Prasasti Economic Forum 2026: Ekonomi Indonesia Perlu Keluar dari Gejala Inersia
Burhanuddin Abdullah, Board of Advisors Prasasti Center for Policy Studies, menyoroti bahwa tantangan utama ekonomi Indonesia bukan semata menjaga pertumbuhan, melainkan kemampuan untuk keluar dari pola lama dan memanfaatkan momentum secara lebih strategis. Hal ini disampaikannya dalam pidato pembukaan Prasasti Economic Forum 2026 di Jakarta (29/1/2026). (DOK. PRASASTI CENTER)
18:44
29 Januari 2026

Prasasti Economic Forum 2026: Ekonomi Indonesia Perlu Keluar dari Gejala Inersia

– Perekonomian Indonesia dinilai berada dalam kondisi stabil, tetapi menghadapi tantangan struktural yang membuat laju pertumbuhan sulit dipercepat.

Situasi ini menjadi sorotan dalam Prasasti Economic Forum 2026 yang digelar di Jakarta, Rabu (29/1/2026), di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat.

Ekonomi Indonesia menunjukkan gejala inersia, yaitu kecenderungan untuk bertahan pada pola lama. Kita berhasil menjaga stabilitas, tetapi belum cukup kuat mendorong lompatan produktivitas,” ujar Board of Advisors Prasasti Center for Policy Studies, Burhanuddin Abdullah, dalam forum tersebut di Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Baca juga: Indonesia Economic Summit 2026 Dibidik Jadi Ruang Temu Reformasi Ekonomi RI Bakal Bahas Pemikiran Global untuk Katalis Pertumbuhan Ekonomi

Tantangan Struktural di Balik Stabilitas

Burhanuddin mengapresiasi capaian Indonesia yang mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen selama lebih dari satu dekade. Namun, menurut dia, capaian tersebut sekaligus mencerminkan keterbatasan kemampuan ekonomi nasional untuk berakselerasi ke tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi.

Ia menilai tantangan utama perekonomian nasional saat ini tidak semata bersifat siklis, melainkan struktural. Oleh karena itu, diperlukan keberanian dalam perumusan kebijakan, penguatan kelembagaan, serta peningkatan kualitas koordinasi lintas sektor.

Menurut Burhanuddin, kepercayaan terhadap institusi dan konsistensi arah kebijakan menjadi fondasi penting untuk mendorong investasi, inovasi, serta keberanian mengambil risiko produktif di sektor riil.

Sejalan dengan itu, Executive Director Prasasti, Nila Marita, menegaskan bahwa Prasasti berperan sebagai platform kolaboratif yang mempertemukan perspektif pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dalam mendukung kebijakan publik yang inklusif dan berorientasi ke depan.

“Sebagai think tank, Prasasti berpegang pada tiga pendekatan utama, yakni rekomendasi berbasis data, kolaboratif, dan berorientasi solusi,” ujar Nila dalam kesempatan yang sama.

Baca juga: Lembaga Riset Independen Prasasti Center Lahir di Jakarta, Siap Kawal Arah Kebijakan Ekonomi Indonesia

Proyeksi Pertumbuhan dan Peran Investasi

Dalam forum tersebut, Research Director Prasasti, Gundy Cahyadi, memaparkan proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2026 yang diperkirakan berada di kisaran 5,0 hingga 5,3 persen.

Proyeksi tersebut, menurut Gundy, ditopang oleh sejumlah faktor utama. Pertama, konsumsi domestik yang diperkirakan membaik seiring stabilisasi kepercayaan konsumen, meskipun ruang akselerasinya masih terbatas. Kedua, kualitas dan efektivitas eksekusi fiskal di tengah ruang penerimaan negara yang relatif sempit.

Faktor lain yang perlu dicermati adalah dinamika nilai tukar rupiah. “Pelemahan rupiah di satu sisi dapat memberikan dorongan terhadap kinerja ekspor, namun pada saat yang sama berpotensi menahan laju investasi, khususnya pada sektor-sektor yang bergantung pada impor barang modal,” kata Gundy.

Dalam konteks tersebut, Prasasti menekankan pentingnya penguatan investasi sebagai mesin pertumbuhan jangka menengah dan panjang, disertai percepatan transformasi struktural untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas ekonomi nasional.

Melalui Prasasti Economic Forum 2026, Prasasti berharap dapat terus berkontribusi dalam navigasi arah perekonomian Indonesia menuju pertumbuhan yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.

Tag:  #prasasti #economic #forum #2026 #ekonomi #indonesia #perlu #keluar #dari #gejala #inersia

KOMENTAR