Jepang Soroti Lintasan Tak Beraturan Rudal Korea Utara, Dinilai Ancam Keamanan Kawasan
Kementerian Pertahanan Jepang menyampaikan bahwa terdapat indikasi rudal balistik yang ditembakkan Korea Utara pada 4 Januari 2026 terbang dengan pola lintasan yang tidak biasa.
Dalam konferensi pers yang digelar sekitar pukul 10.00 waktu setempat, Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menjelaskan bahwa Korea Utara meluncurkan sedikitnya dua rudal balistik ke arah timur dari wilayah dekat pantai barat negara tersebut, antara pukul 07.00 hingga 08.00 pagi.
Kedua rudal tersebut diperkirakan jatuh di luar Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Jepang. Hingga kini, tidak ada laporan mengenai kerusakan atau dampak terhadap kapal maupun pesawat sipil.
Koizumi memaparkan, rudal pertama diluncurkan pada pukul 07.54 dengan ketinggian maksimum sekitar 50 kilometer dan jarak tempuh sekitar 900 kilometer. Sementara itu, rudal kedua ditembakkan 11 menit kemudian, tepatnya pukul 08.05, dengan ketinggian serupa dan jarak terbang sekitar 950 kilometer.
Ia menambahkan bahwa terdapat kemungkinan kedua rudal tersebut menggunakan lintasan yang tidak beraturan, dan saat ini pihak berwenang masih melakukan analisis lebih lanjut terkait karakteristik penerbangannya.
Sebagai perbandingan, Korea Utara juga melakukan peluncuran rudal balistik pada 8 Mei tahun lalu. Pemerintah Jepang saat itu menilai salah satu rudal yang diuji memiliki kesamaan dengan KN-23, yang sebelumnya diuji coba pada September 2023. Menteri Pertahanan Jepang kala itu, Gen Nakatani, menyebut bahwa Pyongyang tengah mengembangkan teknologi rudal untuk menembus sistem pertahanan misil.
Otoritas militer Korea Selatan juga mengungkapkan bahwa uji coba tersebut melibatkan kombinasi rudal KN-23, yang oleh Korea Utara disebut Hwasong-11ga atau versi lokal Iskander, serta KN-25, peluncur roket super besar berdiameter 600 milimeter.
Pemerintah Jepang mengecam keras peluncuran terbaru ini. Koizumi menegaskan bahwa rangkaian uji coba rudal Korea Utara merupakan ancaman serius bagi perdamaian dan keamanan Jepang, kawasan Asia Timur, serta komunitas internasional, sekaligus melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.
Ia juga menyatakan bahwa Jepang telah menyampaikan protes resmi kepada Korea Utara melalui jalur diplomatik di Beijing. Ke depan, Jepang akan terus memperkuat kerja sama dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan dalam pertukaran informasi, pemantauan, serta analisis situasi guna melindungi keselamatan warga negaranya.
Terkait tujuan di balik pengembangan rudal Korea Utara, Koizumi menilai Pyongyang berupaya memperkuat kemampuan pencegahan nuklir dengan mengombinasikan senjata nuklir dan rudal balistik jarak jauh, sekaligus menyiapkan respons terhadap potensi konflik bersenjata dengan Korea Selatan dan Amerika Serikat.
Peluncuran ini menjadi yang pertama dalam sekitar dua bulan terakhir, sejak November lalu, serta merupakan provokasi rudal ketiga sejak pemerintahan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menjabat, dan yang pertama pada tahun ini. (*)
Tag: #jepang #soroti #lintasan #beraturan #rudal #korea #utara #dinilai #ancam #keamanan #kawasan