Perhatikan Variasi Menu Anak yang Susah Makan, Jangan Asal Kenyang
Ilustrasi makanan(Freepik)
17:12
29 Januari 2026

Perhatikan Variasi Menu Anak yang Susah Makan, Jangan Asal Kenyang

- Saat baru belajar makan, terkadang bayi dan balita hanya menyukai satu jenis makanan saja. Menghadapi anak yang susah makan, tak sedikit orangtua berpegang pada prinsip “yang penting anak makan” tanpa terlalu memerhatikan variasi menu.

Sering kali, orangtua memberikan makanan yang sudah diketahui bakal dimakan anak, alias “makanan yang itu-itu saja”. Padahal, variasi menu sangatlah penting.

“Variasi menu mulai dari kapan? Sedini mungkin saat mulai MPASI (makanan pendamping air susu ibu) dimulai, dari usia enam bulan ke atas,” tutur dr. Susanti Himawan, Sp.A dari Primaya Hospital Kelapa Gading, dalam wawancara daring Rabu (28/1/2026).

Baca juga: 4 Cara Mengatasi Anak Susah Makan Menurut Dokter

Variasi makanan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi

Dokter spesialis anak sekaligus konselor laktasi, dr. Susanti Himawan, Sp.A, yang berpraktik di Primaya Hospital Kelapa Gading.dok. Primaya Hospital Group Dokter spesialis anak sekaligus konselor laktasi, dr. Susanti Himawan, Sp.A, yang berpraktik di Primaya Hospital Kelapa Gading.

Anak membutuhkan variasi menu agar asupan zat gizi makro dan mikro terpenuhi, tetapi tetap dalam porsi dan komposisi yang sesuai usianya.

Pada fase ini, anak tidak hanya belajar menerima tekstur baru, tetapi juga mengenal beragam sumber nutrisi dari berbagai bahan makanan.

Makanan apapun yang bernutrisi boleh diberikan, termasuk makanan yang sering dianggap berisiko alergi, seperti makanan yang berasal dari laut alias seafood.

Baca juga: Anak Alergi Susu Sapi, Adakah Alternatif Penggantinya?

“Boleh dipaparkan. Sudah diteliti kalau memaparkan bahan-bahan makanan, termasuk yang berpotensi alergen, sejak dini itu akan memberikan outcome yang lebih baik untuk anaknya. Kalau bisa, sedini mungkin anaknya terbiasa dengan berbagai macam menu,” ujar dr. Susanti.

Kebiasaan memberi menu yang itu-itu saja, meski anak menyukainya, dinilai kurang tepat. Anak yang terbiasa dengan satu jenis makanan berisiko menolak pilihan lain alias menjadi picky eater. Karena itu, menu perlu dirotasi secara berkala.

Jika anak suka mi dan nasi, misalnya, orangtua bisa menggantinya dengan sumber karbohidrat lainnya, seperti kentang, ubi, roti gandum, kwetiaw, makaroni, atau pasta.

Baca juga: Salah Kaprah Orangtua, Menu MPASI Bukan Makanan Khusus Bayi

Ahli gizi menjelaskan, pengolahan makanan rendah kalori akan berubah menjadi tinggi kalori bila teknik mengolahnya salah. freepik.com Ahli gizi menjelaskan, pengolahan makanan rendah kalori akan berubah menjadi tinggi kalori bila teknik mengolahnya salah.

“Jangan ‘yang penting anak makan’, tapi makannya itu-itu saja. Yang harus diperhatikan juga adalah variasinya dan kualitas nutrisinya,” kata dr. Susanti.

Hal yang sama berlaku untuk sayur dan buah. Variasi warna sayuran menjadi salah satu cara sederhana memastikan anak memperoleh beragam mikronutrisi.

“Misalnya hanya makan wortel melulu setiap hari. Itu juga enggak bagus. Tetap variasi warna sayuran, misalnya sayuran hijau, oranye, kuning, merah. Dirotasi. Begitu juga dengan buah-buahan,” lanjut dia.

Dengan merotasi menu, anak tidak hanya belajar menerima rasa yang berbeda, tetapi juga memperoleh kombinasi vitamin dan mineral yang tidak bisa dipenuhi dari satu jenis bahan makanan saja.

Baca juga: Jangan Lupakan Kebutuhan Serat dalam Menu MPASI Anak

Terkadang, upaya memberi variasi makanan dihadapkan pada reaksi alergi. Orangtua kerap bingung kapan boleh mencoba kembali makanan yang sempat memicu keluhan.

Penanganan alergi harus melibatkan dokter anak karena spektrum reaksinya sangat luas, mulai dari ringan, sedang, sampai berat dan bisa mengancam nyawa.

“Reaksi alergi berat atau sedang misalnya ada bengkak di mata, bengkak di bibir. Apalagi sampai sesak napas, sebaiknya (makanan) tidak diberikan,” kata dr. Susanti.

Jika ingin dipaparkan kembali, alias desensitisasi untuk membuat tubuh kebal pada makanan pemicu reaksi alergi itu, orangtua harus melakukannya di bawah pengawasan dokter anak.

“Kalau alerginya ringan, hanya sekadar biduran, gatal-gatal di kulit, kalau memang mau memaparkannya lagi boleh saja, tapi dengan pengawasan dokter anak juga,” terang dr. Susanti.

Baca juga: Gejala Alergi Gluten yang Harus Diwaspadai, Tak Cuma Perut Kembung

Dosis paparan tidak bisa disamaratakan

Memaparkan kembali makanan pemicu reaksi alergi, perlu dilakukan sedikit demi sedikit. Namun, pengertian sedikit pada setiap orang berbeda-beda.

Untuk memastikan ukuran dan jumlah makanan pemicu reaksi alergi, dr. Susanti mengimbau agar orangtua langsung berkonsultasi dengan dokter guna memastikan kesehatan sang buah hati.

“Kadar sedikit banyak di setiap orang itu berbeda. Ada yang dikasih satu sendok sudah biduran parah, ada yang dikasih 10 sendok baru mulai biduran. Toleransi setiap orang berbeda, jadi memang harus dikonsultasikan secara personal,” tutur dia.

Baca juga: Stres Orangtua Pengaruhi Penyerapan Nutrisi Anak saat MPASI

Tag:  #perhatikan #variasi #menu #anak #yang #susah #makan #jangan #asal #kenyang

KOMENTAR