Dunia Barat Kembali Bertaruh pada Energi Nuklir dengan Dana Publik di Tengah Lonjakan Kebutuhan Energi Global
- Dunia Barat kembali menempatkan energi nuklir sebagai taruhan strategis dalam kebijakan energi jangka panjang. Setelah puluhan tahun tersendat oleh biaya tinggi dan risiko finansial yang sulit diterima pasar, pemerintah di Amerika Utara dan Eropa kembali mengambil peran dominan.
Pergeseran ini didorong bukan hanya oleh agenda transisi energi rendah karbon, tetapi juga lonjakan kebutuhan listrik dari industri dan teknologi global, termasuk pusat data berskala besar yang menopang pengembangan kecerdasan buatan.
Perubahan arah tersebut menandai berakhirnya fase panjang ketika pembangunan reaktor nuklir diserahkan pada mekanisme pasar dan modal swasta. Pendekatan itu, yang dimaksudkan untuk melindungi keuangan negara, justru berujung pada minimnya reaktor baru yang benar-benar terbangun. Kini, negara kembali hadir sebagai penanggung risiko utama, dengan implikasi langsung bagi keuangan publik dan pembayar pajak.
Dilansir dari The Globe and Mail, Senin (29/12/2025), pergeseran ini tampak jelas di Kanada. Perdana Menteri Kanada Mark Carney dan kepala pemerintahan Provinsi Ontario, Doug Ford berkomitmen menyalurkan dana gabungan 3 miliar dolar Kanada (sekitar 36,8 triliun dengan kurs Rp 12.270 per dolar Kanada) untuk pembangunan pembangkit nuklir baru di Clarington, Ontario, berdekatan dengan Darlington Nuclear Generating Station. Proyek ini menandai kembalinya negara sebagai penjamin utama pembangunan reaktor nuklir di Kanada.
Namun, skala intervensi negara tersebut menjadi relatif kecil jika dibandingkan dengan kebijakan Amerika Serikat (AS). Pemerintah AS mengumumkan pembiayaan sedikitnya USD 80 miliar, setara sekitar Rp 1.340 triliun dengan kurs Rp 16.750 per dolar AS, untuk pembangunan reaktor Westinghouse di dalam negeri. Pendanaan tersebut bersumber dari pemerintah Jepang, yang juga menjanjikan tambahan hingga USD 100 miliar untuk reaktor besar serta USD 100 miliar lainnya bagi reaktor modular kecil dari GE Vernova Hitachi.
Sejalan dengan perkembangan itu, Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) mencatat penguatan dukungan kebijakan terhadap nuklir. “Energi nuklir mengalami dukungan kebijakan yang kembali menguat di banyak pasar,” tulis IEA dalam laporan November.
Meski energi surya dan angin tetap memimpin pertumbuhan pembangkit listrik di negara maju, investasi nuklir telah meningkat lebih dari 70 persen dalam lima tahun terakhir dan berpotensi memenuhi lebih dari sepersepuluh tambahan permintaan listrik dalam satu dekade ke depan.
Namun, pengalaman masa lalu menjadi pengingat serius. Reaktor besar di Darlington yang dibangun pada 1980–1990-an akhirnya menelan biaya 14,5 miliar dolar Kanada, hampir dua kali lipat dari estimasi awal 7,4 miliar dolar Kanada, dengan keterlambatan rata-rata lima tahun per unit. Akibatnya, beban utang Ontario Hydro melonjak tajam dan memicu restrukturisasi besar-besaran pada 1990-an.
Upaya mengalihkan risiko ke sektor swasta pun terbukti rapuh. Proyek Hinkley Point C di Inggris menjadi salah satu dari sedikit proyek nuklir yang lolos ketika pendanaan publik dibatasi. Proyek tersebut dibiayai tanpa dana pemerintah langsung melalui skema contracts for difference atau kontrak perbedaan harga yang memberi kepastian harga listrik bagi investor. Namun, kenaikan biaya dan keterlambatan pembangunan membuat model ini sulit direplikasi dan mengurangi minat investor.
Analis nuklir Tim Judson menilai kondisi tersebut mencerminkan realitas industri. "Industri swasta sebenarnya tidak tertarik membangun reaktor baru. Semua yang terjadi sekarang bergantung pada keputusan politik pemerintah negara bagian dan federal," ujarnya.
Di Kanada, Ontario Power Generation (OPG) menghadapi tantangan serupa. "Kami telah mencoba banyak cara untuk menggandeng investor institusional, namun belum berhasil," kata CFO OPG, Aida Cipolla. Negara akhirnya turun tangan melalui pinjaman dan penyertaan modal, dengan harapan kepemilikan tersebut dapat dilepas setelah proyek beroperasi dan risikonya menurun.
Pada akhirnya, kebangkitan kembali energi nuklir di Barat mencerminkan pilihan strategis di tengah lonjakan kebutuhan energi global dan keterbatasan investasi swasta. Namun satu hal tetap konsisten: jika pengendalian biaya dan jadwal gagal dijaga, risiko terbesar hampir pasti kembali bermuara pada publik.
Tag: #dunia #barat #kembali #bertaruh #pada #energi #nuklir #dengan #dana #publik #tengah #lonjakan #kebutuhan #energi #global