis 28-29 Januari kemarin.
"Ini merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk mendukung terciptanya langkah pemulihan yang diperlukan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (30/1/2026).
Dalam keterangan resminya, OJK menyatakan pengunduran diri tersebut telah disampaikan ketiga pejabat tersebut secara resmi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Selanjutnya, pengunduran diri akan diproses lebih lanjut sesuai mekanisme yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 sebagaimana telah diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Penguatan dan Pengembangan Sektor Keuangan (UU P2SK). Kendati demikian, OJK menegaskan proses pengunduran diri ini tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas, fungsi, dan kewenangan OJK dalam mengatur, mengawasi, serta menjaga stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia.
Baca juga: Isu MSCI hingga Mundurnya Dirut BEI, Simak Rekomendasi Saham BBCA
Pengumuman MSCI, Goldman Sach, dan UBS Tekan IHSG
IHSG hari ini. Goldman Sachs menurunkan rekomendasi saham Indonesia setelah penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyoroti risiko investabilitas di pasar modal Tanah Air. Langkah tersebut dinilai berpotensi memperpanjang tekanan jual, terutama dari investor pasif.Pada awalnya, anjloknya IHSG disebabkan oleh efek dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Analis sekaligus VP Marketing, Strategy, and Planning Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi berpandangan, tekanan IHSG hingga menyebabkan trading halt dan sempat lowest ke level 7.481 disebabkan oleh beberapa faktor.
Pertama, IHSG melemah karena pembekuan sementara (interim freeze) pada rebalancing MSCI Februari 2026. Hal itu masih ditambah dengan skenario terburuk ketika Indonesia turun kelas (downgrade class) menjadi frontier market dari emerging market.
"Hal ini akan berdampak luas terhadap perspektif dan flow investasi asing," kata dia kepada Kompas.com, Kamis (29/1/2026).
Baca juga: Pemicu IHSG Turun Hari Ini: Goldman Sachs-UBS Downgrade Saham RI
Meski demikian, ia beranggapan, peluang ini masih dapat dicegah dengan regulator yang dapat melakukan negosiasi dengan MSCI.
Di sisi lain, IHSG juga melemah karena adanya kekhawatiran gelombang downgrade saham Indonesia oleh institusi keuangan global.
Sedikit catatan, Goldman Sachs dan UBS baru saja mengubah bobot pasar modal Indonesia menjadi neutral.
"Ini merupakan dampak dari MSCI yang dikhawatirkan memasukkan ke dalam frontier market," ungkap dia.
Baca juga: Mau Jadi Pemegang Saham BEI, CEO Danantara: Kami Ingin Menjadi Lebih Baik
Bank investasi global Goldman Sachs menurunkan rekomendasi saham Indonesia setelah penyedia indeks MSCI menyoroti risiko kelayakan investasi (investability) di pasar modal Tanah Air.
Selain Goldman Sach, UBS ikut menurunkan peringkat saham Indonesia. UBS menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi netral dari overweight.
Pemangkasan ini setelah MSCI meningkatkan kekhawatiran tentang kelayakan investasi dan memperingatkan potensi reklasifikasi ke status pasar negara berkembang.
Baca juga: OJK Buka Pintu Investor Masuk Bursa Setelah Demutualisasi, Danantara Berpeluang Jadi Pemegang Saham
IHSG mulai menguat Jumat ini
Setelah trading halt dua hari berturut-turut, IHSG mulai menguat hari ini, Jumat (30/1/2026).
Pada pembukaan perdagangan Jumat ini, IHSG langsung bergerak di zona hijau dan naik 70,78 poin atau 0,86 persen ke level 8.302,98.
Pada awal sesi indeks sempat menyentuh level tertinggi di 8.333,05, sementara level terendahnya berada di 8.280,77.
Sementara itu, IHSG ditutup menguat pada perdagangan hari ini. IHSG naik 97,41 poin, atau 1,18 persen ke level 8.408,30.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG dibuka di level 8.308,73 dan bergerak dalam rentang 8.167,16 hingga 8.408,30.
Sepanjang perdagangan, total volume transaksi mencapai 55,24 miliar saham dengan nilai Rp 41,61 triliun dan frekuensi 3,32 juta kali. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp 15.046 triliun.
Tag: #balik #aksi #mundur #serentak #perbaikan #ihsg #diharap #bermuatan #politis