Mengapa Anak Tidak Sadar Dirinya Sedang Jadi Korban Child Grooming?
Ilustrasi anak sedih. Child grooming sering bermula dari perhatian yang tampak peduli, tetapi dapat meninggalkan luka psikologis jangka panjang pada korban.(SHUTTERSTOCK)
22:05
30 Januari 2026

Mengapa Anak Tidak Sadar Dirinya Sedang Jadi Korban Child Grooming?

– Relasi antara anak dan orang dewasa sering kali dipahami sebagai bentuk perhatian, pengasuhan, atau pertolongan.

Kedekatan ini kerap dianggap wajar, bahkan positif, terutama ketika orang dewasa hadir sebagai sosok yang membantu atau melindungi anak.

Dalam kondisi tertentu, relasi yang terlihat “baik” justru menjadi pintu masuk terjadinya kejahatan yang dikenal sebagai child grooming. Kejahatan ini tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan yang langsung terlihat, melainkan berlangsung perlahan dan sulit dikenali.

Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Sri Nurherwati menjelaskan, child grooming kerap tidak dipahami sebagai kejahatan karena tidak selalu tampak seperti tindak kekerasan.

Baca juga: Jangan Keliru, Ini Makna Child Grooming yang Tepat

“Sesuai tindak pidana tertentu yang menjadi kewenangan LPSK, child grooming dapat dikualifikasikan dalam salah satu bentuk tindak pidana kekerasan seksual terhadap anak, sebagaimana diatur dalam UU Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual,” ujar Sri dalam keterangan resmi yang diterima pada Jumat (30/1/2026).

Ia menambahkan, unsur-unsur perbuatan child grooming juga telah terakomodasi dalam Undang-Undang Perlindungan Anak serta Undang-Undang Tindak Pidana Perdagangan Orang.

Relasi yang Terlihat Aman

Dalam praktiknya, child grooming kerap bermula dari relasi yang tampak aman dan penuh perhatian. 

Berdasarkan temuan LPSK, relasi antara pelaku dewasa dan anak dibangun melalui kepercayaan, ketergantungan emosional, serta rasa aman, sebelum akhirnya mengarah pada eksploitasi maupun manipulasi.

Baca juga: Curhat Anak di Second Account Jadi Celah Masuknya Pelaku Child Grooming

Pada tahap ini, anak sering kali tidak merasa sedang berada dalam situasi berbahaya. Pelaku justru diposisikan sebagai sosok yang dianggap berjasa dan patut dihormati.

“Bahkan, dampak kepada korbannya sendiri, merasa bahwa dia tidak mengalami kejahatan apa pun, atau tidak mengalami kekerasan seksual karena dianggap pelakunya sudah menolong, sudah memberikan bantuan, orang yang harus dihormati, dan korban harus berterima kasih. Itulah yang disebut dengan manipulasi yang dialami oleh korban,” tegas Sri.

Kondisi inilah yang membuat anak sulit menyadari bahwa relasi yang dijalaninya telah bergeser dari perhatian menjadi bentuk kekerasan.

Baca juga: Lakukan Ini Saat Korban Child Grooming Diancam Pelaku

Berlangsung Bertahap dan Sulit Disadari

Menurut LPSK, kekerasan seksual terhadap anak jarang terjadi secara tiba-tiba. Dalam banyak perkara, kejahatan berlangsung melalui proses yang panjang dan berlapis.

Makin majunya perkembangan zaman juga membuat pelaku child grooming melakukan aksinya lewat ruang digital. 

Intensitas komunikasi dan perhatian yang terus-menerus membuat anak makin bergantung, sementara orangtua atau lingkungan sekitar tidak menyadari perubahan relasi yang terjadi.

“Perbuatan pelaku sering kali berulang dan berlapis, dimulai dari bujuk rayu, manipulasi psikologis, pemanfaatan kepercayaan dan kerentanan korban, pengondisian melalui hubungan pacaran, hingga berujung pada kekerasan seksual,” ujar Sri.

Baca juga: Child Grooming Tak Selalu Kasar, Pola Manis di Awal Perlu Diwaspadai

Pelaku Justru dari Lingkungan Terdekat

Relasi yang dibangun dalam child grooming sering kali melibatkan orang-orang yang berada di sekitar kehidupan anak. 

Oleh sebab itu, LPSK menekankan pentingnya melihat hubungan antara korban dan pelaku dalam setiap perkara.

“Relasi yang terlihat dekat dan personal seringkali justru menjadi ruang terjadinya penyalahgunaan kuasa. Anak tidak berada dalam posisi setara untuk melindungi dirinya sendiri,” kata Sri.

Ia mencontohkan penanganan kasus anak perempuan di Depok yang menjadi korban kekerasan seksual oleh orang dewasa dengan relasi dekat. 

Pelaku membangun ketergantungan melalui perhatian dan perlindungan yang bersifat sementara, sehingga korban tidak mengenali perbuatannya sebagai kejahatan. Relasi tersebut bahkan memengaruhi keterangan korban dalam proses hukum.

Baca juga: Cara Orangtua Cegah Anak Masuk Lingkaran Child Grooming

Anak Masih Menjadi Kelompok Paling Rentan

Kerentanan anak dalam relasi semacam ini tercermin dari data LPSK. Sepanjang 2025, terdapat 1.776 pemohon dalam perkara tindak pidana kekerasan seksual. 

Dari jumlah tersebut, korban anak mencapai 1.464 pemohon, sedangkan korban dewasa sebanyak 312 pemohon.

Selain itu, LPSK juga mencatat adanya 59 permohonan terkait eksploitasi seksual anak serta 5 permohonan mengenai perdagangan anak sepanjang 2025. Data tersebut menunjukkan bahwa anak masih menjadi kelompok paling rentan dalam kejahatan kekerasan seksual.

Atas kondisi tersebut, LPSK menekankan pentingnya kerja sama lintas pihak dalam mengenali dan menangani child grooming. 

Kesadaran sejak dini, baik di keluarga, lingkungan pendidikan, maupun masyarakat, menjadi kunci agar relasi yang tampak “baik” tidak berubah menjadi bentuk kekerasan yang luput disadari.

Tag:  #mengapa #anak #tidak #sadar #dirinya #sedang #jadi #korban #child #grooming

KOMENTAR