Iran Klaim Tetap Buka Jalur Komunikasi dengan AS di Tengah Tekanan Protes Nasional
Mobil-mobil terbakar di jalanan selama demonstrasi di Teheran, Iran, pada 8 Januari 2026. (Reuters).
21:27
13 Januari 2026

Iran Klaim Tetap Buka Jalur Komunikasi dengan AS di Tengah Tekanan Protes Nasional

 

 

- Teheran menegaskan masih menjaga jalur komunikasi dengan Amerika Serikat (AS), meski negara itu sedang menghadapi gelombang protes nasional yang berujung bentrokan berdarah dan tekanan internasional yang kian meningkat.

Situasi ini disebut sebagai salah satu tantangan terberat bagi pemerintahan ulama Iran sejak Revolusi Islam 1979. Pernyataan tersebut disampaikan pemerintah Iran pada Senin (12/1) waktu setempat, saat Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan berbagai opsi respons atas tindakan keras aparat keamanan Iran terhadap demonstran.

Trump sebelumnya menyatakan AS membuka peluang untuk bertemu pejabat Iran, sekaligus mengklaim telah menjalin kontak dengan kelompok oposisi Iran di luar negeri. Di saat bersamaan, Trump juga melontarkan ancaman, termasuk kemungkinan aksi militer, menyusul laporan kekerasan mematikan terhadap massa aksi.

Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), menyebut telah memverifikasi kematian 640 orang sejak protes pecah pada 28 Desember dan meluas ke berbagai kota.

HRANA juga mencatat sedikitnya 10.694 orang ditangkap. Namun, Reuters menyatakan belum dapat memverifikasi data tersebut secara independen.

Internet Diputus, Informasi Terhambat

Arus informasi dari Iran semakin terbatas sejak pemerintah memberlakukan pemadaman internet pada Kamis lalu. Kebijakan ini menyulitkan verifikasi lapangan dan memperkecil ruang pelaporan independen terkait skala dan dampak unjuk rasa.

Protes yang awalnya dipicu keluhan ekonomi, mulai dari inflasi tinggi hingga kesulitan hidup, berkembang menjadi tuntutan politik yang lebih luas, termasuk seruan agar pemerintahan ulama mundur. Meski demikian, hingga kini belum terlihat perpecahan di lingkaran elite Syiah, militer, maupun aparat keamanan.

Di sisi lain, gerakan protes juga dinilai belum memiliki kepemimpinan pusat yang jelas, dengan oposisi yang masih terfragmentasi.

Rekaman video yang telah diverifikasi menunjukkan warga berkumpul di Pusat Forensik Kahrizak, Teheran, pada Minggu (11/1) lalu. Dalam video tersebut tampak deretan kantong jenazah berwarna gelap, memperkuat kekhawatiran publik terkait jumlah korban jiwa.

Pemerintah Iran sendiri belum merilis angka resmi korban tewas. Otoritas Teheran menuding kekerasan dipicu campur tangan AS serta kelompok yang mereka sebut sebagai 'teroris' yang didukung AS dan Israel.

Media pemerintah lebih banyak menyoroti kematian aparat keamanan dalam pemberitaan mereka. Kementerian Intelijen Iran pada juga mengumumkan telah menangkap tim-tim yang mereka labeli sebagai teroris.

Dalam pernyataan yang dimuat media pemerintah, kelompok tersebut dituding bertanggung jawab atas pembunuhan relawan paramiliter pro-pemerintah, pembakaran masjid, serta serangan terhadap fasilitas militer.

Selain itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengakui adanya 'pesan-pesan yang saling bertentangan' dari Washington. Meski demikian, ia menegaskan komunikasi tetap berjalan.

“Saluran komunikasi antara Menteri Luar Negeri kami, Abbas Araqchi, dan utusan khusus AS Steve Witkoff terbuka, dan pesan dipertukarkan bila diperlukan,” ujar Baghaei. Ia menambahkan, jalur tidak langsung melalui Swiss sebagai perantara tradisional juga masih digunakan.

Araqchi, dalam pertemuan dengan para duta besar asing di Teheran, menegaskan Iran siap menghadapi perang, namun tetap membuka pintu dialog. Sikap ini mencerminkan strategi ganda Teheran di tengah tekanan eksternal dan gejolak internal.

Pada hari yang sama, duta besar Inggris, Italia, Jerman, dan Prancis dipanggil ke Kementerian Luar Negeri Iran. Menurut kantor berita semi-resmi Tasnim, mereka diminta menyampaikan kepada pemerintah masing-masing agar menghentikan dukungan terhadap aksi protes di Iran.

Teheran menilai dukungan politik maupun media asing terhadap demonstrasi sebagai 'intervensi yang tidak dapat diterima' terhadap keamanan dalam negeri. Seorang sumber diplomatik Prancis mengatakan para duta besar Eropa tersebut menyampaikan keprihatinan serius atas situasi yang berkembang.

Di dalam negeri, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf, saat berpidato di Lapangan Enqelab, Teheran, menyebut Iran tengah menghadapi 'perang di empat front': perang ekonomi, perang psikologis, perang militer melawan AS dan Israel, serta perang melawan terorisme.

Araqchi juga mengungkapkan bahwa sejak protes meletus, sebanyak 53 masjid dan 180 ambulans dilaporkan dibakar. Rekaman CCTV dari dalam Masjid Abuzar di Teheran, yang telah diverifikasi Reuters, menunjukkan sekelompok orang merusak interior masjid, melempar buku-buku ke lantai, dan menghancurkan perabot. Media pemerintah menyebut masjid tersebut dibakar pada 9 Januari lalu.

 

Editor: Dony Lesmana Eko Putra

Tag:  #iran #klaim #tetap #buka #jalur #komunikasi #dengan #tengah #tekanan #protes #nasional

KOMENTAR